Berita Viral

Curhat Terakhir Dokter Myta yang Meninggal Dunia di Palembang, Keluarga Dukung Investigasi Kemenkes

Kini keluarga besar sang dokter menyatakan mendukung dan menyerahkan sepenuhnya hasil investigasi

Tayang: | Diperbarui:
IST/Dok Pribadi
SEMPAT KRITIS - Kabar meninggalnya dr Myta Aprilia Azmy, dokter internship yang sebelumnya dirawat kritis di ICU RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang (RSMH), santer beredar di media sosial sejak Jumat (1/5/2026). Informasi tersebut ramai diperbincangkan warganet dan memicu berbagai reaksi, termasuk dorongan agar kasus yang menimpa dr Myta diusut tuntas. 

TRIBUN-MEDAN.com - Curhat terakhir  Myta Aprilia Azmy, dokter yang meninggal dunia di ICU RSUP Dr Mohammad Hoesin, Jumat (1/5/2026).

Dokter Myta sempat mencurahkan isi hatinya tentang jadwal yang padat saat bertugas di Jambi.

Kini keluarga besar sang dokter menyatakan mendukung dan menyerahkan sepenuhnya hasil investigasi kepada Kementerian Kesehatan Republik Indonesia terkait penyebab kematian almarhumah.

Hal ini disampaikan paman almarhumah, dr Febri, saat podcast bersama Tribunsumsel.com dan Sripoku.com, Sabtu (2/5/2026).

“Memang ada dugaan beban kerja berat ataupun faktor lain, namun kami belum mendapatkan data secara lengkap. Saat ini kami masih dalam suasana duka, dan Myta baru dimakamkan pukul 10.00 WIB tadi,” ujar dr Febri.

Ia menambahkan, pihak keluarga juga belum banyak berdiskusi dengan rekan sesama dokter internship yang hadir dari Kuala Tungkal, Jambi.

“Dari Kemenkes juga akan melakukan investigasi di Muara Tungkal pada Senin besok,” katanya.

Menurutnya, keluarga belum dapat menyimpulkan penyebab pasti karena keterbatasan data.

“Kami mengucapkan terima kasih atas respons cepat dari senior, sahabat, serta IKA FK Unsri yang telah mendukung keponakan kami. Apa pun hasilnya, kami serahkan sepenuhnya kepada IKA FK dan Kemenkes,” jelasnya.

Keluarga juga berharap kejadian serupa tidak terulang.

“Kami berharap ke depan tidak ada lagi ‘Myta kedua’. Ini sudah keempat kalinya dokter internship meninggal di tempat tugas,” ujarnya.

Kondisi Kesehatan Sebelum Bertugas

dr Febri menyebut, sebelum menjalani penugasan di RSUD Kuala Tungkal, kondisi Myta dalam keadaan sehat dan telah melalui proses seleksi serta skrining medis.

“Tidak ada riwayat penyakit paru, hasil rontgen dan laboratorium juga baik, sehingga dinyatakan layak mengikuti program internship,” katanya.

Selama bertugas, Myta disebut sempat mengeluhkan padatnya jadwal jaga, namun tidak secara rinci.

“Dia hanya sempat bercerita bahwa jadwal jaga cukup padat. Kami tidak mendalami lebih lanjut karena menganggap itu bagian dari pengabdian,” ujarnya.

Kronologi Sakit hingga Wafat

Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, Myta sempat mengalami sesak napas, demam, dan batuk saat bertugas di Kuala Tungkal.

Ia sempat menjalani perawatan di rumah sakit setempat dan kondisinya sempat membaik. Namun, satu minggu kemudian, gejala kembali kambuh.

“Saturasi oksigen sempat turun di bawah 90 persen, bahkan hingga 80 persen. Ia kemudian disarankan berobat ke rumah sakit di Jambi,” jelasnya.

Karena disarankan beristirahat, Myta sempat dibawa ke OKU Selatan. Namun kondisinya kembali memburuk dengan saturasi oksigen turun hingga 75–80 persen.

Akhirnya, Myta dirujuk ke RSUP Dr Mohammad Hoesin dan dirawat di ICU.

“Saat masuk ICU, kondisi sudah sangat berat, dengan saturasi di bawah 70 persen dan harus menggunakan ventilator,” ujarnya.

Setelah menjalani perawatan selama tiga hari, Myta dinyatakan meninggal dunia pada 1 Mei 2026 pukul 11.20 WIB.

Desakan Audit dan Investigasi

Sebelumnya, IKA FK Unsri mendesak Kemenkes RI untuk melakukan audit terhadap RSUD K.H. Daud Arif, tempat Myta menjalani program internship.

Dalam surat resmi tertanggal 30 April 2026, IKA FK Unsri mengungkap adanya dugaan beban kerja berat tanpa jeda istirahat yang memadai.

“dr Myta telah melaporkan gejala sakit, namun tetap dijadwalkan jaga malam dalam kondisi sesak napas dan demam tinggi,” tulis pernyataan tersebut.

IKA FK Unsri juga menyoroti dugaan minimnya supervisi, keterbatasan fasilitas, hingga adanya indikasi tekanan untuk menutup informasi.

Atas hal itu, mereka mendesak Kemenkes melakukan audit menyeluruh dan membuka kemungkinan langkah hukum jika ditemukan unsur kelalaian.

“Kami memastikan tidak boleh ada intimidasi atau sanksi terhadap dokter internship,” tegas mereka.

Artikel sudah tayang di Tribun Sumsel

(*/ Tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

Sumber: Tribun Sumsel
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved