Ramadan 2026

Dari Keluarga Pendeta Hingga Menemukan Hidayah, Perjalanan Hidup Junaedi Syaputra Pasaribu

Junaedi, yang akrab disapa Jun, menikah dengan istrinya yang berbeda agama pada tahun 2014.

TRIBUN MEDAN/Haikal Faried Hermawan
Junaedi Syaputra Pasaribu (36), menceritakan tentang kisahnya syahadat dan memeluk Islam saat ditemui kediamannya di Jalan Bahagia, Gang Kali nomor 47, Minggu (8/3/2026). 

TRIBUN-MEDAN .com, MEDAN - Perjalanan spiritual seseorang menuju keyakinan baru seringkali tidak mudah. 

Apalagi jika harus berhadapan dengan lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar.

Itulah yang dialami Junaedi Syaputra Pasaribu (36), seorang mualaf yang baru dua tahun lalu memutuskan memeluk agama Islam setelah 36 tahun hidup sebagai Kristen, dengan latar belakang anak seorang pendeta.

Junaedi, yang akrab disapa Jun, menikah dengan istrinya yang berbeda agama pada tahun 2014.

Saat itu, pernikahan mereka dilangsungkan secara Kristen, dan sang istri mengikuti keyakinan Junaedi. 

Namun, setelah 12 tahun berumah tangga, istri Junaedi kembali memeluk agama Islam.

"Saya ada buat salah, jadi istri saya ini balik lagi ke Islam. Dulu kan saya tarik ke Kristen, balik ke Muslim," ujar Junaedi saat ditemui di kediamannya, di Jalan Bahagia, Gang Kali nomor 47, Minggu (8/3/2026).

Perjalanan semakin kompleks ketika anak kedua mereka meninggal dunia. Saat itulah Junaedi mulai bertanya-tanya tentang arah kehidupan keluarganya. 

Istrinya memilih diam dan membiarkan Junaedi menemukan jalannya sendiri.

"Dia nunggu saya ini selama 12 tahun. Saya masuk Islam ini bukan karena anak, bukan karena istri," tegasnya.

Keajaiban datang saat musibah banjir melanda. Saat membersihkan rumah, tangan Junaedi menyentuh Al-Qur'an. 

Tanpa sengaja, ia membuka dan membaca terjemahan Al-Baqarah yang menjelaskan bahwa Al Qur'an ini diturunkan mengikuti kitab-kitab sebelumnya.

"Saya tengok Taurat, Zabur, Injil, baru Al-Qur'an. Makin saya baca, makin saya mengerti. Semua nabi yang ada di Alkitab ada di Al-Qur'an. Serupa tapi tak sama," kenangnya.

Perjalanan menuju syahadat tidaklah mudah. Junaedi sempat ditolak di Masjid Istiqlal dan beberapa tempat lainnya. 

Berkat bantuan sepupunya, ia akhirnya menemukan Mualaf Center dan bersyahadat di Masjid Agung As-Sakinah, di Komplek, Jalan  Citra Garden, Kelurahan Titi Rantai, Kecamatan Medan Baru.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved