Berita Internasional

Curiga dengan Anak yang Dikandung Istri, Suami Tuntut Tes DNA dan Serahkan Dokumen Cerai

Peristiwa tersebut memicu tekanan emosional hingga berujung pada penandatanganan berkas perceraian.

TRIBUN MEDAN/ISTIMEWA
SUAMI CURIGA ANAK YANG DIKANDUNG ISTRI: Ilustrasi tes DNA. Istri yang tengah hamil 38 minggu tanda tangani dokumen perceraian setelah dituntut lakukan tes DNA oleh suami, Minggu (30/11/2025). 

TRIBUN-MEDAN.com - Seorang wanita yang tengah hamil 38 minggu membagikan kisah pengalaman pilu menjelang persalinan setelah sang suami mengungkapkan keraguan mengenai janin yang dikandungnya.

Peristiwa tersebut memicu tekanan emosional hingga berujung pada penandatanganan berkas perceraian.

Dikutip dari Eva.vn Minggu (30/11/2025), wanita itu menceritakan bahwa kejadian bermula ketika ia tengah menata pakaian bayi yang akan segera digunakan saat persalinan.

Pada saat itu, suaminya memasuki kamar dan, dengan nada yang tampak berusaha tenang namun sarat keraguan, menyampaikan keinginannya untuk melakukan tes DNA setelah sang anak lahir.

Ucapan itu, menurut penuturannya, datang tanpa ada percakapan pembuka atau penjelasan apa pun, sehingga menimbulkan emosional yang mendalam.

Ia menjelaskan bahwa dalam usia kehamilan 38 minggu, kondisi tubuhnya sudah semakin berat. Ia merasa lelah, sulit bernapas panjang, serta mengalami pembengkakan kaki.

Dalam kondisi rentan tersebut, ia justru menghadapi tuduhan dari orang yang seharusnya menjadi sandaran pada menjelang persalinan.

Suaminya beralasan bahwa seseorang pernah melihat perempuan itu naik taksi bersama seorang pria beberapa bulan sebelumnya.

Namun, perempuan tersebut menegaskan bahwa pria yang dimaksud adalah rekan kerjanya yang saat itu mengantarnya pulang karena ia mengalami penurunan kadar kalsium dan hampir pingsan setelah rapat.

Menurut pengakuannya, suaminya tidak menanyakan penjelasan apa pun sebelum menyampaikan kecurigaan.

Setelah ucapan tersebut, hubungan keduanya semakin berjarak. Ia menceritakan bahwa meski suaminya masih tidur di ranjang yang sama, posisi tubuhnya selalu membelakangi dirinya.

Ia menyebut bahwa suaminya bahkan tidak lagi membantunya ketika ia mengalami sakit punggung atau kram kaki, sehingga ia merasa seperti tinggal bersama orang asing.

Kondisi tersebut membuatnya harus menjalani berbagai persiapan persalinan sendirian, mulai dari pemeriksaan kehamilan, berbelanja kebutuhan bayi, hingga latihan pernapasan saat merasakan kontraksi awal.

Ia mengaku berharap suaminya kembali memeluknya setidaknya sekali, tetapi hal itu tidak pernah terjadi.

Hingga suatu sore, ketika sedang membereskan perlengkapan untuk pergi ke rumah sakit, suaminya menyerahkan setumpuk dokumen.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved