Adinda Maudia Savira, Memulai Langkah dari Menantang Diri Sendiri 

Dukungan lingkungan sekitar juga menjadi dorongan besar yang membangun kepercayaan dirinya.

Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN MEDAN
Adinda Maudia Savira, Ru 1 Puteri Nasional Indonesia 2025. Ketertarikannya pada pageant berawal dari kebiasaannya menonton ajang Puteri Indonesia. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Perjalanan Adinda Maudia Savira di dunia pageant bukan dimulai dari panggung modeling atau lingkungan fashion.

Perempuan yang akrab disapa Dinda ini justru memulai langkahnya dari rasa ingin mencoba dan keberanian menantang diri sendiri. Dari ajang tingkat kabupaten, ia berhasil melangkah hingga menjadi Runner Up 1 Puteri Nasional Indonesia 2025.

Bagi Dinda, dunia pageant bukan sekadar tentang kecantikan atau penampilan luar. Ia melihatnya sebagai ruang belajar, ruang bertemu banyak orang, sekaligus ruang untuk memperkenalkan gagasan dan nilai yang ia yakini.

Ketertarikannya pada pageant berawal dari kebiasaannya menonton ajang Puteri Indonesia. Dukungan lingkungan sekitar juga menjadi dorongan besar yang membangun kepercayaan dirinya.

“Awalnya saya sering melihat acara Puteri Indonesia. Dari situ muncul rasa percaya diri bahwa saya juga bisa seperti mereka. Saya mencoba ikut pageant pertama di Kabupaten Langkat, dan di situ saya melihat pageant bukan hanya soal penampilan, tapi bagaimana kita belajar banyak hal dan berinteraksi dengan banyak orang,” ujarnya.

Namun perjalanan itu tidak mudah. Saat mengikuti Puteri Utama Kabupaten Langkat 2024, Dinda menghadapi tantangan besar, terutama dalam menjaga kestabilan mental. Ia harus membuktikan bahwa seseorang yang tidak memiliki latar belakang modeling tetap bisa bersaing.

Baca juga: Daftar Nama Pemenang Kontes Puteri Anak dan Puteri Remaja Indonesia Sumatera Utara 2025

Ajang tersebut menjadi titik penting yang membentuk mentalnya untuk berani mencoba dan terus belajar. Baginya, keberanian untuk memulai jauh lebih penting daripada kesempurnaan di awal.

Kepercayaan dirinya sebenarnya sudah mulai terbentuk sejak menjadi anggota Paskibraka Kabupaten Langkat pada 2019. Dari pengalaman itu, ia belajar berbicara di depan umum, menyampaikan pendapat, serta berani mengambil kesempatan untuk berkembang.

Perjalanan prestasinya terus berlanjut ketika ia menyandang gelar Puteri Pendidikan dan Kebudayaan Sumut 2024. Bagi Dinda, gelar tersebut bukan sekadar pencapaian, tetapi amanah besar.

“Bagi saya, gelar itu adalah tanggung jawab. Ini pengingat agar saya terus belajar, memberi kontribusi ke masyarakat, dan menjaga budaya agar tetap hidup terutama di kalangan generasi muda,” katanya.

Puncak perjalanan pageant-nya terjadi saat ia berhasil meraih Runner Up 1 Puteri Nasional Indonesia 2025. Pencapaian itu menjadi momen membanggakan sekaligus membuka lebih banyak kesempatan baginya untuk menyuarakan isu penting dan menginspirasi banyak orang.

Menurutnya, momen paling mengharukan selama perjalanan pageant bukan saat mengenakan mahkota, melainkan saat menyadari makna proses perjuangan dan kebersamaan.

“Pageant mengajarkan bahwa ini bukan hanya tentang mahkota, tapi tentang proses, perjuangan, dan kebersamaan dengan orang-orang yang punya latar belakang hidup berbeda,” ujarnya.

Di balik pencapaian itu, perjalanan hidup Dinda dibentuk oleh latar belakang sederhana di Desa Batu Melenggang. Ia tumbuh dalam keluarga yang mengajarkan kerja keras, kejujuran, dan ketulusan dalam membantu orang lain.

Sosok Ibu Paling Menginspirasi 

Dinda banyak belajar dari orangtuanya, terutama dari almarhumah sang ibu yang menjadi sosok paling menginspirasi dalam hidupnya. Baginya, sang ibu adalah gambaran perempuan kuat, sabar, dan penuh kasih.

“Mama mengajarkan saya menjadi perempuan yang kuat menghadapi dunia luar, tapi tetap lembut dalam memberi cinta kepada orang lain,” katanya.

Pembentukan karakter Dinda juga dipengaruhi pengalaman mengikuti PMM 2. Melalui program tersebut, ia belajar terbuka terhadap perbedaan, membangun empati, serta memahami arti tanggung jawab dan kerja sama.

Bagi Dinda, perempuan cerdas di era sekarang adalah perempuan yang terus belajar, mampu mengikuti perkembangan teknologi, percaya diri, dan berani menyampaikan pendapat dengan bijak.

Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan hidup, bukan sekadar membagi waktu, tetapi memahami prioritas dan fokus pada proses. Ia mengakui pernah merasa insecure, namun menjadikannya sebagai pengingat untuk terus berkembang.

Prinsip hidup yang ia pegang hingga kini adalah menolong orang lain dengan tulus tanpa mengharapkan balasan. Ia percaya tidak semua orang harus melakukan hal besar, tetapi semua orang bisa melakukan hal kecil dengan cinta yang besar.

Kesetaraan Akses Pendidikan bagi Perempuan 

Bagi Dinda, isu yang paling dekat di hatinya adalah kesetaraan akses pendidikan bagi perempuan, terutama di daerah. Ia melihat masih banyak perempuan yang memiliki potensi besar tetapi terhambat oleh kondisi ekonomi dan kurangnya dukungan sosial.

“Sebagai gadis dusun, saya percaya pendidikan bukan hanya soal sekolah, tapi juga soal membangun kepercayaan diri, keberanian bermimpi, dan kemampuan mengambil keputusan untuk masa depan,” ujarnya.

Dinda juga menilai generasi muda memiliki peran penting sebagai jembatan antara tradisi dan modernitas. Menurutnya, budaya bisa tetap hidup jika dikenalkan melalui cara-cara kreatif seperti media sosial, karya seni, dan kegiatan komunitas.

Ke depan, Dinda ingin terus belajar dan berada di posisi di mana ia bisa membantu orang lain berkembang. Ia juga memiliki mimpi membangun program pendampingan perempuan muda yang fokus pada pendidikan, kepemimpinan, dan keterampilan hidup.

Program tersebut diharapkan menjadi ruang aman bagi perempuan muda untuk belajar, berbagi, dan membangun kepercayaan diri agar berani mengambil peran di masyarakat.

Untuk perempuan muda di daerah yang masih ragu bermimpi besar, Dinda berpesan agar berani memulai dari hal kecil dan percaya pada kemampuan diri.

“Mulailah dari hal kecil, terus belajar, dan percaya kemampuanmu layak diperjuangkan. Kalau saya bisa, kalian juga bisa,” ujarnya.

Sebagai penutup, ia mengajak generasi muda untuk berani mengambil tanggung jawab dan memberikan potensi terbaik bagi lingkungan sekitar.

“Tidak semua orang bisa melakukan hal besar, tapi semua orang bisa melakukan hal kecil dengan cinta yang besar,” pungkasnya.

 

 

 

 

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved