Elsyania Putri, Dari Trauma Bullying ke Panggung MC
Bagi El, kegiatan relawan memberinya ruang untuk bertemu orang-orang baru. Hal itu justru menjadi sesuatu yang sangat ia nikmati.
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Eti Wahyuni
Menjadi Master of Ceremony (MC) membantu El untuk mandiri secara finansial. Ia merasa tidak enak terus bergantung kepada orangtua.
“Kalau punya skill dan bisa menghasilkan, kenapa tidak? Apalagi aku memang suka bertemu orang banyak,” katanya.
Ke depan, El berharap dapat segera menyelesaikan studinya di Universitas Medan Area tahun ini. Ia juga ingin mengembangkan diri menjadi seorang konten kreator.
Bagi El, pengalaman pahit masa lalu tidak selalu harus menjadi luka yang terus dibawa. Ia berharap kisahnya bisa menjadi penyemangat bagi siapa saja yang pernah mengalami perundungan.
“Trauma itu pasti ada dan mungkin tidak akan hilang sepenuhnya. Tapi jangan sampai kita terus merasa tidak pantas. Justru mungkin dari pengalaman itu kita jadi lebih kuat,” ujarnya.
Dari seorang remaja yang pernah takut bertemu orang lain, El kini justru berdiri di depan banyak orang, menghidupkan suasana dan menghibur banyak orang di berbagai acara.
Baginya, panggung bukan lagi tempat yang menakutkan melainkan ruang untuk menemukan kembali dirinya.
Bagi El, pengalaman menjadi korban perundungan memang meninggalkan luka yang tidak mudah hilang. Namun ia percaya, pengalaman tersebut tidak seharusnya membuat seseorang terus terjebak dalam rasa takut.
Menurutnya, banyak orang yang saat mengalami bullying merasa dirinya bersalah atau tidak pantas diterima di lingkungan sekitar, padahal hal itu tidak benar.
Ia berpesan agar siapa pun yang pernah mengalami hal serupa tidak terus menyalahkan diri sendiri dan berusaha bangkit dari pengalaman tersebut.
Trauma dan rasa sedih mungkin tetap ada, tetapi hal itu bisa menjadi pelajaran yang justru membuat seseorang lebih kuat dan berani menghadapi masa depan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Elsyania-Putri-Hasugian.jpg)