Elsyania Putri, Dari Trauma Bullying ke Panggung MC
Bagi El, kegiatan relawan memberinya ruang untuk bertemu orang-orang baru. Hal itu justru menjadi sesuatu yang sangat ia nikmati.
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Bagi Elsyania Putri Hasugian, berdiri di depan banyak orang sebagai master of ceremony (MC) bukan sekadar pekerjaan. Di balik senyum dan energinya saat memandu acara, ada perjalanan panjang melawan trauma masa lalu yang pernah membuatnya takut bertemu orang baru.
Perempuan yang akrab disapa El ini kini dikenal aktif sebagai MC di berbagai acara komunitas, khususnya event K-Pop di Kota Medan. Selain itu, mahasiswa Universitas Medan Area ini juga aktif menjadi relawan di berbagai kegiatan sosial.
“Sekarang lagi fokus skripsi juga, tapi tetap ikut volunter. Alhamdulillah juga lagi banyak job MC yang masuk,” kata El saat berbincang santai.
Bagi El, kegiatan relawan memberinya ruang untuk bertemu orang-orang baru. Hal itu justru menjadi sesuatu yang sangat ia nikmati.
“Aku merasa nyaman saja. Ternyata aku menemukan kesenangan saat bertemu orang baru,” ujarnya.
Baru-baru ini, ia bersama komunitasnya juga sempat terlibat sebagai relawan ke Aceh Tamiang dan Aceh Tengah. Pengalaman itu menambah daftar kegiatan sosial yang ia jalani di tengah kesibukan kuliah dan pekerjaan.
Namun, perjalanan El menuju titik percaya diri seperti sekarang tidaklah mudah.
Baca juga: GURU Agama Diduga Jadi Korban Bullying, Korban Dilempar Kursi oleh Kepsek SD di Sebatik
Saat duduk di bangku SMP, El pernah mengalami perundungan yang sangat membekas dalam hidupnya. Kala itu, kondisi ekonomi keluarganya sedang sulit. Ia bersekolah di salah satu sekolah yang cukup bergengsi, di mana sebagian besar teman-temannya berasal dari keluarga yang lebih berada.
“Waktu itu ekonomi keluarga lagi jatuh. Teman-temanku banyak yang tiap minggu ke mal, bisa beli apa saja. Sedangkan aku terbatas,” kenangnya.
Perbedaan kondisi tersebut membuat El menjadi sasaran ejekan teman-temannya. Bahkan, ia pernah mengalami kejadian yang hingga kini masih ia ingat dengan jelas.
“Pernah aku dikurung di gudang sekolah. Dari luar mereka ngejek, bilang ‘gendut’, ‘gajah Sumatera’. Sampai akhirnya asmaku kambuh baru mereka buka pintunya,” ujarnya.
Ia sempat melaporkan kejadian itu kepada guru bimbingan konseling. Namun, respons yang ia terima justru membuatnya semakin merasa sendirian.
“Dibilang cuma bercanda. Waktu itu aku merasa seperti tidak ada yang melindungi,” katanya.
Pengalaman itu membuat El menjadi sangat tertutup dan takut berteman. Bahkan ketika masuk SMA di sekolah baru, rasa takut itu masih menghantuinya.
“Aku takut ditolak lagi. Takut kejadian yang sama terulang,” ungkapnya.
Namun perlahan, pengalaman di SMA justru mengubah pandangannya. Ia menemukan lingkungan pertemanan yang lebih suportif.
“Alhamdulillah teman-temanku baik. Dari situ aku mulai mikir, buat apa terus-terusan terjebak di masa lalu,” ujarnya.
Sejak kecil sebenarnya El sudah akrab dengan dunia panggung. Saat masih duduk di bangku SD, ia aktif mengikuti lomba menyanyi bahkan pernah mewakili Sumatera Utara dalam kompetisi di Bali.
“Aku merasa memang suka tampil di depan orang. Tapi waktu SMP diperlakukan seperti itu, aku merasa seperti tidak pantas berada di depan orang banyak,” katanya.
Kesempatan untuk kembali menemukan keberaniannya datang pada 2023. Saat itu, seorang temannya yang memiliki event organizer K-Pop membuka peluang bagi El untuk mencoba menjadi MC.
“Aku cuma iseng tanya, boleh nggak jadi MC? Ternyata dibolehin,” ujarnya sambil tertawa.
Dari acara kecil itulah perjalanan El sebagai MC dimulai. Tanpa pelatihan khusus, ia belajar langsung dari pengalaman.
“Aku nggak pernah belajar khusus MC. Awalnya cuma seperti ngobrol saja dengan teman-teman. Tapi dari situ aku belajar dari pengalaman, dari kesalahan juga,” katanya.
Seiring waktu, El semakin dikenal di komunitas K-Pop Medan. Ia bahkan bersama teman-temannya membentuk kelompok performer bernama Nolek Aja, yang kerap mengisi acara karaoke K-Pop atau norebang sekaligus memandu acara.
Kini, El tidak hanya menjadi MC, tetapi juga crowd leader yang bertugas membangun suasana acara.
Meski terlihat percaya diri di atas panggung, El mengakui rasa gugup masih sering muncul setiap kali akan memandu acara.
“Walau pun sudah puluhan kali MC, tetap saja sebelum naik panggung masih ada rasa takut,” katanya.
Namun ia belajar menerima rasa itu sebagai bagian dari proses.
“Sekarang sudah lebih bisa menghadapinya. Ternyata kalau dijalani ya biasa saja,” ujarnya.
Manfaatkan Skill untuk Mandiri Finansial
Menjadi Master of Ceremony (MC) membantu El untuk mandiri secara finansial. Ia merasa tidak enak terus bergantung kepada orangtua.
“Kalau punya skill dan bisa menghasilkan, kenapa tidak? Apalagi aku memang suka bertemu orang banyak,” katanya.
Ke depan, El berharap dapat segera menyelesaikan studinya di Universitas Medan Area tahun ini. Ia juga ingin mengembangkan diri menjadi seorang konten kreator.
Bagi El, pengalaman pahit masa lalu tidak selalu harus menjadi luka yang terus dibawa. Ia berharap kisahnya bisa menjadi penyemangat bagi siapa saja yang pernah mengalami perundungan.
“Trauma itu pasti ada dan mungkin tidak akan hilang sepenuhnya. Tapi jangan sampai kita terus merasa tidak pantas. Justru mungkin dari pengalaman itu kita jadi lebih kuat,” ujarnya.
Dari seorang remaja yang pernah takut bertemu orang lain, El kini justru berdiri di depan banyak orang, menghidupkan suasana dan menghibur banyak orang di berbagai acara.
Baginya, panggung bukan lagi tempat yang menakutkan melainkan ruang untuk menemukan kembali dirinya.
Bagi El, pengalaman menjadi korban perundungan memang meninggalkan luka yang tidak mudah hilang. Namun ia percaya, pengalaman tersebut tidak seharusnya membuat seseorang terus terjebak dalam rasa takut.
Menurutnya, banyak orang yang saat mengalami bullying merasa dirinya bersalah atau tidak pantas diterima di lingkungan sekitar, padahal hal itu tidak benar.
Ia berpesan agar siapa pun yang pernah mengalami hal serupa tidak terus menyalahkan diri sendiri dan berusaha bangkit dari pengalaman tersebut.
Trauma dan rasa sedih mungkin tetap ada, tetapi hal itu bisa menjadi pelajaran yang justru membuat seseorang lebih kuat dan berani menghadapi masa depan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Elsyania-Putri-Hasugian.jpg)