Fasilitasi Tujuh Peserta Disabilitas, Puluhan Ribu Calon Mahasiswa Antusias Ikuti UTBK-SNBT

Selain itu, sebanyak tujuh peserta disabilitas juga difasilitasi agar memiliki kesempatan yang sama dengan peserta lain.

Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN MEDAN/ISTIMEWA
PENERIMAAN MAHASISWA BARU - Sejumlah peserta mengerjakan soal saat mengikuti Ujian Tertulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, Selasa (21/4/2026). Sebanyak 36.771 peserta mengikuti UTBK-SNBT PTN, yang digelar dari 21 hingga 30 April 2026. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2026 di Panitia Lokal Universitas Sumatera Utara resmi dimulai Selasa (21/4/2026).

Sebanyak 36.771 peserta tercatat mengikuti ujian di Panlok USU untuk memperebutkan 3.008 kursi jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).

Rektor Universitas Sumatera Utara, Prof Muryanto Amin mengatakan, pelaksanaan UTBK tahun ini berlangsung selama 20 sesi, mulai 21 April hingga 30 April 2026. Selain di Medan, ujian juga digelar di dua titik lain di wilayah Nias.

Menurutnya, panitia memastikan pelaksanaan ujian berjalan aman, tertib, serta bebas dari praktik kecurangan. Pengawasan dilakukan dengan memeriksa berbagai potensi anomali data peserta.

“Kami cek berbagai kemungkinan, termasuk peserta yang berdomisili di luar daerah namun memilih lokasi ujian di sini,” ujarnya.

Selain itu, sebanyak tujuh peserta disabilitas juga difasilitasi agar memiliki kesempatan yang sama dengan peserta lain.

Ada pun total daya tampung jalur SNBT 2026 di USU sebanyak 3.008 kursi, terdiri dari 2.534 kursi program sarjana (S1), 274 kursi vokasi terapan, dan 200 kursi diploma.

Baca juga: Daftar Lokasi UTBK-SNBT 2026 Panlok USU, Peserta Diimbau Cek Ruang Ujian

Di lokasi ujian, suasana ramai juga terlihat dari kehadiran para orangtua yang setia mengantar dan menunggu anak mereka. Salah satunya Dewi (38), warga Tembung, yang datang bersama keluarga untuk mendampingi putrinya, Iliyin Syahfitri (17), untuk mengikuti UTBK.

Dewi mengatakan, ia datang dari Tembung bersama ibu, ayah, dan adik peserta. Mereka berangkat menggunakan mobil pribadi sejak pagi agar anaknya bisa mengikuti ujian dengan tenang.

“Kami ramai-ramai datang. Semua keluarga antusias mendukung,” ujarnya.
Iliyin merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Dewi menyebut putrinya memilih jurusan Kedokteran Gigi karena sudah memiliki keinginan tersebut sejak duduk di bangku SMA.

“Awalnya dia pasang behel, terus tertarik lihat dokter gigi. Dari situ termotivasi, jadi pengen masuk Kedokteran Gigi,” katanya.

Menurut Dewi, keluarga terus memberi semangat dan gambaran mengenai masa depan profesi dokter gigi, meski masa studi yang harus ditempuh cukup panjang.

“Kami bilang kalau memang mau, harus semangat. Kuliahnya lama, bisa enam sampai tujuh tahun, tapi hasilnya nanti Insya Allah baik,” ucapnya.

Untuk pilihan kampus, Iliyin menjadikan Universitas Andalas sebagai pilihan utama dan Universitas Syiah Kuala sebagai pilihan berikutnya. Dewi mengaku ikut membantu mencari informasi terkait peluang masuk dan nilai persaingan di masing-masing kampus.

“Saya tanya-tanya juga sama tetangga, saudara, lihat-lihat informasi skor. Mana yang peluangnya lebih besar, itu kami pertimbangkan,” katanya.

Ia mengaku memiliki harapan besar agar anak-anaknya dapat menempuh pendidikan lebih tinggi dari orangtuanya. Menurutnya, pendidikan tetap penting sebagai bekal masa depan.

“Kalau bisa anak lebih dari ibunya. Semua harus kuliah, harus sukses,” ujar Dewi.

Dewi sendiri sehari-hari membantu usaha keluarga berjualan beras dan gas elpiji tiga kilogram di kawasan Tembung, sementara suaminya bergerak di bidang properti dan pembangunan rumah.

Ia berharap putrinya dapat menjalani ujian dengan lancar dan memperoleh hasil terbaik sehingga bisa diterima di perguruan tinggi impiannya.

Cerita serupa datang dari Udur Siahaan (46), warga Martubung, yang mengantar keponakannya Lestari Siahaan (18). Lestari memilih jurusan Kedokteran Gigi dan juga mencoba beberapa jalur masuk perguruan tinggi lain.
Menurut Udur, keponakannya yang datang dari Balige itu sudah mempersiapkan diri sejak setahun terakhir lewat bimbingan belajar.

“Namanya dia mau sekolah tinggi, ya kami dukung. Mana yang terbaik nanti, itulah jalannya,” ujarnya.

Udur sudah menunggu selama 2 jam, untuk jadwal ujian Lestari yang masuk pada sesi kedua kemarin. 
Meski pun sudah lama menunggu, antusiasnya memberi semangat kepada ponakan tak surut. Ia yakin, keponakannya bisa berjuang dengan maksimal dengan semua persiapan yang sudah dibuat.

“Kami juga sudah siapkan bontot ini untuk makan siang. Lengkap lah persiapan,” ungkapnya.

Berjuang dari Daerah yang Jauh 

Bertepatan dengan Hari Kartini di 21 April ini, Tribun Medan bertemu langsung dengan sosok Kartini masa kini.

Kartini Berutu (44) namanya. Ia datang jauh-jauh dari Kabupaten Pakpak Bharat untuk mendampingi putrinya menuju pendidikan tinggi, Yessia Anak Ampun (18), yang memilih Kedokteran Gigi dan Ilmu Keperawatan melalui Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2026 di Panitia Lokal Universitas Sumatera Utara. 

Perjalanan panjang ditempuh menggunakan travel demi bisa hadir di hari ujian sang anak. Kartini mengaku sempat khawatir soal biaya kuliah, namun tetap memilih mendukung cita-cita anaknya menjadi dokter.

Di kampung Kartini dan suami bertani kopi, penghasilan yang tak menentu sempat membuat mereka ragu untuk memberi dukungan kepada putrinya.

“Ada kekhawatiran soal biaya, tapi kalau memang itu cita-citanya, kami usahakan. Yang penting lulus dulu,” katanya.

Tetapi, Kartini merasa sedih jika harus mematahkan semangat anaknya untuk menggapai cita-cita.
Kartini menyebut putrinya sejak kecil memang bercita-cita menjadi dokter. Karena itu, keluarga terus memberi semangat meski harus berjuang dari daerah yang jauh.

 

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved