Berita Viral

Rismon Sianipar Bersaksi di PN Solo, Soroti Lembar Pengesahan Pembimbing Skripsi Ijazah Jokowi

Rismon Sianipar bersaksi dalam persidangan di Pengadilan Negeri Kota Solo, Rabu (18/2/2026).

Editor: AbdiTumanggor
TRIBUN MEDAN/KOMPAS.COM/Fristin Intan Sulistyowati
Rismon Sianipar memberikan kesaksian dalam sidang gugatan ijazah Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, dengan mekanisme citizen lawsuit di Pengadilan Negeri Kota Solo, Rabu (18/2/2026).(KOMPAS.COM/Fristin Intan Sulistyowati) 

TRIBUN-MEDAN.COM - Rismon Sianipar bersaksi dalam persidangan di Pengadilan Negeri Kota Solo, Rabu (18/2/2026).

Rismon memberikan kesaksian dalam sidang gugatan ijazah Joko Widodo (Jokowi) dengan mekanisme citizen lawsuit.

Dalam kesaksiannya, Rismon menyoroti lembar pengesahan pembimbing skripsi Mantan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.

Rismon menyebut format dan tata letak dokumen tersebut tidak selaras dengan teknologi percetakan yang tersedia pada tahun 1985.

“Bagaimana mungkin produk hand press yang dicetak satu per satu bisa memiliki jarak antar huruf, antar kata, dan tinggi antar baris yang begitu konsisten dan tersentralisasi sempurna,” kata Rismon.

Rismon menjelaskan, analisisnya didasarkan pada sumber primer berupa foto resolusi tinggi yang diambil langsung di ruang 109 Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 15 April 2025.

Dengan menggunakan metode pattern recognition dan digital image processing, ia menyoroti konsistensi jarak antarhuruf dan tata letak teks yang dinilai terlalu presisi untuk hasil cetak manual era 80-an.

Baca juga: Rismon Sianipar Jadi Saksi Ahli Sidang di Solo, Pengacara Jokowi Tolak Kesaksiannya Hingga Roy Suryo

Rismon mempertanyakan klaim yang menyebut dokumen tersebut merupakan hasil cetak hand press atau letterpress.

Menurutnya, karakter tata letak pada dokumen tersebut justru menyerupai hasil pengolah kata modern.

Rismon bahkan melakukan rekonstruksi ulang teks menggunakan perangkat lunak tahun 2025 untuk kemudian dibandingkan dengan dokumen asli.

Melalui metode overlay dan algoritma Scale-Invariant Feature Transform (SIFT) dengan varian fuzzy transform, ia mengklaim menemukan 27 titik kunci yang sesuai antara dokumen pembanding dan hasil rekonstruksi digital.

Tingkat kecocokan yang diperoleh disebut mencapai 89,92 persen. 

“Apa yang saya amati menunjukkan teknologi yang jauh di atas tahun 1985,” katanya.

Rismon berpendapat, tingkat kemiripan tersebut terlalu tinggi untuk dua dokumen yang diklaim dibuat dengan teknologi berbeda.

Ia menilai teknologi percetakan yang umum digunakan pada masa itu adalah dot matrix, yang secara teknis menghasilkan karakter huruf berbentuk titik-titik kasar saat citra diperbesar.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved