Anggaran IT MBG Sebesar Rp 1,2 T, Kepala BGN: Agar Distribusi Gizi Tepat Sasaran

Dadan memastikan bahwa seluruh tahapan administrasi tetap berjalan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

|
Tribun Jabar/Rahmat Kurniawan
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menyebut bakal menambah jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Kamis (30/1/2025). Penambahan SPPG diperlukan untuk menjangkau lebih banyak sasaran Makan Bergizi Gratis (MBG). (Tribun Jabar/Rahmat Kurniawan) 

TRIBUN-MEDAN.com - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, buka suara terkait isu anggaran teknologi informasi (IT) yang disebut mencapai Rp 1,2 triliun.

Anggaran tersebut dikaitkan dengan pengembangan Sistem Informasi Pemenuhan Gizi Nasional (SIPGN) serta layanan managed service untuk sarana IT dan Internet of Things (IoT).

Dadan menjelaskan bahwa proses pemilihan mitra strategis maupun penggunaan anggaran pada tahun anggaran 2025 dilakukan dengan pengawasan yang ketat dan tetap berpedoman pada regulasi yang berlaku.

"Keterlibatan Perum Peruri (PERURI) dalam program strategis ini adalah langkah terintegrasi negara. Perlu ditegaskan bahwa PERURI telah bertransformasi menjadi perusahaan teknologi high security," ucap Dadan, dalam keterangannya, Selasa (21/4/2026).

Baca juga: AKHIRNYA Kepala BGN Angkat Bicara soal Anggaran IT yang Disebut Capai Rp 1,2 Triliun

Ia menambahkan bahwa keterlibatan PERURI juga sejalan dengan mandat Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 6 Tahun 2019, yang memberikan kewenangan kepada PERURI sebagai penyedia solusi digital sekuriti bagi instansi pemerintah.

Selain itu, status PERURI sebagai GovTech Indonesia berdasarkan Perpres Nomor 82 Tahun 2023 menjadi dasar utama kepercayaan dalam pengelolaan transformasi digital nasional, termasuk dalam sistem pemerintahan berbasis elektronik (SPBE).

"Seluruh proses kerja sama dengan BGN dijalankan secara transparan, sesuai dengan regulasi yang berlaku, serta mengedepankan prinsip Good Corporate Governance (GCG)," tutur Dadan.

Ia juga menegaskan bahwa tidak terdapat celah bagi penyimpangan dalam proyek ini karena menyangkut aspek penting, yaitu kedaulatan data gizi masyarakat Indonesia.

Baca juga: LIVE SCORE Brighton Vs Chelsea Jam 02.00 WIB, Ujian The Blues Bertahan di Zona Eropa

Lebih lanjut, Dadan menjelaskan bahwa dari total pagu anggaran yang tersedia, saat ini alokasinya difokuskan pada dua kebutuhan utama yang dianggap krusial.

"Pertama pengembangan aplikasi SIPGN yang mencakup berbagai modul dengan kisaran nilai Rp 550 miliar," ucap dia.

Sementara itu, alokasi kedua digunakan untuk penyediaan layanan managed service perangkat IoT dengan nilai sekitar Rp 199 miliar.

Menanggapi isu teknis terkait Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) yang sempat menjadi sorotan publik, Dadan memastikan bahwa seluruh tahapan administrasi tetap berjalan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Di akhir keterangannya, ia menegaskan kembali komitmen BGN dalam memastikan sistem SIPGN dan layanan IoT dapat segera beroperasi secara optimal.

"BGN berkomitmen agar sistem SIPGN dan layanan IoT ini dapat segera beroperasi maksimal untuk memastikan distribusi gizi tepat sasaran dan dapat dipantau secara real-time," tandas dia.

Baca juga: Viral Aksi Pelajar Bersenjata Tajam di Jalan Turi Medan, Motor Korban Dirampas, Sempat Dibawa Kabur

Rata-rata IQ Warga Indonesia Hanya 78, Kepala BGN: Solusinya Ada di MBG

Di tengah tantangan besar kualitas sumber daya manusia, pemerintah mulai menggenjot langkah strategis yang tak lagi setengah hati.

Melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), negara berupaya hadir langsung dalam kehidupan anak-anak Indonesia, bukan hanya sebagai kebijakan, tetapi sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar bantuan makanan, melainkan bentuk intervensi menyeluruh yang dirancang secara sistematis.

Fokusnya jelas: menyasar dua fase paling krusial dalam kehidupan manusia 1.000 hari pertama kehidupan yang menentukan kualitas kecerdasan, serta fase usia sekolah yang menjadi fondasi pertumbuhan fisik optimal.

Pemaparan tersebut ia sampaikan dalam forum Retret Ketua DPRD Seluruh Indonesia di Magelang, Sabtu (18/4/2026), sebuah forum strategis yang membahas arah kebijakan nasional ke depan.

Menekan Stunting, Mengangkat Kualitas Generasi

Dalam penjelasannya, Dadan Hindayana menaruh harapan besar pada dampak jangka panjang program ini. Ia melihat MBG sebagai kunci untuk memutus rantai masalah gizi yang selama ini menghantui generasi muda Indonesia.

“Kita harapkan dengan program ini stunting-nya bisa dicegah, karena rata-rata IQ Indonesia sekarang 78 kita dengan harapan dengan hadirnya program ini nanti 10 tahun 15 tahun ke depan yang lahir hari ini, 20 tahun kemudian akan jadi tenaga kerja produktif itu sudah tidak stunting, dan tinggi badannya naik karena kita intervensi dari sekarang,” ujar Dadan.

Pernyataan ini menggambarkan sebuah visi besar: membentuk generasi yang lebih sehat, lebih cerdas, dan lebih siap bersaing di masa depan.

Di balik lahirnya MBG, terdapat kegelisahan yang tidak sederhana. Program ini, menurut Dadan, berangkat dari perhatian serius Presiden Prabowo Subianto terhadap laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, yang belum sepenuhnya diimbangi dengan peningkatan kualitas manusia.

“Program ini sebetulnya berawal dari kegelisahan Presiden, karena Indonesia masih tumbuh 6 orang per menit, tiga juta per tahun dan masih akan tumbuh mencapai 324 juta tahun 2045, dan sekarang permasalahannya bukan pertumbuhannya tapi berasal dari mana pertumbuhan itu,” tutur dia.

Pertanyaan besar pun muncul: apakah pertumbuhan itu diiringi kualitas? Ataukah justru memperbesar beban jika tidak diimbangi dengan intervensi yang tepat?

Akar Masalah: Pendidikan dan Akses Gizi

Dadan juga menyoroti persoalan mendasar yang selama ini kerap luput dari perhatian rendahnya tingkat pendidikan masyarakat.

Rata-rata lama sekolah yang hanya sembilan tahun dinilai berdampak langsung pada pola asuh dan pemenuhan gizi anak.

“Jadi, anak-anak Indonesia itu, dewasa ini banyak lahir dari orangtua yang pendidikannya hanya lulusan SD.

Sehingga tidak heran kalau 60 persen anak tidak punya akses terhadap makan bergizi seimbang, 60 persen anak itu jarang minum susu bahkan tidak mampu minum susu,” ujar Dadan.

Pernyataan ini memperlihatkan bahwa persoalan gizi bukan berdiri sendiri, melainkan terkait erat dengan kondisi sosial dan ekonomi yang lebih luas.

Efek Domino: Dari Gizi ke Ekonomi

Lebih dari sekadar program kesehatan, MBG juga mulai menunjukkan dampak ekonomi yang signifikan. Perputaran anggaran dalam skala besar telah menghidupkan aktivitas ekonomi di berbagai daerah.

Hingga kini, program tersebut telah menjangkau seluruh penjuru Indonesia melalui sekitar 27.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dengan total penyerapan anggaran mencapai Rp 60 triliun.

Dana ini tidak hanya berhenti pada distribusi makanan, tetapi turut menggerakkan roda ekonomi lokal, termasuk di tingkat desa.

“Alhamdulillah sekarang sudah menyebar di seluruh Indonesia, dan hari ini sudah menyerap anggaran Rp 60 triliun di mana anggaran itu seluruhnya sudah tersebar dari Sabang sampai Merauke menggerakkan roda ekonomi di berbagai daerah,” imbuh Dadan.

Program MBG kini berdiri sebagai simbol harapan sekaligus tantangan. Harapan untuk mencetak generasi unggul di masa depan, namun juga tantangan besar dalam memastikan implementasinya tepat sasaran dan berkelanjutan.

Di balik angka-angka dan kebijakan, tersimpan satu tujuan utama: memastikan setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat, cerdas, dan berdaya.

(Tribun-Medan.com)

Artikel ini telah tayang di Tribuntrends.com 

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved