Berhari-hari di Tengah Bencana Sumatra, AMT Elnusa Petrofin Pastikan Distribusi Energi tak Berhenti
Elnusa Petrofin memastikan distribusi energi tak boleh berhenti di tengah bencana Sumatra yang terjadi November 2025 lalu.
Penulis: Truly Okto Hasudungan Purba | Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Hujan turun tanpa henti. Sejak tanggal 22 November 2025, langit di atas Sumatra Utara dan Aceh seolah tak mau berhenti menumpahkan air. Angin kencang dan ombak laut yang cukup kuat, ikut “menyertai” turunnya hujan dan menjadi penanda, kalau cuaca sedang dalam kondisi buruk.
Di tengah kondisi tersebut, sebuah kabar tiba di internal Fuel Terminal (FT) Medan Group (dikelola Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut): kapal tanker yang seharusnya merapat di Dermaga Citra di kawasan Pelabuhan Belawan, Medan diperkirakan tidak bisa bersandar karena ombak terlalu tinggi sehingga membuat kapal mengalami goncangan yang tidak stabil. Hujan yang turun tanpa henti membuat kondisi laut semakin tidak bersahabat.
Ketika kapal tak bisa bersandar, pasokan BBM ke Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) FT Medan Grup pun ikut terhenti. Tanpa pasokan tersebut, SPBU-SPBU di Kota Medan dan sekitarnya terancam kehabisan stok. Melihat kondisi ini, manajemen PT Elnusa Petrofin bergerak cepat. Sebagai bagian dari Pertamina Grup yang bertugas mendistribusikan BBM, manajemen memutuskan untuk menugaskan Awak Mobil Tangki (AMT) untuk mengambil BBM dari berbagai terminal (FT) di luar Kota Medan.
Dua dari puluhan AMT yang mendapat penugasan tersebut adalah Nofa Lazuardi (43) dan Zainal Abidin Lubis (53). Nofa bertugas mengambil BBM dari FT Lhokseumawe, sedangkan Zainal dari FT Dumai. Keduanya berangkat pada Senin (24/11/2025) malam.
“Kami berangkat Senin malam ke FT Lhokseumawe. Perjalanan sekitar delapan hingga sembilan jam. Ada sepuluh mobil tangki yang diberangkatkan secara bergantian setiap hari. Waktu itu masih turun hujan dan belum banjir besar, namun sudah angin kencang dan berombak, sejak pagi sampai pagi lagi dan tidak ada berhentinya,” kata Nofa kepada Tribun-Medan.com, Kamis (4/6/2026).
Nofa yang sudah 10 tahun menjadi AMT ini menuturkan, ia mendapat dua kali penugasan mengambil BBM dari FT Lhokseumawe. Penugasan pertama, BBM dari FT Lhoksewumawe dibawa menuju Kabupaten Aceh Tamiang, satu dari belasan kabupaten di Provinsi Aceh yang mengalami tingkat keparahan banjir yang parah. Mayoritas BBM didistribusikan ke SPBU-SPBU yang berada di Kecamatan Kuala Simpang (ibu kota Aceh Tamiang). “Setelah distribusi di Kuala Simpang selesai, Nofa kembali ke FT Lhokseumawe mengambil BBM untuk diditribusikan untuk SPBU-SPBU di Kota Medan,” kata Nofa.
Berbeda dengan Nofa, Zainal yang mengambil BBM dari FT Dumai menempuh perjalanan sekitar 12 jam dari Medan. BBM selanjutnya didistribusikan ke berbagai SPBU di Kota Medan. Zainal yang sudah 24 tahun mengabdi sebagai AMT ini menjelaskan, selain SPBU di Sumatra Utara, wilayah distribusi BBM FT Medan Grup juga menjangkau sebagian daerah di Aceh seperti: Blangkajeren, Subulussalam, dan Singkil.
“Stok minyak yang tersedia di FT Medan Grup pada masa bencana November lalu digunakan untuk melayani SPBU di wilayah Aceh. Untuk Kota Medan sendiri, kita ambil dari Dumai dan Lhokseumawe. Cara kerjanya harus seperti itu, sehingga tidak ada kekosongan BBM di SPBU-SPBU,” kata Zainal.
Bagi Nofa dan Zainal, perjalanan membawa BBM dari Lhokseumawe dan Dumai bukan sekadar masalah jarak dan waktu. Tiba di Lhokseumawe pada Selasa pagi (25/11/2025), Nofa langsung melakukan pengisian BBM dan bersiap membawa muatan ke SPBU di Kuala Simpang. Namun, kondisi Sumatra sudah mulai parah. Banjir menggenang di mana-mana.
"Ketika keluar dari kota Lhokseumawe, air sudah sedengkul orang dewasa. Artinya roda mobil tangki sudah tertutup. Warga juga tidak mau memberikan jalan karena merasa ombak banjir dari roda mobil yang lalu lalang masuk ke rumah mereka,” kenang Nofa.
Di daerah Panton Labu di Kabupaten Aceh Utara, mobil tangki yang dibawa Nofa tertahan selama sekitar lima jam. Warga memadati jalan raya di jalur yang sama dengan mobil-mobil tangki bermuatan penuh BBM. “Kami harus lebih sabar. Jujur, merasa stres juga, tapi bagaimana lagi?” kata Nofa.
Tak ingin menunggu lama, Nofa pun berkoordinasi dengan pihak FT Lhokseumawe, melaporkan posisi dan kondisi mobil yang tertahan. Petugas dari FT, bersama petugas keamanan dan warga lokal, datang membantu mengurai situasi. Lima jam menunggu, mobil tangki bisa kembali melaju hingga ke Kuala Simpang.
Zainal mengalami tantangan serupa di Medan. Saat ia kembali dari Dumai membawa pasokan BBM, jalanan Kota Medan pun sudah sesak. Warga yang menghindari banjir berbaur dengan antrean panjang kendaraan yang ingin mengisi BBM di SPBU. Mobil tangki yang ia kemudikan tak bisa bergerak dengan lancar. "Antrean mobil dan motor bukan lagi hitungan meter, tapi sudah kilometer. Mana yang mau lewat dan mana yang antre mengisi BBM, itulah yang bikin macet," kata Zainal.
Baca juga: Elnusa Petrofin Berikan Penghargaan kepada Awak Mobil Tangki Berprestasi
Tantangan Menyapa Lebih Keras
JIKA tantangan di penugasan pertama sudah berat, tantangan penugasan kedua Nofa dalam mendistribusikan BBM di tengah banjir Sumatra justru lebih berat. Setelah mengantarkan BBM ke SPBU-SPBU di Kuala Simpang, Nofa kembali ke Lhokseumawe untuk mengambil pasokan baru dan dibawa langsung ke Medan. Di sinilah tantangan menyapa lebih keras.
| Elnusa Petrofin Berikan Penghargaan kepada Awak Mobil Tangki Berprestasi |
|
|---|
| 70 Kunci Diserahkan ke Warga Huntap Dolok Nauli, Fasilitas Penunjang Gunakan APBD |
|
|---|
| 8 Daerah Beri Dana Hibah Rp 260 M ke Aceh, Bantu Korban Bencana Banjir Bandang |
|
|---|
| Korban Banjir di Langkat Datangi Kantor Bupati, Tuntut Bantuan Jatah Hidup |
|
|---|
| Sumut Masih Butuh Bantuan, Bobby Respon Mendagri Minta Daerah Kaya Kirim Hibah ke Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Elnusa-Salurkan-Energi.jpg)