Sri Warsida Konsisten Menabung, Dari Gerobak Lontong Menuju ke Tanah Suci

Pedagang lontong asal Binjai itu berangkat ke Tanah Suci setelah menabung selama 13 tahun dari hasil jualan setiap hari.

Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN MEDAN/Husna Fadilla Tarigan
CERITA HAJI - Sri Warsida Isdaty (75), pedagang lontong asal Binjai, bersiap berangkat menunaikan ibadah haji setelah menabung selama 13 tahun dari hasil jualan harian, Selasa (22/4/2026). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Di usia 75 tahun, saat langkahnya tak lagi setegap dulu, Sri Warsida Isdaty akhirnya menuntaskan penantian panjang untuk menunaikan ibadah haji.

Pedagang lontong asal Binjai itu berangkat ke Tanah Suci setelah menabung selama 13 tahun dari hasil jualan setiap hari.

Semangatnya untuk bisa menuju Tanah Suci tak pernah surut. Sedikit demi sedikit, itulah prinsip yang menyertai langkah Sri untuk giat menabung hari demi hari dari hasil berjualan nasi gurih, nasi campur, dan lontong.

Sri yang tergabung dalam Kloter 2 manifest 252 itu setiap harinya berusaha menyisihkan sekitar Rp 100 ribu untuk ditabung. Menurutnya, keinginan besar harus dibarengi niat dan kedisiplinan.

“Kalau ada rezeki lebih, saya tabung. Saya anggap seperti utang, jadi harus dibayar. Insya Allah kalau sungguh-sungguh, bisa tercapai,” ujarnya menjelang keberangkatan.

Baca juga: Embarkasi Medan Lepas Kloter Pertama Haji 2026, 360 Jemaah Diberangkatkan ke Tanah Suci

Keinginan berhaji sebenarnya sudah lama tumbuh. Setelah pernah menunaikan umrah bersama suami, Sri ingin melanjutkan perjalanan ke Tanah Suci untuk berhaji. Namun saat itu sang suami enggan mendaftar karena masa tunggu yang panjang. Sri pun memutuskan mendaftar sendiri.

“Saya ajak suami daftar haji, tapi dia bilang lama kali menunggunya. Jadi saya daftar sendiri,” katanya sambil tersenyum.

Sehari-hari, Sri masih berjualan di kawasan Binjai. Dari usaha sederhana itulah ia mengumpulkan tabungan selama bertahun-tahun.

Rutinitasnya dimulai sejak dini hari. Setiap pukul 03.00 WIB, Sri bangun untuk salat tahajud, beribadah, lalu mulai memasak dagangan yang akan dijual pagi hari.

“Kalau enggak bangun jam tiga, enggak dapat nanti. Karena kita jualan, jadi rajin bangun,” ucapnya.

Sri mulai berjualan sejak tahun 2004 dan hingga kini masih tetap aktif berdagang. Anak-anaknya sudah berkeluarga, bahkan ia telah memiliki cucu.

Meski usianya tak lagi muda dan sesekali mengalami tekanan darah tinggi, Sri mengaku kondisinya cukup baik untuk berangkat haji. Ia hanya membawa obat sebagai persediaan.

Bagi Sri, perjalanan ke Tanah Suci bukan sekadar keberangkatan ibadah, tetapi buah dari kesabaran, kerja keras, dan kebiasaan menabung yang dijaga bertahun-tahun.

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved