Berita Internasional

Kemacetan di Laut, Kondisi Selat Hormuz Dibuka Jika Kesepakatan Damai Iran-AS Tercapai

Menurutnya, diperlukan mekanisme perlindungan militer serta kepastian bahwa perairan bebas dari ranjau dan ancaman serangan.

Tayang:
TRIBUN MEDAN/WIKIMEDIA COMMONS
Pada 2 April 2026, kapal kontainer CMA CGM Kribi milik Prancis berhasil melintasi Selat Hormuz. Menurut data pelacakan MarineTraffic, kapal tersebut meninggalkan Teluk dan berlayar menuju lepas pantai Muscat, Oman, sehari kemudian. 

TRIBUN-MEDAN.com - Terhambatnya lalu lintas di Selat Hormuz diperkirakan tetap berdampak panjang meski Amerika Serikat dan Iran disebut semakin dekat mencapai kesepakatan awal untuk meredakan konflik di Timur Tengah.

Laporan NBC News menyebut pengiriman melalui jalur vital perdagangan energi dunia itu masih terhenti dan belum akan sepenuhnya normal sampai tercipta stabilitas jangka panjang di kawasan.

Pakar keamanan maritim, Christian Bueger, mengatakan kesepakatan apa pun antara AS dan Iran harus mencakup jaminan keamanan terhadap kapal sipil.

Menurutnya, diperlukan mekanisme perlindungan militer serta kepastian bahwa perairan bebas dari ranjau dan ancaman serangan.

“Yang kita butuhkan adalah kesepakatan jangka panjang tentang bagaimana keamanan maritim di selat ini akan diatur,” ujarnya, dilansir dari Kompas.com.

Meski sebagian perusahaan pelayaran kemungkinan segera kembali melintas setelah kesepakatan diumumkan, pemulihan penuh lalu lintas kapal diprediksi berlangsung bertahap.

Bueger menilai, kondisi bisa memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun karena perusahaan pelayaran harus menghitung ulang risiko keamanan sebelum kembali beroperasi normal.

Sementara itu, perusahaan pelayaran asal Jerman, Hapag-Lloyd, memperingatkan bahwa pembukaan Selat Hormuz justru berpotensi memicu kemacetan baru akibat lonjakan kapal yang masuk secara bersamaan ke pelabuhan-pelabuhan utama di kawasan Teluk Persia.

Direktur senior komunikasi korporat Hapag-Lloyd, Nils Haupt, menyebut ratusan kapal kemungkinan akan berebut akses pelabuhan sehingga rantai pasok global tetap terganggu.

Hal senada disampaikan Direktur Norwegian Shipowners’ Mutual War Risks Association, Svein Ringbakken.

Ia mengatakan penumpukan minyak, gas, dan barang logistik yang tertahan selama konflik tidak mudah diselesaikan dalam waktu singkat.

Menurutnya, kerusakan infrastruktur energi dan transportasi di Timur Tengah membuat pemulihan distribusi global semakin kompleks.

Sebelumnya, Iran menutup efektif Selat Hormuz sebagai respons atas serangan gabungan AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari 2026.

Ketegangan meningkat setelah Washington memberlakukan blokade militer terhadap kapal yang menuju maupun keluar dari pelabuhan Iran pada 13 April lalu.

International Maritime Organization memperkirakan sekitar 2.000 kapal dengan lebih dari 20.000 awak tertahan di sekitar Teluk dekat Selat Hormuz.

Kapal-kapal itu terdiri dari tanker minyak dan gas, kapal kargo, kapal curah, hingga kapal pesiar.

Iran Siapkan Layanan Maritim

Iran mengatakan bahwa pelabuhan-pelabuhan Teheran siap untuk menyediakan layanan maritim, dukungan teknis, pasokan, dan bantuan medis kepada kapal-kapal yang terdampar di Hormuz dan perairan teritorial regional.

Pernyataan itu disampaikan melalui pesan Organisasi Pelabuhan dan Maritim Iran kepada para kapten kapal komersial yang beroperasi di perairan regional Teluk, Kamis (7/5/2026) dilansir Anadolu.

Itu berlaku untuk semua kapal yang berlayar di perairan teritorial, khususnya yang berada di perairan dan pelabuhan Iran.

Mereka dapat memperoleh manfaat dari layanan pasokan, penyediaan bahan bakar, layanan kesehatan dan medis, serta material perawatan jika diperlukan.

Organisasi itu menyampaikan pesan akan disiarkan melalui jaringan komunikasi maritim dan sistem frekuensi sangat tinggi (VHF) di wilayah tersebut tiga kali sehari selama tiga hari.

Pengumuman tersebut muncul di tengah ketegangan yang terus berlanjut di Selat Hormuz antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Dikutip dari Al Jazeera, Senin (4/5/2026), Organisasi Maritim Internasional (IMO) memperkirakan bahwa sekitar 2.000 kapal tertahan di Teluk dekat Selat Hormuz yang berisi hingga 20.000 pelaut.

Kapal-kapal tersebut termasuk kapal tanker minyak dan gas, kapal kargo, kapal pengangkut curah, hingga kapal pesiar.

Sejak konflik dimulai, IMO telah mencatat setidaknya 19 serangan terhadap kapal, menewaskan 10 pelaut dan melukai delapan lainnya.

Organisasi tersebut memperingatkan bahwa banyak kapal kekurangan makanan, bahan bakar, dan air secara kritis.

Mereka telah menyerukan kepada semua pihak untuk meredakan ketegangan agar awak kapal dapat dievakuasi dengan aman.

Namun, sejak AS memblokade aktivitas lalu lintas maritim Iran pada 13 April 2026, ketegangan di kawasan tersebut semakin meningkat.

Namun, baru-baru ini Washington dan Teheran dilaporkan semakin dekat mencapai kesepakatan awal berupa memorandum singkat untuk mengakhiri konflik.

Saat ini, Iran dikabarkan tengah meninjau proposal baru AS yang bertujuan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.

(*/ Tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved