Bencana Banjir di Medan, 22 Sekolah Rusak dan Proses Belajar Lumpuh
Akibat kerusakan tersebut, proses belajar mengajar dipastikan belum dapat berlangsung dalam waktu dekat.
Penulis: Dedy Kurniawan | Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Aroma lumpur masih pekat tercium di halaman SDN 060907, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Medan Maimun, Selasa (2/12). Kursi-kursi belajar ditumpuk di luar kelas, sebagian sudah memuai dan retak. Buku-buku pelajaran yang menghitam dijemur seadanya di bawah matahari.
“Hari ini kita meninjau salah satu SD yang terdampak cukup parah. Banyak kelas yang terendam, buku-buku rusak, peralatan peraga sekolah juga terendam. Komputer-komputer, bahkan smartboard juga ikut rusak,” ujar Rico saat melakukan proses peninjauan, Selasa (2/12).
Akibat kerusakan tersebut, proses belajar mengajar dipastikan belum dapat berlangsung dalam waktu dekat. Pemko Medan memutuskan kegiatan sekolah diliburkan sementara sambil menunggu perbaikan menyeluruh dari Dinas Pendidikan. “Untuk sementara memang kita liburkan. Kita minta Dinas Pendidikan membenahi dulu sekolahnya agar nanti bisa berfungsi normal kembali,” jelasnya.
Tidak hanya peralatan belajar, beberapa bagian bangunan juga mengalami kerusakan struktural. Rico menunjuk ke bagian kelas yang atapnya runtuh. “Kita lihat ada beberapa kelas yang atapnya sampai jatuh. Saya rasa ini harus dibenahi dulu,” katanya.
Dokumen administrasi sekolah dan buku pelajaran siswa juga banyak rusak setelah terendam selama berjam-jam. “Buku-buku anak-anak banyak rusak. Dokumen sekolah juga banyak yang tidak bisa digunakan lagi. Kita beri waktu agar pembenahan bisa dilakukan maksimal,” ucapnya.
Pemko Medan saat ini fokus pada langkah pembersihan sebelum aktivitas pendidikan kembali dibuka. “Intinya hari ini kita rapikan dulu,” tambahnya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Medan, Benny Sinomba Siregar, menyebut hingga Senin (1/12) setidaknya 22 sekolah, mulai dari TK hingga SMP masih terdampak banjir dan memerlukan penanganan serius.
“TK ada lima yang masih memprihatinkan. Untuk SMP ada dua yang cukup parah, yaitu SMP 33 dan 40. Untuk SD sekitar 15 sekolah yang membutuhkan perawatan intensif,” ujarnya.
Benny mengungkapkan, dua ruang kelas di SD yang ditinjau Wali Kota mengalami kerusakan paling berat. “Pak Wali meminta agar dibenahi secepatnya, termasuk pembersihan halaman dan ruang kelas. Dua kelas yang berat itu langsung kita tangani,” katanya.
Baca juga: Saksi Ahli Minta Berpegang Pada Dua ALat Bukti, Praperadilan Penetapan Tersangka Nenek 70 Tahun
Selain bangunan, banjir turut merusak perangkat elektronik sekolah. Sejumlah smartboard, komputer, dan PC terendam. Dinas Pendidikan kini melakukan inventarisasi untuk menentukan mana yang masih bisa diperbaiki. “Kalau masih bisa diselamatkan, kita perbaiki segera,” tegas Benny.
Dinas Pendidikan bersama pihak sekolah telah membentuk tim pendataan pascabanjir. Namun, kondisi masih berubah-ubah, terutama di kawasan Medan Utara yang hingga kini ketinggian air belum stabil.
“Sebagian masih semata kaki, ada yang sebetis. Rob dari tanggal 1 sampai 9 masih terus naik,” jelasnya.
Menindaklanjuti arahan Wali Kota, Pemko Medan memastikan pendataan, pembersihan, dan pemulihan sarana-prasarana sekolah terdampak banjir terus dipercepat agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan normal.
Di SDN 060907, sisa lumpur mungkin belum hilang. Namun upaya pemulihan mulai terlihat, kursi-kursi ditata ulang, relawan sibuk mengepel lantai, dan warga saling membantu. (dyk/Tribun-Medan.com)
| Pascabanjir, Dua Daerah Belum Rampungkan Dokumen R3P dan BNBA |
|
|---|
| Rapat Penanganan Banjir Memanas, Anggota DPRD Renville Singgung Dana 1,5 Triliun di Medan |
|
|---|
| Warga Medan Kota Keluhkan Banjir hingga LPJU yang Padam |
|
|---|
| Jangkau Wilayah Paling Sulit, Bank Mandiri Taspen Gandeng MAI Gelar Aksi Kemanusaiaan |
|
|---|
| Rumah-rumah Tuhan Terdampak Banjir, Masjid Muslimin Penuh Lumpur |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Banjir-Sekolah-Medan.jpg)