Medan Terkini

Akses Pipa yang Dilewati Siswa Menuju Sekolah Ditutup karena Berbahaya, Ini Kata Kadis SDABMBK Medan

Rasa waswas kini tak lagi menghantui warga dan pelajar yang selama ini nekat melintasi pipa PDAM di Gang Damai, Jalan Adi Sucipto.

Penulis: Dedy Kurniawan | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN MEDAN/Muhammad Nasrul
PELAJAR BERTARUH NYAWA - Sejumlah pelajar melintas di pipa PDAM yang berada di atas aliran Sungai Deli, di perbatasan Kecamatan Medan Maimun dan Medan Johor, Kota Medan, Rabu (15/4/2026). Para pelajar memilih melintasi pipa ini karena jembatan penyeberangan yang ambruk pada tahun 2024 lalu demi memangkas waktu. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN — Rasa waswas kini tak lagi menghantui warga dan pelajar yang selama ini nekat melintasi pipa PDAM di Gang Damai, Jalan Adi Sucipto, Kecamatan Medan Polonia.

Akses darurat yang kerap digunakan sebagai jalur alternatif memangkas jarak itu kini resmi ditutup.

Kepala Dinas SDABMBK Kota Medan, Khairul Azmi, memastikan bahwa akses tersebut kini sudah tidak bisa lagi digunakan. Pihaknya terus berkoordinasi ke instansi terkait untuk proyek pembangunan jembatan baru. 

“Sudah dipasang besi penghalang di pipa PDAM itu, sesuai perintah Pak Wali. Jadi sekarang sudah tidak bisa dilewati lagi,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).

Di sisi lain, Pemko Medan juga tengah memikirkan solusi jangka panjang.

Saat ini, koordinasi terus dilakukan dengan berbagai pihak, termasuk PT Kereta Api Indonesia (KAI), Bappeda, hingga TNI, terkait rencana pembangunan kembali jembatan penghubung tersebut.

Khairul Azmi menyebut, ada rencana dari pihak TNI untuk membangun jembatan baru sebagai pengganti yang lama.

Namun, realisasi pembangunan tersebut masih terkendala proses pembebasan lahan.

“Rencananya akan dibangun jembatan baru. TNI berencana menghibahkan jembatan, tapi masih dalam proses, terutama soal pembebasan lahan,” jelasnya.

Saat ini, penutupan akses pipa PDAM sudah dilakukan pasca peninjauan langsung oleh Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, di lokasi jembatan perlintasan kereta api yang telah terputus sejak dua tahun lalu. Tak butuh waktu lama, penghalang berbahan besi langsung dipasang di atas pipa yang membentang di atas sungai tersebut.

Bahkan, pengamanan dilakukan berlapis untuk memastikan tidak ada lagi warga dan pelajar yang melintas. 

Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Selama ini, pipa PDAM tersebut kerap digunakan warga, termasuk pelajar, untuk menyeberang demi memangkas waktu perjalanan.

Namun di balik itu, risiko keselamatan mengintai setiap saat.

Melihat kondisi tersebut, Rico Waas mengimbau masyarakat untuk lebih mengutamakan keselamatan dibandingkan efisiensi waktu. Ia meminta warga bersabar dan sementara menggunakan jalur alternatif lain yang lebih aman.

“Keselamatan harus jadi prioritas utama. Jalur amannya ada selama ini," tegasnya.

Jika terealisasi, jembatan tersebut diharapkan bisa menjadi akses aman, khususnya bagi para pelajar yang selama ini harus menempuh jalur berisiko demi jarak yang lebih dekat.

Untuk sementara, warga diminta menahan diri.

Sebab, di balik jalan pintas yang terlihat sederhana, ada bahaya besar yang mengintai.

Diketahui, aktivitas warga di Gang Damai, Kecamatan Medan Polonia, sempat terhenti sejak jembatan eks perlintasan kereta api roboh diterjang banjir besar pada 2024 lalu.

Namun di balik keterbatasan itu, ada kisah yang menjadi sorotan, terutama dari para pelajar yang tetap nekat melintasi jalur tersebut demi memangkas jarak ke sekolah.

Kondisi inilah yang akhirnya mengundang perhatian Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas. Dia turun langsung meninjau lokasi jembatan di Jalan Adi Sucipto tersebut.

Di lokasi, Rico tampak menyusuri area jembatan yang telah rusak, menyaksikan langsung bagaimana warga harus memutar jauh atau mengambil risiko melintasi jalur yang tidak lagi layak.

“Jembatan ini bukan sekadar penghubung biasa. Ini urat nadi aktivitas warga, terutama anak-anak yang setiap hari berjuang untuk sekolah,” ujar Rico Waas, Minggu (19/4/2026) 

Jembatan yang dulunya merupakan bagian dari perlintasan kereta api milik PT KAI itu dibangun pada era kolonial Belanda, sekitar tahun 1887 hingga 1915. Meski sudah lama tidak difungsikan untuk jalur kereta, keberadaannya tetap vital sebagai akses penghubung antarwilayah.

Sejak roboh, mobilitas warga dari beberapa kecamatan, seperti Medan Polonia, Medan Johor, hingga Medan Maimun menjadi terganggu. Tak sedikit warga yang harus memutar jauh, bahkan anak-anak sekolah terpaksa melewati jalur berbahaya.

Dalam peninjauan tersebut, Rico didampingi sejumlah pimpinan perangkat daerah, camat, serta perwakilan PT KAI dan PDAM Tirtanadi. Ia menegaskan, Pemko Medan tidak akan tinggal diam melihat kondisi tersebut berlarut-larut.

“Meski lahannya berada di bawah kewenangan PT KAI, kami sudah mulai menyiapkan strategi kolaborasi. Kita ingin membangun akses penyeberangan yang lebih modern, aman, dan nyaman,” tegasnya.

(Dyk/Tribun-Medan.com) 

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved