Perang AS dan Israel vs Iran

Nasib 58.873 Jemaah Umrah Indonesia Terjepit di Arab Saudi Akibat Perang AS-Israel vs Iran

Perang panas Amerika Serikat - Israel vs Iran berdampak pada nasib  58.873 jemaah umrah Indonesia.

|
Editor: Salomo Tarigan
TRIBUN MEDAN/X
PERANG DI TIMUR TENGAH - Garda Revolusi Iran melakukan serangan balasan menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah untuk membalas serangan Israel, di antaranya mencakup Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab, Senin (2/3/2026). 

TRIBUN-MEDAN.com - Perang panas Amerika Serikat - Israel vs Iran berdampak pada nasib 58.873 jemaah umrah Indonesia.

Perang di timur tengah menimbulkan risiko penutupan ruang udara dan terhentinya aktivitas maskapai penerbangan.

Para jemaah umrah Indonesia saat ini masih berada di Arab Saudi, belum bisa pulang akibat situasi perang.

PERANG - Garda Revolusi Iran menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah untuk membalas serangan Israel, di antaranya mencakup Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Selain kapal-kapal tanker, jet tempur F-15E Strike Eagle milik Amerika Serikat (AS) juga berjatuhan, Senin (2/3/2026).
PERANG - Garda Revolusi Iran menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah untuk membalas serangan Israel, di antaranya mencakup Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Selain kapal-kapal tanker, jet tempur F-15E Strike Eagle milik Amerika Serikat (AS) juga berjatuhan, Senin (2/3/2026). (TRIBUN MEDAN/X)

Komisi Nasional (Komnas) Haji mendesak Pemerintah RI segera menjamin keselamatan 58.873 jemaah umrah Indonesia yang kini terjepit di tengah berkecamuknya perang terbuka di Timur Tengah.

Situasi kian mencekam menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan militer Amerika Serikat-Israel pada Sabtu lalu, yang memicu gelombang serangan balasan Iran ke wilayah Israel dan sejumlah pangkalan militer AS di kawasan tersebut.


Ketua Komnas Haji, Mustolih Siradj, menegaskan bahwa eskalasi konflik yang terus meluas ini menuntut kehadiran nyata dari Pemerintah RI melalui langkah-langkah mitigasi yang terukur.

"Dalam kondisi perang yang serba tidak menentu, pemerintah harus mengambil kebijakan terukur terutama dalam memberikan jaminan keamanan dan keselamatan jemaah dari dampak perang yang tidak bisa diprediksi kapan berakhir," ujar Mustolih dalam keterangannya, Senin (2/3/2026).

Berdasarkan data Sistem Komputerisasi Pengelolaan Umrah dan Haji Khusus (SISKOPATUH), puluhan ribu jemaah tersebut terancam terjebak jika jalur udara internasional ditutup mendadak akibat keterlibatan negara sekutu Eropa yang diprediksi bergabung menyerang Iran.

Mustolih menekankan pentingnya peran Kementerian Haji dan Umrah sebagai leading sector untuk mengambil inisiatif aktif.

Koordinasi intensif harus segera dilakukan bersama Kementerian Luar Negeri, maskapai penerbangan, Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU), asosiasi, hingga otoritas Arab Saudi.

Skema Evakuasi

Komnas Haji mendesak pemerintah segera menyiapkan contingency plan atau rencana darurat.

"Kemenhaj perlu menyiapkan pusat informasi sebagai crisis center. Bahkan jika diperlukan, menyediakan tempat penampungan sementara bagi jemaah umrah hingga mempersiapkan penjemputan untuk memulangkan jemaah ke tanah air," tegas Mustolih.

Langkah ini dinilai sebagai bentuk nyata perlindungan negara terhadap warga negaranya di tengah krisis internasional yang kian tak terkendali.

 Nasib Jemaah Mandiri dan Krisis Logistik

Isu finansial menjadi perhatian serius, mengingat kemampuan setiap jemaah berbeda-beda.

Banyak jemaah memiliki dana terbatas karena kondisi di lapangan tidak sesuai dengan rencana perjalanan awal.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved