Pentingnya Komunikasi Efektif Dokter dan Pasien, Tingkatkan Kepatuhan Pasien terhadap Terapi

Selanjutnya dengan keluhan pasien, arahkan pasien untuk memutuskan apa yang akan dilakukannya sesuai apa yang kita mau.

Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN MEDAN/Husna Fadilla Tarigan
dr Imsyah Satari, SpM(K), menerima sertifikat usai menjadi pembicara dalam Seminar Pra-Kepaniteraan Klinik FK USU dengan topik komunikasi dokter - pasien, di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU) menggelar Seminar Pra-Kepaniteraan Klinik bagi Peserta Program Pendidikan dan Profesi Dokter (P3D).

Kegiatan ini menghadirkan dr Imsyah Satari, SpM(K) sebagai pembicara utama dengan topik “Komunikasi Guna Meningkatkan Kepercayaan Pasien pada Dokter.”

Dalam pemaparannya, dr Imsyah Satari menekankan bahwa keberhasilan pelayanan medis tidak hanya ditentukan oleh kemampuan klinis, tetapi juga oleh keterampilan komunikasi dokter dalam memahami karakter, bahasa tubuh, serta latar belakang pasien.

Menurutnya, komunikasi yang tepat akan meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi sekaligus membangun hubungan saling percaya.

“Pasien datang bukan hanya membawa penyakit, tetapi juga kekhawatiran, prasangka, dan pengalaman sebelumnya. Dokter harus mampu membaca situasi tersebut sejak menit pertama pertemuan,” ujar dr Imsyah di hadapan peserta seminar.

Menurutnya, komunikasi dokter dan pasien bisa dilakukan dengan berfokus pada keluhan pasien. Selanjutnya dengan keluhan pasien, arahkan pasien untuk memutuskan apa yang akan dilakukannya sesuai apa yang kita mau.

Baca juga: VIRAL Curhat Mahasiswi Kedokteran PPDS: Minta Bayari Dugem, Uang Semesteran Senior, hingga Skincare

“Bahasa tubuh pasien juga sangat penting kita ketahui sehingga komunikasi tepat sasaran. Kita juga bisa membangun memori pasien seandainya pasien agak kurang percaya diri dalam berkomunikasi,” ujarnya.

Ia juga memaparkan berbagai contoh kasus miskomunikasi antara dokter dan pasien yang dapat berdampak pada kegagalan terapi.

Melalui ilustrasi kasus klinis, peserta diajak memahami pentingnya penggunaan bahasa yang sederhana, empatik, serta disesuaikan dengan tingkat pendidikan dan kondisi psikologis pasien.

Seminar ini menjadi bagian dari pembekalan bagi mahasiswa kedokteran sebelum memasuki tahap kepaniteraan klinik, agar mereka tidak hanya siap secara akademik dan keterampilan medis, tetapi juga memiliki kompetensi komunikasi profesional dalam praktik layanan kesehatan.

Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi diskusi dan tanya jawab, di mana peserta menunjukkan antusiasme tinggi terhadap materi yang disampaikan.

FK USU berharap melalui seminar ini, calon dokter mampu memberikan pelayanan yang humanis, efektif, dan berorientasi pada keselamatan serta kenyamanan pasien.

dr Imsyah Satari, SpM(K), merupakan dokter umum yang lulus pada tahun 1987 di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dan masuk spesialisasinya tahun 1991 dan selesai pada tahun 1995 di bidang Oftalmologi (Ilmu Penyakit Mata) di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Mengambil fellowship bedah katarak dan bedah refraktif, glaukoma, medical retina di Aravind Eye Hospital, SNEC, dan JEC.

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved