Tiara Aurelia, Menuju Panggung Nasional dari Keisengan
Bedanya, saat dewasa, tak selalu ada orang yang menyuruh bangkit. Kita harus melakukannya sendiri.
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Perempuan itu tumbuh dalam ritme yang nyaris tak memberi ruang untuk diam. Sejak kecil, hari-hari Tiara Aurelia di Tanjungbalai diisi jadwal yang padat sepulang sekolah bimbingan belajar hingga sore, maghrib mengaji, malam les bahasa Inggris.
Disiplin adalah bahasa cinta yang paling ia pahami dari orangtuanya. Ibunya tegas dalam urusan akademik, sementara sang ayah berdarah Tionghoa mewariskan pola asuh yang keras namun konsisten.
“Di usia belia, saya anak yang biasa saja,” ujarnya pelan.
Tak pernah merasa paling pintar di kelas. Matematika dan pelajaran lain dijalani sekadarnya. Namun ada satu hal yang diam-diam tumbuh kecintaannya pada seni.
Menggambar, bernyanyi, bermain gitar, hingga kaligrafi. Bakat itu baru benar-benar menemukan bentuknya ketika ia menginjak SMP dan SMA saat Tiara mulai mengenal dirinya sendiri.
Salah satu kenangan masa kecil yang paling membekas justru sederhana belajar naik sepeda. Dari roda tambahan hingga akhirnya berani mengayuh sendiri. Ia jatuh, bangkit, jatuh lagi. Orang tuanya selalu meyakinkan agar mencoba ulang.
Baca juga: 5 Tempat Sarapan Kekinian di Kota Medan yang Sering Disambangi Anak Muda
“Sekarang saya sadar, hidup juga seperti itu,” katanya.
Bedanya, saat dewasa, tak selalu ada orang yang menyuruh bangkit. Kita harus melakukannya sendiri.
Merantau ke Medan untuk kuliah di Universitas Negeri Medan bukan perkara mudah. Tiara mengaku sempat canggung dan takut bepergian sendiri. Ia perlu waktu beradaptasi dengan gaya bicara orang Medan yang terdengar keras, meski sebenarnya tidak marah.
Sebagai perempuan, pengalaman tidak menyenangkan pun pernah ia alami mulai dari cat calling (pelecehan seksual atau pelecehan verbal di ruang publik) hingga hingga kejadian kos hampir kemalingan. Semua itu membuatnya belajar lebih waspada dan mandiri.
Perjalanan akademiknya menuju panggung nasional berawal dari sesuatu yang sederhana yakni keisengan. Tahun 2023, ia direkomendasikan dosen untuk bergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Timnya gagal lolos ke PIMNAS.
Namun kegagalan itu tak menghentikannya. Tahun berikutnya, Tiara kembali mencoba kali ini sebagai ketua tim.
Ia mengangkat persoalan kebocoran perahu nelayan di kampung halamannya. Masalah lokal yang sering luput dari perhatian. Kerja keras itu berbuah manis. Tiara berhasil membawa timnya melaju ke PIMNAS ke-37 di Universitas Airlangga, Surabaya, dan menjadi Finalis PIMNAS Unair 2024.
“Momen paling menegangkan itu saat presentasi dan tanya jawab,” tuturnya.
Berhadapan dengan mahasiswa dari kampus-kampus terbaik se-Indonesia membuatnya sempat merasa kecil. Namun justru di situlah mentalnya ditempa.
| Salsabila Azmia Priadi , Konsistensi di Balik Hijab dan Jas Putih |
|
|---|
| Cinta Menorehkan Prestasi di Berbagai Bidang hingga ke Perancis |
|
|---|
| Silvia Decmerry Natalia Gea, Jadi Penggerak untuk Merawat Lingkungan |
|
|---|
| Anak Muda Medan Diajak Melek Duit, Pentingnya Keterampilan Dasar Mengatur Keuangan |
|
|---|
| Bupati Toba Hadiri Penutupan Festival Literasi 2025 “Memperkuat Budaya Literasi Anak Muda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Tiara-Aurelia-Finalis-Pimnas-Unair-2024.jpg)