Medan Terkini
Kenaikan Harga Plastik Ganggu UMKM, Pembulatan Harga Dinilai Picu Inflasi
Kenaikan harga plastik kemasan yang signifikan belakangan ini mulai memberi tekanan pada pelaku usaha mikro, kecil dan menengah.
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Kenaikan harga plastik kemasan yang signifikan belakangan ini mulai memberi tekanan pada pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), khususnya di sektor kuliner.
Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga di tingkat pedagang sekaligus memicu inflasi yang tidak perlu.
Berdasarkan pemantauan di lapangan, harga plastik kemasan disebut mengalami lonjakan hingga 85 persen. Dari sebelumnya sekitar Rp27 ribu per kilogram, kini naik menjadi Rp50 ribu per kilogram.
Meski kontribusi biaya plastik dalam struktur produksi UMKM relatif kecil, kenaikan ini tetap berdampak pada biaya operasional pelaku usaha.
“Sejumlah pelaku UMKM, khususnya di bidang kuliner, sudah mengeluhkan kenaikan harga plastik. Mereka sebenarnya punya rencana menaikkan harga jual, tetapi belum berani mengeksekusinya,” ujar Gunawan.
Menurutnya, kekhawatiran utama pelaku usaha adalah potensi penurunan daya beli masyarakat. Dalam situasi seperti ini, UMKM cenderung memilih langkah efisiensi dibandingkan menaikkan harga jual produk.
Efisiensi tersebut bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti mengurangi kuantitas atau kualitas produk, hingga menekan penggunaan tenaga kerja.
Namun, langkah ini juga berisiko terhadap kualitas produk dan keberlangsungan usaha dalam jangka panjang.
Gunawan menambahkan, kenaikan harga plastik sebenarnya hanya menambah beban biaya sekitar Rp95 hingga Rp100 per kilogram produk. Namun, dalam praktiknya, pedagang sulit menaikkan harga dalam nominal kecil.
“Tidak mungkin pedagang hanya menaikkan harga Rp100. Biasanya pembulatan harga dilakukan menjadi Rp500 bahkan sampai Rp1.000 karena faktor kemudahan transaksi dan keterbatasan uang receh,” jelasnya.
Kondisi ini dinilai berpotensi menciptakan tekanan inflasi yang lebih tinggi dari seharusnya. Kenaikan harga yang tidak proporsional dengan tambahan biaya produksi dapat mempercepat laju inflasi, meski sebenarnya tidak diperlukan.
Pelaku UMKM Mulai Naikkan Harga
Dampak kenaikan biaya ini mulai dirasakan langsung oleh pelaku usaha di lapangan. Tata (34), pengusaha dimsum di Binjai, mengaku telah menaikkan harga jual produknya sebesar Rp1.000 per pcs.
Ia menyebut, kenaikan ini bukan hanya dipicu oleh mahalnya harga plastik, tetapi juga lonjakan harga bahan baku utama seperti ayam dalam beberapa bulan terakhir.
“Harga ayam kemarin masih bisa lah dipaksakan dengan harga jual biasa. Ini tambah harga plastik pun naik. Jadi terpaksa harus menaikkan harga,” ungkapnya.
Hal serupa juga disampaikan Rial (57), pedagang buah yang telah berjualan sekitar 20 tahun. Ia mengungkapkan harga plastik naik cukup signifikan dari kisaran Rp30 ribu menjadi Rp50 ribuan per kilogram.
“Rata-rata naik. Dari harga Rp30 ribu sekarang jadi Rp50 ribuan sekilonya,” ujar Rial.
Dalam aktivitas sehari-hari, Rial mengaku penggunaan plastik bisa mencapai hampir seperempat kilogram per hari, bahkan lebih. Kenaikan harga ini telah dirasakannya sejak hampir sebulan terakhir pasca Lebaran.
Untuk menyiasati kondisi tersebut, ia terpaksa menaikkan harga jual buah, meski dilakukan secara bertahap agar tidak memberatkan pelanggan.
“Buahnya naik sedikitlah, biar tetap dapat untung. Kalau harga tetap, nggak bisa nutup biaya,” katanya.
Meski demikian, Rial tetap berhati-hati dalam menentukan harga agar tidak kehilangan pelanggan. Ia juga menilai sulit mengandalkan solusi seperti meminta pembeli membawa wadah sendiri.
“Yang penting naik dikit saja, jangan sampai pelanggan lari,” pungkasnya.
Gunawan menambahkan, dampak kenaikan harga plastik terhadap harga jual produk di level produsen memang berbeda-beda.
Industri seperti produsen minyak goreng dan air minum dalam kemasan akan merasakan dampak lebih besar karena ketergantungan tinggi terhadap bahan plastik.
Selain itu, sektor akomodasi makanan dan minuman juga menjadi salah satu yang paling terdampak.
Ia mengingatkan pentingnya perhatian dari berbagai pihak agar fenomena ini tidak berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih luas dan membebani masyarakat.
(cr26/tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
| Kadisdikbud Medan Ngaku Baru Tahu Pelajar Lewati Pipa Besi dan Jalur Berbahaya di Atas Sungai |
|
|---|
| Hadir di Retret Magelang, Ketua DPRD Sumut Harap Bisa Implementasikan ke Masyarakat |
|
|---|
| Pelajar di Medan Nekat Seberangi Sungai Lewat Pipa Setinggi Belasan Meter Demi Sekolah |
|
|---|
| Remaja 16 Tahun yang Hanyut di Sungai Belawan Medan Tuntungan Ditemukan Tewas Usai 3 Hari Pencarian |
|
|---|
| Jaksa yang Todongkan Senpi ke Sekuriti di Medan Ternyata Anak Eks Kepala BNN Mandailing Natal |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Seorang-pedagang-kaki-lima-menyiapkan-dagangan-menggunakan-plastik-kemasan-111.jpg)