Ramadan Picu Lonjakan Sampah hingga 20 Persen, Kemasan Sekali Pakai Memperparah
Hal itu disampaikan Karina dari Aksata Pangan Food Bank Medan saat diwawancarai terkait isu pemborosan makanan di Bulan Puasa.
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Fenomena ‘lapar mata’ saat berburu takjil di bulan Ramadan dinilai turut memicu peningkatan timbunan sampah makanan dan kemasan sekali pakai. Kondisi ini bahkan tercatat secara nasional mengalami lonjakan hingga 10 - 20 persen selama Ramadan.
Hal itu disampaikan Karina dari Aksata Pangan Food Bank Medan saat diwawancarai terkait isu pemborosan makanan di Bulan Puasa.
“Memang berdasarkan laporan nasional ada peningkatan timbunan sampah sekitar 20 persen selama Ramadan. Peningkatan ini didominasi oleh sampah makanan dan kemasan sekali pakai,” ujarnya.
Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan tren kenaikan volume sampah saat Ramadan.
Selain sisa makanan, kemasan plastik dan styrofoam dari takjil juga memperparah beban tempat pembuangan akhir (TPA).
Karina menjelaskan, sampah makanan yang tidak dikelola dengan baik dan berakhir di TPA akan menghasilkan gas metana (CH4). Gas ini merupakan salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi besar terhadap pemanasan global.
“Gas metana itu 25 sampai 80 kali lebih kuat dampaknya dibanding CO2 dalam memerangkap panas. Jadi ketika sampah makanan bercampur di TPA tanpa pengelolaan, dampaknya besar terhadap perubahan iklim,” jelasnya.
Baca juga: Wabup Toba Pimpin Rapat Koordinasi Pengelolaan Sampah, Tekankan Kesadaran dan Inovasi Penanganan
Selain itu, kemasan sekali pakai seperti plastik dan styrofoam membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai. Plastik yang terdegradasi akan menjadi mikroplastik dan berpotensi mencemari rantai makanan.
Ia menambahkan, isu mikroplastik kini menjadi perhatian global karena telah ditemukan dalam berbagai sumber pangan, bahkan pada tubuh manusia.
Dari sisi sosial, Karina menilai pemborosan makanan sangat ironis. Berdasarkan kajian Kementerian PPN/Bappenas tahun 2021, Indonesia menghasilkan 115–184 kilogram sampah makanan per kapita per tahun. Jika tidak terbuang, jumlah tersebut berpotensi memberi makan sekitar 49 persen populasi Indonesia yang membutuhkan.
“Masih banyak masyarakat yang kesulitan akses pangan, tapi di sisi lain makanan terbuang begitu saja. Ini yang coba kami lawan melalui gerakan penyelamatan pangan,” katanya.
Aksata Pangan sebagai food bank di Medan berupaya menyelamatkan makanan berlebih yang masih layak konsumsi dari berbagai sumber untuk kemudian didistribusikan kepada masyarakat membutuhkan.
Di Kota Medan sendiri, berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup, sisa makanan mendominasi timbunan sampah di TPA Terjun, terutama saat Ramadan.
Riset Universitas Sumatera Utara (USU) juga mencatat rata-rata timbulan sampah warga Medan mencapai 0,222 kilogram per orang per hari, dengan komposisi terbesar berasal dari sampah organik.
| Pemkab Toba Sosialisasikan Pembentukan Bank Sampah Unit di Perangkat Daerah |
|
|---|
| Wabup Toba Pimpin Rapat Koordinasi Pengelolaan Sampah, Tekankan Kesadaran dan Inovasi Penanganan |
|
|---|
| Wabup Toba Sampaikan Hasil Workshop Pengolahan Sampah di Jepang |
|
|---|
| Aksata Pangan Redistribusi Pangan Berlebih, Program Bank Makanan Kurangi Pemborosan |
|
|---|
| Ramadan Sharing Food dari Aksata Pangan Kembali Hadir, Salurkan Makanan ke 50 Keluarga Setiap Hari |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Nikmati-Cita-Rasa-Kuliner.jpg)