Berita Viral
Doktrin Kiai Ashari Rayu Santriwati di Pati, Para Korban Tak Berdaya: Lawan Guru Berarti Lawan Tuhan
Modus tersebut disebut dilakukan agar korban menuruti keinginan pelaku tanpa berani melawan.
TRIBUN-MEDAN.com - Kedok Ashari, pengasuh Pondok Pesantren Ndhoro Kusumo di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, akhirnya mulai terungkap ke publik.
Di balik sosoknya sebagai pemimpin pesantren, Ashari diduga menggunakan doktrin agama dan ancaman spiritual untuk memanipulasi para santriwati.
Modus tersebut disebut dilakukan agar korban menuruti keinginan pelaku tanpa berani melawan.
Salah satu orang tua korban berinisial H mengungkapkan, pelaku menanamkan doktrin ketaatan mutlak kepada para santri sejak tahun 2020 hingga 2024.
Para korban disebut dipaksa percaya bahwa menolak perintah seorang guru atau kiai merupakan tindakan melawan Tuhan.
Menurut H, anak-anak dibuat takut dengan keyakinan bahwa membantah pelaku akan dianggap sebagai dosa besar.
Tidak hanya itu, Ashari juga diduga menggunakan narasi mistis untuk membenarkan tindakan tidak pantas yang dilakukannya.
Kepada para santri, pelaku disebut mengklaim bahwa seluruh tindakannya berasal dari “perintah alam gaib” sehingga harus dipatuhi meski mengarah pada hal negatif.
Dugaan manipulasi psikologis dan spiritual tersebut kini menjadi perhatian serius dalam pengusutan kasus pencabulan yang menyeret nama pengasuh pesantren itu.
Polisi pun masih terus mendalami keterangan para korban dan saksi guna mengungkap seluruh rangkaian peristiwa yang terjadi di lingkungan ponpes tersebut.
Doktrin "Lawan Guru Berarti Lawan Tuhan"
Berdasarkan pengakuan anaknya dan para santri lain, pelaku menanamkan rasa takut yang luar biasa melalui doktrin ketaatan buta.
Korban dipaksa percaya bahwa menolak kemauan pelaku adalah dosa besar.
“Anak-anak didoktrin kalau apa pun yang dilakukan kiai harus dituruti. Kalau murid berani melawan guru, berarti melawan Allah,” ujar H saat memberikan keterangan di Semarang, Jumat (8/5/2026).
Tak hanya itu, Ashari menggunakan narasi mistis untuk melegitimasi tindakannya.
Pelaku menyebut bahwa perlakuan tidak wajar tersebut merupakan instruksi dari alam lain.
“Katanya apa yang dilakukan kiai itu dari alam gaib, jadi murid harus nurut walaupun arahnya negatif,” tambahnya.
Ancaman "Putus Ilmu" agar Korban Tak Melawan
Siasat licik lainnya adalah ancaman psikologis mengenai masa depan pendidikan para santri.
Jika ada santri yang berontak, pelaku menakut-nakuti mereka dengan memutus keberkahan ilmu yang sedang dipelajari.
“Kalau tidak manut, katanya jalur ilmunya diputus. Anak-anak jadi takut,” kata H.
Kombinasi antara rasa takut dianggap melawan Tuhan dan kekhawatiran ilmunya tidak bermanfaat membuat para korban terperangkap dalam diam selama bertahun-tahun.
H menyebut secara logika anak-anak ingin berontak, namun mental mereka sudah terkunci oleh doktrin tersebut.
“Secara normal anak-anak pasti berontak. Tapi karena sudah takut dan didoktrin terus, akhirnya nurut,” jelasnya.
Ayah Korban Diintimidasi dan Diancam Lapor Balik
Keberanian H melaporkan kasus ini ke Polres Pati pada 2024 ternyata berbuntut panjang.
Bukan mendapat dukungan, ia justru mendapatkan tekanan hebat dari pihak yang mengaku keluarga pelaku.
Sekitar satu hingga dua bulan setelah melapor, rumah H didatangi orang-orang yang memaksanya mencabut berkas laporan. Ia bahkan diancam akan dikriminalisasi balik.
“Ancaman itu laporan saya akan dipatahkan dan saya akan dituntut balik. Bahkan ada surat yang intinya meminta saya mencabut laporan,” ungkap H.
Namun, intimidasi tersebut tidak menyurutkan langkahnya.
H menegaskan bahwa perjuangannya bukan lagi sekadar soal keluarga, melainkan keselamatan generasi mendatang di pesantren tersebut.
“Saya jawab, saya tidak akan cabut laporan sampai kapan pun. Tujuan saya bukan untuk diri sendiri atau anak saya saja, tapi untuk menyelamatkan anak-anak lain,” tegasnya.
Investigasi Mandiri Sang Ayah
Aksi nekat H ini bermula dari kecurigaan setelah mendengar cerita anaknya yang baru lulus.
Sebelum melapor, H secara diam-diam mendatangi rumah teman-teman anaknya satu per satu untuk mengumpulkan bukti.
“Ada delapan anak atau lebih yang saya datangi untuk klarifikasi. Ternyata keterangannya cocok semua dengan yang disampaikan anak saya,” tuturnya.
Meski sempat merasa proses hukum berjalan lambat sejak laporannya masuk tahun 2024, kini H didampingi tim hukum baru untuk memastikan kasus ini tuntas.
“Kalau ada teror atau ancaman, saya tidak hiraukan. Saya rasa ini demi perjuangan dan kebenaran,” pungkasnya.
Artikel sudah tayang di Kompas.com
(*/ Tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
Tribun-medan.com
santriwati
Kiai Ashari
pencabulan
Berita Viral
Pesantren Ndhoro Kusumo
Pati
Doktrin Kiai Ashari Rayu Santriwati
| Situasi Perang AS-Iran Makin Panas, Proposal Damai yang Dikirim Donald Trump Belum Terjawab |
|
|---|
| Rencana Gus Ipul di Balik Kasus Pencabulan Santriwati di Pati, Janji akan Dampingi Pemulihan Korban |
|
|---|
| Ternyata Kasus Kiai Ashari Sejak 2024 Dilaporkan, Ayah Korban Sempat Diintimidasi Keluarga Pelaku |
|
|---|
| AHMAD Dedi Klarifikasi Usai Aksi Lari Terbirit-birit Hindari Kejaran Wartawan Usai Diperiksa KPK |
|
|---|
| SETAHUN Diculik dan Disekap Pacar Anaknya di Surabaya, Kakek KC Habis Rp2 Miliar dan Emas 1 Kg |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/KELAKUAN-Kiai-Cabul-di-Pati-Dibongkar-Santriwati-Diajak-Tidur-Bereng-Untuk-Sembuhkan-Penyakit-Iri.jpg)