Berita Viral

PERMINTAAN Terakhir Mia Citra, Dirawat Usai Tabrakan Kereta Bekasi Kini Meninggal, Disuapi Ibu

Sebelum menghembuskan napas terakhir, Mia sempat meminta disuapi bubur sumsum oleh ibunya.

Tayang:
TikTok/Putrie Ramadhanie | Warta Kota/Rendy Rutama
PERMINTAAN TERAKHIR - Mia Citra menjadi korban meninggal ke-16 dalam insiden KRL di Stasiun Bekasi Timur. Ia sempat dirawat dan minta bubur sumsum ke orangtuanya. 

TRIBUN-MEDAN.com - Inilah permintaan terakhir Mia Citra sebelum meninggal. 

Mia merupakan korban tabrakan kereta di Bekasi yang sempat dirawat.

Saat menjalani perawatan selama 2 hari, kondisi Mia sempat membaik.

Baca juga: Diancam Noel Gugat Rp 300 Triliun, KPK Minta Fokus Di Persidangan, Disampaikan Lewat Bukti

Ia pun sudah lancar berkomunikasi dengan kedua orang tuanya.

Namun pilu, kondisi Mia mendadak menurun dan akhirnya meninggal.

Sebelum meninggal, Mia pun sempat disuapi sang ibu.

Bertambah lagi daftar korban meninggal tabrakan kereta KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026).

Baca juga: Resep Bakso Sayur, Alternatif Asupan Sayur untuk Anak di Rumah

Sosok Mia Citra, korban yang sempat selamat dan dirawat di rumah sakit menghembuskan nafas terakhirnya pada Rabu (29/4/2026).

Mia Citra merupakan wanita berusia 27 tahun, warga Perumahan Mangun Jaya Lestari 2, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.

Sehari-hari, Mia bekerja di Jakarta Timur dan selalu menggunakan KRL untuk pulang pergi.

TABRAKAN KERETA - Adik korban kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL tujuan Jakarta–Cikarang di Stasiun Bekasi Timur mengurai curhatan pilu soal kakaknya. Ibu muda yang jadi korban tewas kecelakaan kereta itu baru hari pertama kerja setelah cuti lahiran.
TABRAKAN KERETA - Adik korban kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL tujuan Jakarta–Cikarang di Stasiun Bekasi Timur mengurai curhatan pilu soal kakaknya. Ibu muda yang jadi korban tewas kecelakaan kereta itu baru hari pertama kerja setelah cuti lahiran. (IST)

Melansir Kompas.com, Mia merupakan satu dari tiga korban yang paling terakhir dievakuasi.

Ia dievakuasi pada Selasa (28/4/2026) pagi, setelah terjepit di dalam gerbong selama lebih kurang 10 jam.

Setelah dievakuasi dalam kondisi selamat, Mia menjalani perawatan intensif di ruang ICU Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bekasi.

Kondisinya sempat membaik. Ia bahkan bisa berbincang dengan kedua orang tuanya, Rabu pagi.

Baca juga: Sertu MB Melarikan Diri saat Diperiksa Kasus Dugaan Kekerasan Seksual Terhadap Bocah SD

Sebelum menghembuskan napas terakhir, Mia sempat meminta disuapi bubur sumsum oleh ibunya.

Ternyata itu menjadi permintaan terakhir Mia kepada orang tuanya.

"Terakhir cuma ngomong 'pak minta bubur', dia (Mia) minta bubur sumsum," kata Muhammad Hamid, ayah Mia, mengenang percakapan terakhir dengan putrinya, dilansir Wartakotalive.com.

Hamid menjelaskan, selama dua hari menjalani perawatan, Mia masih lancar berkomunikasi.

PERMINTAAN Terakhir Mia Citra, Dirawat Usai Tabrakan Kereta Bekasi Kini Meninggal, Disuapi Ibu
PERMINTAAN TERAKHIR - Mia Citra menjadi korban meninggal ke-16 dalam insiden KRL di Stasiun Bekasi Timur. Ia sempat dirawat dan minta bubur sumsum ke orangtuanya.

Namun, kondisinya menurun pada Rabu sekira pukul 08.30 WIB.

Keadannya kian melemah hingga akhirnya menghembuskan napas terakhir.

Keluarga yang setia mendampingi, mengaku ikhlas dengan kepergian Mia untuk selamanya.

"Kami ikhlas,” ucap Hamid dengan suara lirih.

Permintaan DPR RI usai Tabrakan Kereta di Bekasi

Komisi V DPR RI menyoroti insiden kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur yang terjadi pada Senin (27/4/2026) malam.

Peristiwa ini melibatkan kereta Commuter Line PLB 5568A relasi Cikarang dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi.

Update terakhir korban jiwa hingga mencapai 16 orang.

Investigasi Menyeluruh

Anggota Komisi V DPR RI, Daniel Mutaqien, menekankan perlunya investigasi menyeluruh atas kronologi awal kecelakaan.

Ia menyoroti keberadaan kendaraan taksi listrik di perlintasan rel yang diduga menjadi pemicu gangguan operasional.

“Penelusuran kronologi awal sangat penting, terutama terkait dugaan adanya kendaraan taksi yang berhenti di lintasan rel dan memicu rangkaian gangguan operasional,” kata Daniel kepada wartawan, Kamis (30/4/2026).

Sebagai mitra kerja Kementerian Perhubungan, Komisi V DPR RI meminta langkah cepat dan komprehensif, tidak hanya pada aspek teknis perkeretaapian tetapi juga pada pihak eksternal.

Evaluasi Operasional Taksi Listrik

Daniel menegaskan evaluasi harus mencakup operasional taksi listrik Green SM Indonesia yang disebut berada di lokasi kejadian.

Daniel mengungkapkan adanya sejumlah keluhan masyarakat terkait perilaku berkendara armada tersebut.

“Kami menerima berbagai laporan dari masyarakat terkait perilaku berkendara yang dinilai kurang memperhatikan aspek keselamatan, bahkan cenderung agresif. Ini tentu perlu didalami apakah ada pelanggaran standar operasional,” ucapnya.

Pengawasan di Lapangan

Daniel juga menyoroti kejanggalan terkait bagaimana kendaraan dapat masuk dan berhenti di area perlintasan rel yang seharusnya steril dari aktivitas kendaraan umum. 

Hal ini, menurutnya, menimbulkan pertanyaan besar terkait efektivitas pengawasan di lapangan.

“Perlu dicermati bagaimana kendaraan bisa berada di perlintasan rel. Ini menyangkut pengawasan dan kepatuhan terhadap aturan keselamatan lalu lintas di perlintasan sebidang,” ucapnya.

Lebih lanjut, Daniel mendorong Kementerian Perhubungan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek perizinan operasional Green SM. 

Evaluasi tersebut mencakup kelayakan armada, standar keselamatan pengemudi, hingga kepatuhan terhadap regulasi transportasi yang berlaku.

“Evaluasi ini penting untuk memastikan seluruh operator transportasi publik benar-benar memenuhi standar keselamatan yang telah ditetapkan,” ujarnya.

Daniel menekankan audit dan investigasi harus dilakukan secara transparan dan akuntabel. 

Hasilnya diharapkan menjadi dasar perbaikan kebijakan ke depan, baik dalam pengawasan transportasi jalan maupun integrasinya dengan sistem perkeretaapian.

“Audit dan investigasi harus transparan dan akuntabel, agar bisa menjadi dasar perbaikan kebijakan ke depan serta memulihkan kepercayaan masyarakat,” tandasnya.

Seperti diketahui, kecelakaan ini melibatkan kereta PLB 5568A (Commuter Line relasi Cikarang) dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi di KM 28+920 wilayah Stasiun Bekasi Timur, pada Senin (27/4/2026) malam.

Peristiwa bermula dari commuter line yang tertemper taksi listrik lalu ditabrak oleh rangkaian kereta jarak jauh di gerbong paling akhir.

Akibat tabrakan sejumlah korban perempuan berjatuhan dan dievakuasi oleh petugas gabungan dari berbagai unsur.

Proses investigasi terkait penyebab kecelakaan kereta saat ini masih dilakukan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Dari insiden tersebut, belasan orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.

Artikel ini telah tayang di TribunStyle.com

(*/ Tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

Sumber: TribunStyle.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved