Siapkan Perayaan Sederhana Bareng Teman, Muhdaril Jalani Ramadan dan Idul Fitri di Belanda
Ia juga menemukan keunikan lain, yakni perbedaan waktu imsak dan berbuka antar masjid yang lokasinya berdekatan.
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Menjelang Hari Raya Idul Fitri, kerinduan akan kampung halaman semakin terasa bagi para perantau. Hal itu juga dirasakan Muhdaril Ahda, mahasiswa asal Kota Medan yang kini menjalani tahun kedua studi di Wageningen, Belanda.
Ramadan tahun ini menjadi pengalaman berbeda baginya. Jika pada tahun pertama ia masih beradaptasi dengan ritme kuliah dan puasa, kini tantangan lebih banyak datang dari penyusunan tesis serta perubahan durasi waktu berpuasa.
“Puasa di sini makin lama makin panjang karena mendekati musim panas. Di awal Ramadan kemarin sekitar 11 sampai 12 jam, sekarang sudah sekitar 12,5 jam menjelang Idul Fitri,” ujarnya.
Untuk mengetahui jadwal salat dan berbuka, Muhdaril biasanya menggunakan aplikasi Mawaqit. Ia juga menemukan keunikan lain, yakni perbedaan waktu imsak dan berbuka antar masjid yang lokasinya berdekatan.
“Katanya karena perbedaan mazhab atau metode penentuan waktu sesuai negara asal komunitas masjidnya. Jujur saya juga kurang paham, tapi memang bisa berbeda cukup jauh,” katanya.
Baca juga: Sentuhan Ramadan, Wakapolres Pematangsiantar Berbagi Takjil kepada Pengendara
Muhdaril tinggal di Wageningen, kota kecil di Provinsi Gelderland yang dikenal sebagai kota pelajar dengan suasana tenang dan kental dengan aktivitas pertanian.
Meski mengaku puasa tidak terlalu berat karena cuaca lebih sejuk dibanding Indonesia, ia sangat merindukan tradisi berburu takjil.
“Takjil yang paling dirindukan. Di sini susah. Kadang ada komunitas pelajar Indonesia atau muslim yang bagi-bagi takjil gratis, tapi harus cepat. Karena tempat tinggalku jauh dari kampus, seringnya enggak kebagian, jadi masak sendiri,” ujarnya.
Menu sederhana seperti bakwan kerap menjadi pilihan untuk berbuka agar tetap merasakan suasana Ramadan ala Indonesia.
Selain itu, komunitas muslim internasional di Kampus Wageningen yang tergabung dalam Avicenna juga rutin menggelar iftar bersama. Kegiatan ini menjadi ajang bertukar budaya dengan mahasiswa muslim dari berbagai negara.
Bahkan, menurut Muhdaril, pernah ada komunitas agama Kristen di kampus yang menginisiasi buka puasa bersama dengan konsep potluck.
“Mereka sampai memastikan bahan makanan halal dan alat masak yang dipakai aman. Itu pengalaman yang berkesan sekali,” katanya.
Dapat Makanan Khas Indonesia Gratis
Muhdaril mengenang, Lebaran tahun lalu ia rayakan di Den Haag, tepatnya di masjid komunitas muslim Indonesia di Belanda.
“Suasananya seperti salat di rumah. Habis Salat Id dapat makanan khas Indonesia gratis, seperti bakso,” ujarnya.
| RATUSAN PERSONIL GABUNGAN DITERJUNKAN Untuk Pengamanan Pawai Obor 2025, Sambut Bulan Ramadhan 1446 H |
|
|---|
| 10 Tradisi Menyambut Bulan Suci Ramadan dari Berbagai Daerah di Indonesia |
|
|---|
| Beberapa Amalan Jelang Bulan Suci Ramadhan 2023, Mengganti Puasa Hingga Memperbanyak Doa |
|
|---|
| Baru Seminggu Ramadan, Rumah Produksi Kue Difa Sudah Mulai Kebanjiran Orderan |
|
|---|
| Airlangga Hartarto: Semoga Ibadah Ramadhan Tahun ini Lebih Khusyuk |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Seorang-mahasiswa-Indonesia-berpose-di-kawasan-perkotaan-di-Belanda-1.jpg)