Banjir dan Longsor di Sumut
Helikopter TNI AU Terkendala Cuaca Tangani Banjir Longsor Tapteng, Nasib 50 Orang Terjebak di Hutan
helikopter TNI AU menghadapi kendala cuaca saat hendak masuk ke sejumlah wilayah yang terdampak bencana banjir dan longsor Taput
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Nias, Putu Arga Sudjarwadi mengatakan akses jalur darat yang putus akibat banjir dan longsor menjadi salah satu kendala yang dihadapi dalam operasi SAR di wilayah tersebut.
"Faktor penghambat operasi SAR bencana banjir dan tanah longsor yakni listrik padam dan jaringan komunikasi terputus, cuaca ekstrem dan gelombang tinggi menghambat pergerakan tim, serta jalur darat ke lokasi putus," ungkap Putu dalam keterangan resmi Basarnas yang terkonfirmasi pada Rabu (26/11/2025) malam.
Operasi Modifikasi Cuaca
Pemerintah melalui BNPB rencananya akan mengerahkan dua pesawat untuk mendukung penanganan darurat di Sumatera Utara yakni helikopter jenis airbus untuk melakukan evakuasi dan pesawat jenis caravan guna melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC).
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan telah menerima perintah dari Presiden Prabowo untuk mendampingi daerah dalam penanganan darurat serta memastikan keselamatan masyarakat menjadi prioritas.
"Saya juga akan berangkat besok pagi (ke Sibolga), saya akan menggeser satu pesawat helikopter airbus yang cukup besar untuk membantu evakuasi menjaga transportasi dan mengirimkan satu pesawat fixed-wings jenis caravan untuk melaksanakan operasi modifikasi cuaca," jelas Suharyanto dalam Siaran Pers BNPB pada Rabu (26/11/2025).
Viral Puluhan Orang Terjebak di Hutan
Sebelumnya, sebuah video yang menunjukkan sekitar 50 warga terjebak di tengah hutan di Kelurahan Huta Nabolon, Kelurahan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, viral di media sosial.
Mereka terpaksa berlindung di hutan untuk menghindari longsor dan banjir bandang yang melanda daerah
Dalam video berdurasi singkat itu, terlihat puluhan warga berada di tengah hutan, dengan beberapa di antaranya mengenakan jaket hujan dan payung. Seorang pria yang merekam video tersebut meminta bantuan kepada Bupati.
“Pak Bupati tolong kami di sini, Pak Bupati. Kami sudah di tengah hutan ini. Kiri kanan sudah longsor Pak Bupati. Gak ada lagi jalan keluar Pak Bupati. Ada sekitar 50 orang kami ini Pak Bupati,” ujarnya.
Keluarga korban, Rosmawati (30) Zebua saat dihubungi, terdengar Suara berat sambil menahan tangis, karena dirinya sedang cemas dan menanti kabar dari keluarganya yang terkena musibah bencana banjir di Kabupaten Tapanuli Tengah.
Diceritakan warga Asal Tapteng yang berdomisili di Jakarta ini menceritakan, dirinya merupakan keluarga dari video korban banjir yang terjebak di hutan yang viral di sosial media.
Melalui via sambung telpon, Rosmawati bercerita, ia terakhir menghubungi keluarganya, melalui video call pada Selasa (25/11/2025) pukul 10.00 WIB kemarin.
Saat video call itu, tujuh keluarganya sudah berada di perbukitan dan hutan-hutan dekat Aek Saeli, Desa Hutanabolon, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng).
Namun karena kondisi cuaca hujan, dan sinyal tidak memadai serta handphone keluarganya sudah kena air hujan, membuat suara dari keluarganya tak begitu jelas.
Selain itu, telpon dengan keluarganya pun terputus secara tiba-tiba membuat rasa khawatirnya semakin menjadi-jadi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Viral-di-Medsos-korban-Banjir-dan-Longsor-di-Tapteng_.jpg)