Tari Artika Tarigan, Pilih Menata Hidup Lewat Usaha Rumahan

ia mencoba menata ulang hidupnya melalui usaha rumahan yang kini menjadi ruang bertahan sekaligus tempatnya memulihkan semangat.

Tayang:
TRIBUN MEDAN/Husna Fadilla Tarigan
Tari Artika Tarigan 

“Pas aku butuh, mereka selalu ada,” katanya.

Dukungan juga datang dari sang suami yang meski tidak selalu bisa hadir secara fisik, tetap berusaha memenuhi kebutuhan Tata selama menjalani pengobatan.

“Suami juga selalu dukung. Walau pun dia jauh, apa pun yang aku perlu dia siap kasih,” ujarnya.

Pentingnya Periksa Kesehatan sejak Dini

Di balik perjalanan panjang menghadapi autoimun dan lupus, Tata juga ingin menyampaikan satu hal penting kepada masyarakat, jangan takut memeriksakan kesehatan sejak dini.

Menurutnya, masih banyak orang yang menghindari pemeriksaan kesehatan karena takut mengetahui penyakit yang diderita. Padahal, semakin cepat suatu penyakit terdeteksi, semakin besar peluang untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

“Stop bilang takut periksa kesehatan karena takut ketahuan sakitnya. Cepat ketahuan, cepat ditindak, cepat dikasih obat yang tepat,” ujarnya.

Ia menilai, deteksi dini sangat membantu dokter dalam menangani pasien secara maksimal, terutama untuk penyakit autoimun yang sering kali gejalanya tidak disadari sejak awal.

Selain itu, Tata juga berharap masyarakat dapat lebih memahami kondisi para penyintas autoimun. Sebab, tidak semua penyakit terlihat secara fisik.

“Orang sering sepele pas lihat aku segar. Dipikir sakit main-main karena enggak kelihatan sakit,” katanya.

Padahal, lanjut Tata, di dalam tubuh penyintas autoimun terjadi ‘perang’ yang tidak terlihat oleh orang lain.

“Autoimmune itu penyakit yang akan terus ada selama kami hidup. Ada yang kelihatan secara fisik, ada juga yang enggak kelihatan sama sekali kayak aku. Tapi di dalam tubuh, autoimmune terus menyerang,” ujarnya.

Ia berharap masyarakat tidak mudah menghakimi penyintas penyakit kronis sebagai orang yang berlebihan saat mengeluhkan rasa lelah.

“Kami bilang badan capek, orang lain bilang lebay. Padahal memang capek,” katanya.

Selain stigma soal kondisi fisik, Tata juga pernah menerima komentar yang cukup melukai hatinya terkait kondisi kesehatannya yang membuat dokter melarangnya hamil lagi.

“Itulah dulu dibilang punya anak rapat-rapat aja malah nunda-nunda,” ucap Tata menirukan komentar seseorang yang masih diingatnya sampai sekarang.

Bagi Tata, kalimat itu sangat menyakitkan karena tidak ada seorang pun yang pernah tahu bahwa pada 2022 dirinya akan didiagnosis sakit dan kemungkinan tidak bisa memiliki anak lagi.

Kini, harapan Tata sederhana. Ia berharap kondisi kesehatannya semakin stabil, frekuensi transfusi berkurang, dosis obat bisa dikurangi, dan hidupnya tidak terus dipenuhi jadwal bertemu dokter spesialis.

“Harapannya enggak muluk-muluk. Minimal transfusi bisa enam bulan sekali aja, dosis obat dikurangi, dan enggak ada lagi banyak dokter spesialis di hidup aku,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Di atas semua itu, ada satu hal yang paling ia syukuri sampai hari ini.

“Aku masih bisa bangun setiap pagi, masih lihat anak aku tumbuh, dan aku masih jadi dunianya,” katanya.

Untuk para perempuan lain yang mungkin sedang berjuang menghadapi penyakit kronis atau masalah hidup lainnya, Tata punya pesan sederhana namun hangat.

“Sayang sama diri sendiri. Kalau capek istirahat, kalau enggak mampu bilang. Jangan sok kuat, dan harus bahagia,” tuturnya.

 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved