Perang AS dan Israel vs Iran

Trump Sebut Ekonomi Iran Kolaps, Mata Uang Rial Anjlok & Inflasi Tinggi, Warga Kehilangan Pekerjaan

Nilai tukar mata uang Iran, Rial, kembali mencatatkan titik terendah sepanjang sejarah terhadap dollar AS.

Tayang:
Editor: Juang Naibaho
TRIBUN MEDAN/X
Serangan AS-Israel di Kota Teheran, Iran, beberapa waktu lalu. Presiden AS Donald Trump menyebutkan ekonomi Iran kini dalam keadaan kolaps. 

TRIBUN-MEDAN.com - Proposal baru yang ditawarkan Iran kepada Amerika Serikat (AS) untuk melangkah ke putaran kedua perundingan, ternyata tak meluluhkan Presiden Donald Trump.

Sikap Trump meningkatkan kekhawatiran terkait konflik Timur Tengah yang telah mengganggu pasokan energi global, memicu inflasi, serta menelan ribuan korban jiwa.

Kini nilai tukar mata uang Iran, Rial, kembali mencatatkan titik terendah sepanjang sejarah terhadap dollar AS.

Berdasarkan data dari situs pelacak mata uang Bonbast dan AlanChand yang dikutip Al Jazeera, nilai tukar mata uang Iran berada di kisaran 1,80 juta rial per dolar AS. 

Angka ini melemah dibandingkan akhir Februari lalu, saat nilai tukar masih berada di sekitar 1,70 juta rial per dolar.

Salah satu faktor utama yang mendorong pelemahan Rial adalah kembalinya sanksi internasional. 

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali memberlakukan sanksi terhadap Iran seperti September 2025 setelah Dewan Keamanan gagal mencapai kesepakatan untuk memperpanjang keringanan sanksi.

Kebijakan tersebut mencakup embargo senjata, pembatasan program rudal balistik, pembekuan aset, serta larangan perjalanan bagi sejumlah individu. 

Dampaknya, akses Iran terhadap perdagangan dan sistem keuangan internasional semakin terbatas. Tekanan tersebut diperkuat oleh langkah Uni Eropa yang juga menerapkan sanksi tambahan. 

Selain isu nuklir, sanksi UE berkaitan dengan catatan hak asasi manusia Iran serta dugaan keterlibatan negara itu dalam konflik internasional, termasuk pasokan drone ke Rusia. Kondisi ini membuat arus investasi asing dan ekspor Iran semakin terhambat.

Inflasi dan Isolasi Ekonomi

Di sisi lain, tekanan dari dalam negeri turut memperparah pelemahan Rial. Inflasi tinggi yang berlangsung dalam beberapa tahun terakhir terus menggerus daya beli masyarakat.

Harga kebutuhan pokok melonjak, sementara nilai mata uang terus tertekan, menciptakan lingkaran tekanan ekonomi yang sulit dikendalikan.

Situasi semakin berat akibat isolasi diplomatik yang membatasi hubungan ekonomi Iran dengan negara lain. Terbatasnya akses terhadap pasar global menyebabkan pasokan devisa menurun tajam, sehingga mempercepat depresiasi mata uang nasional.

Tanpa adanya perubahan kebijakan atau terobosan diplomatik, para pengamat memperkirakan pelemahan mata uang Iran masih akan berlanjut, dengan dampak yang semakin luas terhadap stabilitas ekonomi negara tersebut.

Trump Sebut Iran dalam Keadaan Kolaps

Presiden Donald Trump, dalam pernyataan terbarunya, menyebut Iran saat ini berada dalam keadaan kolaps.

“Iran baru saja memberitahu kami bahwa mereka berada dalam ‘Keadaan Kolaps’. Mereka ingin kami membuka Selat Hormuz sesegera mungkin,” tulis Trump dalam unggahan melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, pada Selasa (28/4/2026) waktu setempat.

Di sisi lain, ketegangan di kawasan Selat Hormuz turut memperburuk situasi. 

Menurut Trump, Iran bahkan meminta agar akses di Selat Hormuz dibuka kembali untuk membantu meredakan tekanan yang mereka hadapi.

Diketahui, AS melakukan blokade di Selat Hormuz setelah Iran lebih dulu menerapkan blokade dan memberlakukan tarif tol terhadap kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Adapun blokade AS menyasar kapal-kapal yang terkait dengan semua pelabuhan Iran. Sejumlah kapal Iran juga telah disita oleh pasukan Marinir AS.

Stok Minyak Berlimpah karena Tak Terjual

Selain itu, Iran tengah menghadapi lonjakan stok minyak yang tak terserap pasar akibat blokade AS yang menghambat ekspor. Blokade yang diberlakukan AS sejak 13 April membuat ekspor minyak Iran merosot tajam, menurut laporan The Wall Street Journal, Senin (27/4/2026). 

Data Kpler menunjukkan, pengapalan minyak mentah dan kondensat Iran turun dari rata-rata 2,1 juta barrel per hari pada 1–13 April menjadi hanya 567.000 barrel per hari antara 14–23 April. 

Sebelum konflik, tepatnya pada Februari, Iran masih mampu mengekspor sekitar 2 juta barrel per hari. Kini, dengan akses terbatas ke kapal tanker, minyak yang tak bisa dikirim keluar negeri terus menumpuk di dalam negeri. 

Untuk menghindari krisis infrastruktur, Iran mulai menghidupkan kembali fasilitas penyimpanan lama yang sudah lama terbengkalai, yang disebut sebagai “junk storage”. 

Selain itu, minyak juga disimpan di kapal tanker yang menganggur di laut serta dalam kontainer improvisasi. Beberapa tangki tua di pusat minyak selatan seperti Ahvaz dan Asaluyeh bahkan kembali digunakan, meski sebelumnya dihindari karena kondisi yang buruk.

Langkah-langkah ini diambil demi menunda kondisi terburuk ketika kapasitas penyimpanan benar-benar habis. 

Selain penyimpanan darurat, Iran juga mencoba menyalurkan minyak melalui jalur kereta menuju China. Infrastruktur rel menghubungkan Teheran dengan kota-kota seperti Yiwu dan Xi’an, namun pengiriman ini memakan waktu berminggu-minggu dan jauh lebih mahal dibanding pengiriman laut. 

Jalur ini juga dinilai kurang menarik bagi kilang independen China yang dikenal sebagai “teapot”, karena margin keuntungan mereka tipis dan sensitif terhadap biaya tambahan. 

Dengan kapasitas penyimpanan yang terus terisi, Iran berisiko mencapai kondisi “tank tops”, yaitu saat seluruh ruang penyimpanan penuh. Banyak analis memperkirakan kondisi ini bisa terjadi dalam waktu kurang dari dua minggu.

Jutaan Warga Kehilangan Pekerjaan

Jutaan warga Iran terancam kehilangan pekerjaan dan terdorong ke dalam kemiskinan akibat perang dengan AS dan Israel. Hampir tidak ada sektor yang terhindar dari dampaknya, dengan banyak perusahaan yang memberhentikan pekerjanya, menurut laporan CNN, Selasa (28/4/2026). 

Menurut Program Pembangunan PBB (UNDP), hingga 4,1 juta orang lagi berisiko jatuh ke dalam kemiskinan akibat konflik AS-Iran. Kerusakan fisik yang disebabkan serangan udara telah menyebabkan pengungsian besar-besaran, menurut UNDP. 

Lebih dari 23.000 pabrik dan perusahaan telah terkena dampaknya, seperti yang dilaporkan oleh media EcoIran. 

Menurut Wakil Menteri Ketenagakerjaan dan Jaminan Sosial Iran, Gholamhossein Mohammadi, hal itu secara langsung menyebabkan hilangnya satu juta pekerjaan. 

Sedangkan dampak tidak langsungnya telah menyebabkan satu juta orang lainnya kehilangan pekerjaan, menurut perkiraan publikasi Iran, Etemad Online. 

Gangguan pada pengiriman barang, dan impor, juga telah mengganggu perekonomian Iran yang sudah rapuh. “Banyak perusahaan telah menangguhkan operasinya di bawah tekanan gabungan dari perang, inflasi, resesi, dan runtuhnya permintaan,” kata Hadi Kahalzadeh. 

Serangan udara Israel bulan lalu terhadap kompleks petrokimia besar telah menyebabkan ribuan pekerja cuti tanpa gaji. Pabrik baja terbesar Iran juga terkena serangan, yang menyebabkan produsen trailer Maral Sanat memberhentikan 1.500 pekerja karena kekurangan baja. 

Salah satu perusahaan tekstil terbesar di Iran, Borujerd, juga memberhentikan 700 pekerja. “Beban paling berat dirasakan oleh pekerja informal dan pekerja berketerampilan rendah dan menengah di sektor formal,” menurut Kahalzadeh. 

Media Iran melaporkan bahwa perusahaan e-commerce terbesar di negara itu, Digikala, telah memulai gelombang PHK di beberapa departemen. (*/tribunmedan.com)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved