Berita Internasional

Klaim Donald Trump Sebut Iran Dalam Keadaan Runtuh, Yakin Sebentar Lagi Buka Selat Hormuz

Donald Trump juga mengklaim bahwa Teheran meminta Washington untuk segera membuka kembali Selat Hormuz.

Tayang: | Diperbarui:
TRIBUN MEDAN/KOLASE ISTIMEWA
Nama Mohammad Bagher Ghalibaf mencuat di tengah eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Sosoknya muncul dalam komunikasi tidak langsung dengan Washington. Mohammad Bagher Ghalibaf diduga diincar Presiden Trump untuk dijadikan sebagai pemimpin Iran. 

TRIBUN-MEDAN.com - Pernyataan terbaru dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu perhatian dunia internasional setelah ia mengungkapkan klaim terkait kondisi Iran

Dalam unggahan di platform media sosial Truth Social pada Selasa, 28 April 2026, Donald Trump menyebut bahwa Iran telah memberi sinyal kepada Amerika Serikat bahwa mereka sedang berada dalam kondisi yang disebutnya sebagai “keadaan keruntuhan”.

Dalam pernyataannya, Donald Trump juga mengklaim bahwa Teheran meminta Washington untuk segera membuka kembali Selat Hormuz.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, dan menjadi salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia.

Gangguan di wilayah ini berpotensi memengaruhi pasokan energi global secara signifikan.

“Iran baru saja memberi tahu kami bahwa mereka berada dalam 'Keadaan Keruntuhan',” tulis Donald Trump

“Mereka ingin kami 'Membuka Selat Hormuz' sesegera mungkin, sementara mereka mencoba mencari solusi untuk situasi kepemimpinan mereka (yang saya yakini akan dapat mereka lakukan!),” lanjutnya.

Namun demikian, Donald Trump tidak menjelaskan secara rinci siapa pihak Iran yang menyampaikan pesan tersebut atau bagaimana komunikasi itu terjadi. 

Sebelumnya, Donald Trump juga beberapa kali menyatakan bahwa operasi militer gabungan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari 2026 telah membawa dampak signifikan terhadap struktur kekuasaan di negara tersebut.

Ia bahkan mengklaim bahwa serangan tersebut telah berhasil mengubah rezim di Teheran.

Istilah “perubahan rezim” atau regime change merujuk pada pergantian pemerintahan suatu negara secara drastis, baik melalui tekanan militer, politik, maupun kombinasi keduanya.

Namun hingga kini, belum terdapat bukti konkret yang menunjukkan bahwa perubahan kepemimpinan benar-benar terjadi di Iran.

Di tengah klaim tersebut, sejumlah pihak di pemerintahan AS tetap menyoroti ancaman jangka panjang dari program nuklir Iran.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan bahwa isu nuklir masih menjadi persoalan utama dalam konflik ini.

“Pada suatu saat di masa depan jika rezim ulama radikal ini tetap berkuasa di Iran, mereka akan memutuskan bahwa mereka menginginkan senjata nuklir,” ujarnya dalam wawancara dengan Fox News.

“Masalah mendasar itu masih harus dihadapi. Itu tetap menjadi inti permasalahan di sini,” lanjut Rubio.

Kondisi di Teheran: Tidak Seperti yang Diklaim

Di sisi lain, laporan langsung dari lapangan memberikan gambaran yang berbeda dari klaim Trump.

Produser CBS News di Teheran, Seyed Rahim Bathaei, menyatakan bahwa kondisi Iran saat ini masih terkendali dan tidak menunjukkan tanda-tanda keruntuhan seperti yang disebutkan.

Menurut Bathaei, pemerintah Iran tetap menjalankan fungsi pemerintahan secara normal dan masih memegang kendali penuh atas negara.

Ia menilai bahwa situasi yang terjadi lebih tepat digambarkan sebagai tekanan ekonomi dan sosial akibat perang serta sanksi internasional.

“Ada konsekuensi serius yang akan datang akibat perang, seperti yang kita lihat ada kekurangan dan inflasi tinggi serta kurangnya pasokan (kebutuhan pokok), namun, apa yang tidak dipertimbangkan oleh beberapa sumber di luar negeri adalah bahwa Iran sudah terbiasa dengan kondisi sulit dalam semua aspek kehidupan ekonomi, sosial, dan politik setelah puluhan tahun sanksi internasional dan ketegangan dengan Barat,” ujar Bathaei.

Pernyataan ini menegaskan bahwa meskipun Iran menghadapi tekanan berat, negara tersebut memiliki pengalaman panjang dalam bertahan di tengah sanksi internasional, sehingga tidak serta-merta mengalami keruntuhan sistemik.

Proposal Perdamaian dan Peran Pakistan

Sementara itu, upaya diplomasi untuk meredakan konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih terus berlangsung, meskipun belum menunjukkan hasil yang signifikan.

Iran diketahui telah mengajukan proposal perdamaian terbaru yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, namun dengan syarat bahwa pembahasan mengenai program nuklir ditunda untuk tahap selanjutnya.

Proposal tersebut disampaikan melalui Pakistan, yang berperan sebagai mediator atau pihak penengah dalam negosiasi.

Dalam diplomasi internasional, mediator adalah negara atau pihak ketiga yang membantu dua pihak yang berkonflik untuk mencapai kesepakatan.

Dalam pesan tertulis yang dikirimkan kepada Washington, Iran juga menetapkan sejumlah “garis merah” atau batasan yang tidak dapat dinegosiasikan, terutama terkait program nuklir dan kontrol atas Selat Hormuz.

Gedung Putih sendiri mengonfirmasi bahwa mereka sedang mempelajari proposal tersebut.

Menurut laporan AFP, pembahasan internal telah dilakukan, termasuk pertemuan antara Trump dan para penasihat keamanan utama di Gedung Putih untuk mengevaluasi opsi yang tersedia.

(*/ Tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved