Natal dan Tahun Baru 2026
RENUNGAN NATAL: Mari Membangun Jembatan, bukan Tembok
Yesus lahir dalam kemiskinan, sungguh dalam rencana dan kehendak Bapa-Nya, supaya kita semua dikembalikan kepada hakikat dan siapanya kita.
RENUNGAN NATAL Oleh Pastor Supriyadi Pardosi, OFM Cap *)
JIKA ditanya, “Mengapa Tuhan harus menjadi manusia?”
Barangkali jawaban kita singkat dan sesimpel itu, “Untuk menyelematkan kita umat manusia.”
Tidak ada yang salah dengan jawaban itu.
Tetapi, Natal dan kelahiran Yesus Kristus di tengah-tengah kita kiranya tidak sesederhana itu.
Benar Dia datang hendak menyelamatkan kita, tetapi tidak hanya kita manusia, juga mesti kita pertanyakan dan renungkan, “Dengan cara dan pesan apa Dia hendak menyelamatkan kita?”
Tuhan dan iman kita Kristen sangat kaya dengan simbol.
Dalam kisah kelahiran-Nya, bersama Yusuf dan Maria, para gembala dan domba-dombanya, di atas palungan, Tuhan kita sesungguhnya memberi pesan yang sangat kaya dan dalam tentang makna kelahiran dan penebusan-Nya.
Bersama kedua orangtua-Nya, Yesus lahir di kandang dan di atas palungan yang hina.
Itu adalah kisah yang hanya mungkin bagi orang miskin.
Dan benar, St. Fransiskus Assisi pernah mengungkapkan itu – soal betapa penting makna kemiskinan dalam misi dan kehadiran Yesus di dunia – bahwa ‘yang pertama (kelahiran) dan yang terakhir (salib dan wafat) dari pengungkapan diri Tuhan ialah kemiskinan-Nya.
Yang artinya, seluruh kisah penebusan Tuhan mesti dimaknai dalam garis pesan utama-Nya di dalam kemiskinan.
Mengapa harus kemiskinan?
Siapa mau ditebus dalam kemiskinan?
Dan, siapa juga yang mau hidup miskin?
Kemiskinan di dalam kelahiran Tuhan adalah lonceng bagi semua orang, lonceng keselamatan, lonceng dari mestinya ada kelahiran yang baru bagi semua, alles voor allen, for all.
Jika tidak kemiskinan, keselamatan itu pasti parsial dan untuk segelintir.
Masih dari St. Fransiskus Assisi – yang sangat dikagumi oleh Alm. Paus Frasiskus yang mengangkat nama orang kudus dari Assisi itu menjadi nama kepausannya – ia sangat dikenal dengan pesannya tentang perutusan para pengikutnya, “Pergilah ke tempat dimana tak seorangpun mau pergi!”
Maksunya, ketika pengikutnya mau dan sanggup pergi ke tempat yang tak seorangpun mau ke sana, ke tempat manapun mereka akan mau diutus.
Juga dengan kemiskinan, ketika Tuhan memilihnya menjadi jalan dan rupa kelahiran-Nya – dan nanti dalam seluruh misi sampai wafat-Nya – makna untuk semua tanpa terkecuali adalah misi penebusan-Nya.
Karena itu, kelahiran Tuhan di tengah-tengah kita sangat lekat dengan kehadiran damai, pax in terra hominibus (damai di seluruh bumi), sebagaimana dinyayikan oleh para malaikat dalam kisah kelahiran itu.
Damai adalah kisah tentang semua.
Tidak ada damai bila ada yang terpinggirkan, bila ada yang diasingkan dan diparsialkan.
Dan, yang menyanyikannya ialah bala surgawi, yang artinya bukan hanya dunia, tetapi Surga dan dunia, semua alam semesta.
Pesan tentang kemiskinan ini juga sangat sejalan dengan pesan dua paus terakhir dalam Gereja Katolik, yakni Paus Fransiskus dan Paus Leo XIV.
Paus Fransiskus di masa kepausannya, seperti di masa awal kepausan Paus Leo XIV, sangat tegas mengungkapkan bahwa Gereja yang ia dambakan ialah Gereja yang miskin, yang berlumpur dan mau kotor untuk melayani orang-orang kecil dan sederhana.
Demikian juga Paus Leo XIV dalam dokumen pertama yang ia keluarkan setelah menjadi paus, Dilexi Te (Aku telah mengasihimu), berbicara cukup terang dan lugas tentang sikap Gereja yang mesti menempatkan orang-orang miskin dan sederhana di jantung hatinya.
Dalam setiap kunjungannya ke negara manapun, Paus Fransiskus selalu meminta supaya orang-orang kecil, sederhana dan miskin dihadirkan di hadapannya.
Salah satunya ialah anak-anak kecil, difabel, dan anak-anak yatim-piatu.
Mereka adalah representasi dari orang-orang yang tidak mampu, orang-orang yang dari dirinya tidak sanggup dan serba tidak ada, bahkan berke-kurang-an.
Sementara Paus Leo XIV dalam dokumen pertama yang ia keluarkan itu, dalam satu pesannya berkata, “Orang miskin adalah guru kita!”.
Kedua paus ini sungguh memahami sari iman yang dikehendaki Tuhan, termasuk dalam warna dan cerita khas dari kelahiran-Nya yang kita kenangkan hari ini.
Melalui kedua paus tersebut, pesan simbolis kelahiran Tuhan tentang roh kemiskinan itu kiranya semakin terang bagi kita.
Kemiskinan adalah hakikat kemanusiaan kita.
Kemiskinan adalah DNA, jiwa dan rohnya setiap kita.
Sekaya-kayanya manusia, dia tidak bisa mengingkari kemiskinannya.
Selimpah-limpahnya hartanya, manusia tidak bisa menyembunyikan kehinaan dan kemiskinannya.
Dia adalah makhluk yang dari dirinya tidak sanggup untuk hidup, yang serba tidak ada dan berke-kurang-an.
Manusia bisa hidup hanya karena yang lain, terutama oleh alam yang mengasuh dan memeliharanya, termasuk oleh sesamanya.
Di dalam semangat kemiskinan seperti itu, seberapapun yang dimiliki seorang manusia, kiranya ia tetap ingat bahwa semuanya hanyalah sarana baginya untuk terhubung dengan yang lain.
Apapun yang ada padanya kiranya menyadarkannya bahwa tidak ada yang dapat ia lakukan.
Hidupnya tidak akan bermakna bila ia tidak sadar bahwa ada dan hidupnya hanya mungkin karena kehadiran yang lain di luar dirinya.
Itu sebabnya, Natal, kelahiran Tuhan adalah sukacita bagi kita bahwa kita ikut serta dilahirkan kembali, diingatkan dan dibukakan mata kita tentang siapa kita sebenarnya.
Kita terlahir kembali.
Kita dikembalikan kepada nada dasar kita.
Kita dibawa pulang dan kembali ke asal dan murninya kita.
Mengapa kita hidup susah dan menderita?
Sebenarnya bukan karena kita tidak punya apa-apa.
Justru sebaliknya, kita mau punya semuanya.
Akibatnya kita konflik dengan saudara kita, dengan tetangga kita, dengan teman sepekerjaan kita, dan terutama sebenarnya dengan diri kita sendiri.
Apa yang menjadi kontra kemanusiaan kita yang asali dan murni itu hari-hari ini, pada jaman ini, ialah keserakahan kita.
Kita merasa kitalah makhluk yang paling mulia, dan itu harus diisi dan diukur dengan seberapa banyak yang kita miliki, baik dari segi harta dan presitse.
Kita terjebak dalam perangkap kehausan dan kelaparan tanpa batas.
Dan tidak jarang, dalam nuansa itu, kita tidak lagi menjadi manusia, tetapi homo homini lupus, kita menjadi serigala bagi sesama dan makhluk yang lain.
Dalam bencana yang terjadi di tiga propinsi Indonesia saat ini, permenungan Natal ini kiranya sangat bersentuhan dengannya dan semakin kuat menyapa dan menegur kita.
Alam yang “marah” dan meluluhlantakkan sejumlah daerah di bumi Sumatera adalah alarm bagi kita bahwa kita bukan siapa-siapa.
Sikap serakah dari sejumlah pihak – yang tak perlu kita sebut siapa, meskipun sangat memilukan dan tidak bertanggungjawab – sekali lagi telah mendatangkan bencana dan penderitaan yang mendalam bagi saudara-saudara kita dan kita semua.
Mereka yang merusak alam kita, mengeruk dan mengisapnya sesuka hati demi kekayaan dan ketakamakannya adalah representasi dari semua sikap kita yang kerap kali memisahkan diri dari yang lain, dari alam dan dari makna semua.
Kejadian yang sama tidak akan pernah selesai dan diperbaiki, bila kita masih saja terus berpikir bahwa yang lain bukan diri kita, bahwa kita bisa hidup tanpa yang lain, apalagi yang lain dipandang lebih rendah dan dapat dimanfaatkan sesuka hati.
Sebaliknya, Yesus lahir dalam kemiskinan, sungguh dalam rencana dan kehendak Bapa-Nya, supaya kita semua dikembalikan kepada hakikat dan siapanya kita.
Kita makhluk paling lemah, paling rapuh, dan seharusnya paling bersyukur, karena kita hanya bisa ada dan hidup karena kehadiran makhluk yang lain yang menopang dan memelihara kita.
Dalam semangat kemiskinan seperti itu juga, kiranya kita sampai pada iman dan sikap bersama, berbela rasa, saling menjaga, saling bergandeng tangan dan untuk semua.
Jangan sampai kita punya kecenderungan untuk membangun tembok, bukan jembatan sebagaimana disebut Paus Fransiskus dalam Laudato Si–nya.
Semua sikap yang bertentangan dengannya adalah wujud dan lukisan bahwa kita bukanlah manusia yang pantas merayakan Tuhan yang mau menjadi seorang di antara kita.
Pace e bene! Damai dan kebaikan!
| Kendaraan Membludak di Pelabuhan Ajibata, ASDP Siapkan Skema Pelayaran Hingga Dini Hari |
|
|---|
| Bobby Nasution Tiadakan Pesta Kembang Api, Pemprov Sumut Fokus Doa Bersama di Malam Tahun Baru |
|
|---|
| Rico Waas Bersama TNI–Polri Patroli Skala Besar Malam Natal, Datangi HKBP dan Katedral |
|
|---|
| Momen Kudus, Natal di Gereja Katedral Medan 2025, Usung Tema Matius 1:21-24 |
|
|---|
| Natal di Tengah Luka, Begini Umat Katolik Huta Godang Merayakan Natal setelah Banjir Bandang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Pastor-Supriyadi-Pardosi_Renungan-Natal_.jpg)