Berita Medan

Viral Akses Pipa Berbahaya ke Sekolah Sudah Ditutup, Kadis PU: Pemko dan TNI Siapkan Jembatan Baru

Pihaknya terus berkoordinasi ke instansi terkait untuk proyek pembangunan jembatan baru. 

Penulis: Dedy Kurniawan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/Muhammad Nasrul
PELAJAR BERTARUH NYAWA - Sejumlah pelajar melintas di pipa PDAM yang berada di atas aliran Sungai Deli, di perbatasan Kecamatan Medan Maimun dan Medan Johor, Kota Medan, Rabu (15/4/2026). Para pelajar memilih melintasi pipa ini karena jembatan penyebaran yang ambruk pada tahun 2024 lalu demi memangkas waktu. 

Ia meminta warga bersabar dan sementara menggunakan jalur alternatif lain yang lebih aman.

“Keselamatan harus jadi prioritas utama. Jalur amannya ada selama ini," tegasnya.

Jika terealisasi, jembatan tersebut diharapkan bisa menjadi akses aman, khususnya bagi para pelajar yang selama ini harus menempuh jalur berisiko demi jarak yang lebih dekat.

Untuk sementara, warga diminta menahan diri.

Sebab, di balik jalan pintas yang terlihat sederhana, ada bahaya besar yang mengintai.

Diketahui, aktivitas warga di Gang Damai, Kecamatan Medan Polonia, sempat terhenti sejak jembatan eks perlintasan kereta api roboh diterjang banjir besar pada 2024 lalu.

Namun di balik keterbatasan itu, ada kisah yang menjadi sorotan, terutama dari para pelajar yang tetap nekat melintasi jalur tersebut demi memangkas jarak ke sekolah.

Kondisi inilah yang akhirnya mengundang perhatian Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas.

Dia turun langsung meninjau lokasi jembatan di Jalan Adi Sucipto tersebut.

Di lokasi, Rico tampak menyusuri area jembatan yang telah rusak, menyaksikan langsung bagaimana warga harus memutar jauh atau mengambil risiko melintasi jalur yang tidak lagi layak.

“Jembatan ini bukan sekadar penghubung biasa. Ini urat nadi aktivitas warga, terutama anak-anak yang setiap hari berjuang untuk sekolah,” ujar Rico Waas, Minggu (19/4/2026) 

Jembatan yang dulunya merupakan bagian dari perlintasan kereta api milik PT KAI itu dibangun pada era kolonial Belanda, sekitar tahun 1887 hingga 1915.

Meski sudah lama tidak difungsikan untuk jalur kereta, keberadaannya tetap vital sebagai akses penghubung antarwilayah.

Sejak roboh, mobilitas warga dari beberapa kecamatan, seperti Medan Polonia, Medan Johor, hingga Medan Maimun menjadi terganggu.

Tak sedikit warga yang harus memutar jauh, bahkan anak-anak sekolah terpaksa melewati jalur berbahaya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved