Berita Medan
Sanggar Srasi Semat Revitalisasi Sastra Lisan Lewat Drama Remaja dan Luncurkan Buku Digital
Cara ini dilakukan Sanggar Sastra Edukasi Sejuta Manfaat (Srasi Semat) untuk mengenalkan kembali sastra lisan.
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Cerita rakyat Sumatera Utara tidak hanya disimpan dalam bentuk tulisan, tetapi juga dihidupkan kembali melalui pertunjukan drama yang dimainkan para remaja.
Cara ini dilakukan Sanggar Sastra Edukasi Sejuta Manfaat (Srasi Semat) untuk mengenalkan kembali sastra lisan sekaligus membangun karakter generasi muda.
Upaya tersebut ditampilkan dalam kegiatan yang digelar di Gedung Ikatan Keluarga Bayur, Medan, beberapa waktu lalu.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pendayagunaan ruang publik yang didukung Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan RI tahun 2025.
Founder Sanggar Srasi Semat, Lili Sartika, mengatakan sanggar yang dipimpinnya berfokus pada pengembangan karakter remaja melalui literasi dan apresiasi budaya.
Salah satu perhatian utamanya adalah revitalisasi sastra lisan yang dinilai masih memiliki nilai-nilai karakter yang relevan bagi generasi muda.
“Kami percaya sastra lisan memiliki nilai-nilai karakter yang sangat relevan untuk generasi muda saat ini,” ujarnya.
Menurut Lili, revitalisasi dilakukan melalui alih wahana sastra dengan mentransformasi cerita rakyat menjadi pertunjukan teater, drama edukatif hingga seni peran agar lebih mudah dipahami dan diterima remaja.
Selain itu, pihaknya juga mendokumentasikan warisan budaya dalam bentuk produk digital yang telah memiliki E-ISBN dan dilindungi Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Sanggar juga aktif berkolaborasi dengan berbagai komunitas seni, mulai dari penari tradisional, pegiat pantomim hingga pendongeng.
“Kami ingin menciptakan ruang publik yang edukatif dan menghibur melalui kolaborasi berbagai komunitas seni,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, salah satu penampilan utama adalah drama sastra lisan “Hikayat Batu Belah Simaninggir: Pesan Dari Hutan Napalacat” yang dimainkan aktor-aktor remaja binaan Sanggar Srasi Semat. Pertunjukan ini menjadi upaya menghadirkan kembali cerita rakyat lokal dalam bentuk visual agar pesan moralnya lebih mudah dipahami penonton.
Pada kesempatan yang sama, Sanggar Srasi Semat juga meluncurkan buku elektronik berjudul “Sastra Lisan Sumatera Utara yang Tersembunyi” sebagai luaran program. Buku digital tersebut telah memiliki E-ISBN dan HKI serta dapat diakses masyarakat secara gratis melalui Google Books.
Tak hanya drama, festival budaya itu juga menghadirkan panggung ekspresi budaya yang melibatkan berbagai komunitas seni. Rama Dancer menampilkan tari kreasi tradisional, Sanggar Anak Sungai Deli (Sasude) membawakan drama edukatif, siswa SD Shafiyyatul Amaliyyah menampilkan pantomim dan dongeng interaktif, sementara komunitas Petra mempersembahkan tari egrang.
Lili berharap keterlibatan berbagai komunitas seni dan para remaja dalam satu panggung dapat membangun ekosistem yang mendorong kebanggaan terhadap budaya lokal.
“Melalui pendekatan seni yang kreatif dan interaktif, kami ingin memperkuat karakter positif remaja sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap kebudayaan lokal,” tutupnya.
(cr26/tribun-medan.com)
| SPBU Jalan Gajah Mada Medan Tak Beroperasi Sementara, Diduga Terlibat Penyelewengan Distribusi BBM |
|
|---|
| Nonton Acara Melayu Serumpun di Lapangan Merdeka Bareng Anak Istri, Sepeda Motor Malah Hilang |
|
|---|
| Anak Muda Jadi Kunci Bangun Kota, Rico Waas dan Wamendagri Berbagi Strategi di YCC APEKSI 2026 |
|
|---|
| Gen Z dan Gen Alpha Jadi Penentu Indonesia Emas 2045, Wamendagri Apresiasi Pemko Medan |
|
|---|
| Kasus Dugaan Penganiayaan, Kuasa Hukum: Antonius Tumanggor Tak Pernah Lakukan Kontak Fisik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/SASTRA-LISAN-Anak-anak-menampilkan.jpg)