Keracunan MBG

Penyebab Keracunan MBG 500 Siswa di Klaten, Terbaru Ada Lagi 252 Siswa Keracunan di Cakung

Ratusan siswa, sejumlah guru yang juga kebagian manyantap MBG ikut mengalami keracunan.

Tayang:
Editor: Salomo Tarigan
TRIBUN MEDAN/AI/wartakota
Ilustrasi/Keracunan MBG 

TRIBUN-MEDAN.com - Dinas Kesehatan mengungkap penyebab keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) 500 SMPN 1 Tulung di Klaten, Jawa Tengah.

Diketahui, di antara ratusan siswa, sejumlah guru yang juga kebagian manyantap MBG ikut mengalami keracunan.

Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan sampel air yang digunakan di SPPG positif mengandung bakteri Escherichia coli atau E coli.

Kabar terkini, Badan Gizi Nasional (BGN) menjatuhkan sanksi suspend atau penghentian sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Sanksi tersebut diberikan setelah ratusan siswa SMPN 1 Tulung mengalami keracunan usai menyantap program Makan Bergizi Gratis (MBG).

 “Untuk kasus Tulung sudah kami investigasi dan sudah selesai. SPPG disuspend (diberhentikan operasional),” kata Koordinator Wilayah BGN Kabupaten Klaten, Yoga Angga Pratama, saat dikonfirmasi Kompas.com melalui pesan singkat, Minggu (10/5/2026).
 

 Yoga mengatakan, operasional SPPG baru dapat dibuka kembali setelah memenuhi persyaratan dari BGN. 

“Diberikan waktu untuk memenuhi persyaratan BGN untuk dapat operasional kembali,” ujar dia. 

Menurut Yoga, hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan sampel air yang digunakan di SPPG positif mengandung bakteri Escherichia coli atau E coli. 

“Dikarenakan hasil lab pasca keracunan terdapat hasil positif bakteri E coli maka perlu evaluasi pengecekan sampel air yang digunakan SPPG, pembenahan bangunan infrastruktur SPPG, dan evaluasi relawan SPPG,” kata Yoga. 

Ia menegaskan selama masa suspend, pihak mitra pengelola SPPG tidak akan menerima insentif dari BGN.

“Mitra (SPPG) tidak mendapatkan insentif selama masa suspend,” tegasnya. 

Baca juga: 1.720 SPPG Ditutup Sementara tapi Tetap Dapat Insentif Rp6 Juta per Hari, Ini Penjelasan Dadan

Sampel Makanan Positif Bacillus sp 

Sebelumnya, Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten telah memeriksa sampel makanan yang diduga menyebabkan keracunan massal tersebut. 

Sampel makanan dikirim ke Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi (Balabkes) Yogyakarta untuk diuji. 

“Dari hasil pemeriksaan sampel yang kami kirim ke Balabkes Jogja, baik telur puyuh, galantin maupun kuah timlo semuanya positif Bacillus sp,” kata Kepala Dinkes Kabupaten Klaten, Anggit Budiarto, Rabu (6/5/2026). 

Menurut Anggit, Bacillus sp merupakan bakteri yang dapat tumbuh di bahan makanan dan membentuk spora. 

“Dugaan kami terkait dengan yang terjadi di Tulung kemarin adalah disebabkan karena dari itu (bakteri Bacillus sp),” ujar dia. 

Anggit menambahkan, seluruh siswa yang sempat menjalani perawatan akibat keracunan kini sudah dipulangkan. 

“Semuanya sudah pulang ke rumah dalam kondisi yang baik,” kata Anggit. 

252 Siswa Keracunan

Kasus dugaan keracunan usai menyantap program Makanan Bergizi Gratis (MBG) mengguncang sejumlah sekolah dasar di Jakarta Timur.

Hingga Sabtu (9/5/2026), puluhan siswa masih menjalani perawatan di berbagai rumah sakit, termasuk di wilayah Kota Bekasi.

Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat total 252 siswa melaporkan gejala diduga keracunan setelah mengonsumsi menu MBG pada Jumat (8/5/2026).

 Dari jumlah tersebut, 188 siswa sempat mengakses fasilitas kesehatan dan 26 anak masih menjalani perawatan intensif di sejumlah rumah sakit.

Sebanyak 15 siswa di antaranya kini dirawat di dua rumah sakit di Kota Bekasi, yakni RS Citra Harapan dan RS Ananda.

Belasan Siswa Dirawat di Kota Bekasi

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, mengatakan para siswa dirujuk ke sejumlah rumah sakit setelah mengalami keluhan kesehatan usai menyantap menu MBG di sekolah.

“Seluruh pasien dirawat di ruang rawat inap biasa,” ujar Ani, Sabtu (9/5/2026).

Adapun rincian rumah sakit tempat para siswa dirawat yakni:

  • RS Citra Harapan Bekasi: 12 pasien
  • RS Ananda Bekasi: 3 pasien
  • RSI Pondok Kopi: 2 pasien
  • RS Resti Mulya: 2 pasien
  • RS Firdaus: 4 pasien
  • RSI Sukapura: 2 pasien
  • RS Pekerja: 1 pasien

Pihak Dinkes DKI Jakarta memastikan kondisi para siswa terus dipantau oleh tim medis.

Bermula dari Menu MBG di Tiga SD

Kasus dugaan keracunan ini diduga bermula setelah para siswa menyantap menu MBG yang dibagikan di tiga sekolah dasar di kawasan Cakung, Jakarta Timur.

Ketiga sekolah tersebut yakni:

  • SDN Cakung Timur 01
  • SDN Ujung Menteng 02
  • SDN Ujung Menteng 03

Menu makanan yang disajikan saat itu terdiri dari bakmi Jawa, pangsit tahu, semangka, kecambah rebus, timun, dan tomat.

Namun, sejumlah siswa mengeluhkan kondisi makanan, khususnya pada menu pangsit isi tahu yang disebut memiliki rasa tidak normal.

“Diduga dari pangsit isi tahu, karena rasanya masam. Pemeriksaan laboratorium baru keluar paling cepat Selasa depan,” kata Ani.

Keluhan yang muncul didominasi gejala mual, muntah, sakit perut, hingga lemas setelah para siswa pulang sekolah.

Orangtua Panik, Pemeriksaan Masih Berlangsung

Insiden ini memicu kepanikan di kalangan orangtua murid.

Banyak wali murid langsung membawa anak-anak mereka ke puskesmas dan rumah sakit setelah kondisi kesehatan memburuk.

Dinas Kesehatan DKI Jakarta bersama Dinas Pendidikan kini masih melakukan investigasi untuk memastikan penyebab pasti dugaan keracunan massal tersebut.

Sampel makanan juga telah diperiksa di laboratorium guna mengetahui apakah terdapat kontaminasi bakteri atau masalah dalam proses pengolahan makanan.

SPPG Pulogebang Jadi Sorotan

Di tengah penyelidikan, Dinas Kesehatan DKI Jakarta turut menyoroti operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di kawasan Pulogebang, Jakarta Timur, yang diduga menjadi penyedia makanan MBG tersebut.

Ani menjelaskan pihaknya telah melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap SPPG tersebut melalui inspeksi kesehatan lingkungan serta pelatihan kepada para penjamah makanan.

“IKL sudah dilakukan dan saat ini SPPG dalam proses perbaikan dan pelatihan bagi penjamah makanannya,” jelas Ani.

Menurutnya, SPPG tersebut baru mulai beroperasi sejak 31 Maret 2026 dan masih dalam masa pemenuhan persyaratan administrasi kesehatan.

Berdasarkan aturan Badan Gizi Nasional (BGN), penyelenggara masih diberikan waktu tiga bulan untuk melengkapi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

Namun, kasus ini memunculkan kekhawatiran publik terkait kesiapan sistem distribusi dan pengawasan program MBG yang menyasar anak-anak sekolah.

Program MBG Disorot Publik

Program Makanan Bergizi Gratis sebelumnya digadang-gadang sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kualitas gizi anak Indonesia.

Namun insiden dugaan keracunan massal ini menjadi pukulan serius terhadap kepercayaan masyarakat, terutama terkait standar keamanan pangan yang diterapkan.

Banyak pihak mendesak evaluasi menyeluruh dilakukan agar kasus serupa tidak kembali terjadi, mengingat sasaran program adalah anak-anak usia sekolah yang rentan terhadap dampak keracunan makanan.

Pemerintah diminta memperketat pengawasan distribusi makanan, kualitas bahan baku, hingga kebersihan proses produksi agar program sosial tersebut benar-benar memberi manfaat, bukan justru membahayakan kesehatan siswa.

Baca juga: Jadi Sorotan Pembubaran Nobar Pesta Babi oleh Aparat TNI, LBH: Melanggar Kebebasan Berekspresi

(*/tribunmedan.com)

Sumber: wartakota/ Kompas.com

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved