Keseruan Berburu Takjil di Sekitar Masjid Al-Jihad, Penjualan Meningkat Tiga Kali Lipat
Langkah para pemburu takjil tampak menyusuri satu per satu lapak. Ada yang langsung mengincar makanan ringan
Penulis: Joy Silvana Aritonang | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Menjelang waktu berbuka puasa, kawasan di sekitar Masjid Al-Jihad di Jalan Abdullah Lubis, Kelurahan Babura, Kecamatan Medan Baru, Kota Medan, perlahan dipadati warga.
Sejak pukul 14.00 WIB, deretan pedagang mulai membuka lapak, menghadirkan aroma makanan yang menggoda di tengah hangatnya suasana Ramadan.
Langkah para pemburu takjil tampak menyusuri satu per satu lapak. Ada yang langsung mengincar makanan ringan, ada pula yang memilih hidangan berat untuk makan di tempat atau dibawa pulang.
Beragam pilihan takjil tersedia di lokasi ini. Mulai dari aneka gorengan, dimsum, mi pecel, bakso bakar, hingga minuman dingin dan thai tea. Tak sedikit pula pengunjung yang memilih makanan berat seperti nasi kebuli untuk menu berbuka.
Satu di antara lapak yang ramai diserbu pembeli adalah Serabi Solo Nyoto Roso Bu Iyem. Di depan lapak, pembeli terlihat mengantre sambil memperhatikan serabi yang baru matang. Aroma wangi serabi yang dipanggang menambah godaan di tengah rasa lapar menjelang maghrib.
Iyem (40), pengelola Serabi Solo Nyoto Roso Bu Iyem, mengungkapkan bahwa Ramadan membawa berkah tersendiri bagi usahanya.
Baca juga: Toge Panyabungan, Primadona Takjil Ramadan di Medan yang Obati Rindu Kampung Halaman
“Selama bulan Ramadan Alhamdullilah, kita bukanya jadi lebih singkat dan pembeli jadi lebih ramai. Bisa sampai tiga kali lipat,” ujarnya.
Menurut Iyem, varian original masih menjadi primadona. Namun, ia juga menghadirkan pilihan rasa lain untuk menyesuaikan selera generasi muda.
“Best seller original, tapi untuk mengimbangi selera anak muda, juga tersedia rasa coklat, pisang dan nangka,” katanya.
Ia menambahkan, jam operasional selama Ramadan disesuaikan dengan momen berburu takjil.
“Kita setiap hari jualan. Cuma kalau di hari biasa, dari jam 10.00 WIB sampai menjelang maghrib. Tapi kalau Ramadan, dari jam 14.00 WIB hingga menjelang maghrib,” jelasnya.
Tingginya minat pembeli membuat ratusan serabi habis terjual setiap harinya.
“Selama bulan Ramadan, 400 serabi solo bisa ludes terjual kak,” ungkap Iyem.
Serabi solo ini dijual dengan harga terjangkau, baik dalam kemasan kotak mau pun satuan.
“Untuk harga per kotak varian campur Rp 30.000 isinya 11 serabi solo. Kalau varian original Rp 25.000 isinya 10. Kalau mau beli satuan juga boleh. Yang ada topping Rp 3.000, yang original Rp 2.500,” paparnya.
| Ciptakan Kamseltibcar Lantas Ramadan, Sat Lantas Polres Sibolga Amankan Lokasi Penjualan Takjil |
|
|---|
| Masjid Raya Petumbukan Pertahankan Tradisi, Sediakan Bubur Lambok Khas Melayu |
|
|---|
| Sat Lantas Polres Sibolga Amankan Lokasi Penjualan Takjil, Edukasi Parkir dan Penertiban Lalu Lintas |
|
|---|
| Keseruan Berburu Takjil di Sekitar Masjid Al-Jihad Medan, Ada Serabi Solo hingga Nasi Kebuli |
|
|---|
| Jelang Berbuka Puasa, Sat Lantas Polres Sibolga Patroli dan Pengamanan di Sekitar Jualan Takjil |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Warga-ramai-memadati-kawasan-Masjid-Al-Jihad-di-Jalan-Abdullah-Lubis.jpg)