Medan Terkini

Setelah Bencana dan Jelang Ramadan, Pemprov Sumut Pastikan Bahan Pokok Cukup dan Harga Stabil

Pemprov Sumut memastikan harga bahan pokok menjelang bulan Ramadan bakal stabil.

|
Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN MEDAN/Anisa Rahmadani
Seorang pembeli sedang membeli cabai di Pasar Kalangan Pandan Jalan Lintas Padang Sidimpuan-Sibolga, Rabu (10/12/2025). Menjelang puasa, Pemprov Sumut pastikan harga bapok tetap stabil. 

TRIBUN-MEDAN.COM – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) memastikan harga bahan pokok menjelang bulan Ramadan bakal stabil.

Hal itu dikarenakan, stok pangan di Sumut mengalami surplus (stok pangan melebihi kebutuhan konsumsi).

Pelaksana tugas Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumut, Timur Tumanggor mengatakan, selain itu pihaknya juga terus melakukan sejumlah program agar harga bapok tetap stabil di tahun 2026. 

Misalnya kata Timur, Program Jaminan Kestabilan Harga Komoditas Pangan (Jaskop) yang telah dilakukan sejak tahun 2025.

“Stok pangan kita sekarang surplus, sehingga menjelang bulan Ramadan hingga hari raya Idul Fitri nanti, kita pastikan kondisinya bisa tetap terjaga dan harga bahan pokok bisa stabil dan tidak terlalu naik,” jelasnya, Kamis (22/1/2026).

Dirincikan Timur, dari Program Jaskop tersebut, sepanjang tahun 2025 Sumut mengalami surplus beras. Produksi beras mencapai lebih dari 2.222.000 ton.

"Sementara kebutuhan masyarakat Sumut sekitar 1,7 juta ton per tahun, sehingga terdapat surplus sekitar 501 ribu ton. Kondisi ini juga menjadikan Sumut sebagai salah satu daerah penyuplai beras bagi provinsi lain," ucapnya.

Dijelaskan Timur, sejumlah komoditas pangan lainnya juga mengalami surplus.

"Diantaranya cabai merah sebesar 134 ribu ton, jagung 135 ribu ton, serta cabai rawit 65 ribu ton.

Namun diakuinya, harga cabai merah masih berpotensi berfluktuasi karena sebagian produksi dijual ke provinsi lain dengan harga lebih tinggi.

“Untuk harga cabai merah terkadang berfluktuasi karena cabai dijual ke provinsi lain dengan harga yang lebih tinggi, makanya kita lakukan intervensi saat panen untuk menjaga stok dan harga bisa terkendali,” kata Timur.

Pemprov Sumut juga melakukan intervensi melalui pengembangan kawasan unggulan padi di lima kabupaten/kota, antara lain Deliserdang, Serdangbedagai, dan Asahan. Sementara kawasan unggulan cabai merah dikembangkan di Kabupaten Karo dan Batubara.

“Untuk kawasan ini kita intervensi mulai dari pupuk juga bibitnya, supaya produksi kita tetap bisa surplus,”katanya.

Meski sejumlah sawah di Sumut alami kerusakan pasca bencana. Ia tetap optimis, Sumut bakal kembali Surplus Pangan di Tahun 2026. 

Diterangkannya, Berdasarkan data, terdapat 31.123 hektare lahan pertanian di Sumut yang terdampak bencana, dengan rincian rusak ringan lebih dari 22 ribu hektare, rusak sedang sekitar 4.500 hektare, dan rusak berat 4.560 hektare.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved