Nilai Tukar Rupiah
Nilai Tukar Rupiah Sudah Tembus Rp17.506 per Dollar AS, Terlemah Sepanjang Masa
Nilai tukar rupiah makin anjlok terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Selasa (11/5/2026).
TRIBUN-MEDAN.com - Nilai tukar rupiah makin anjlok terhadap dollar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Selasa (11/5/2026).
Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Selasa pagi pukul 09.45 WIB, rupiah sentuh level Rp 17.506 atau melemah 0,53 persen, dan pukul 09.50 WIB melanjutkan pelemahan ke posisi Rp17.508 per dollar AS.
Level ini menjadi posisi terlemah rupiah sepanjang masa.
Di tengah pelemahan rupiah ini, perbankan, baik Himbara maupun swasta, juga turut mematok harga jual dollar AS yang cukup tinggi. Bahkan ada perbankan yang mematok harga dollar AS di atas Rp 17.700.
HSBC Indonesia adalah salah satunya, dengan mematok kurs jual dollar AS untuk mekanisme transfer sebesar Rp 17.700 dan untuk mekanisme tunai sebesar Rp 17.775 per dollar AS.
Dari sisi Himbara, Bank Mandiri mematok kurs jual dollar AS di TT Counter dan Bank Notes sebesar Rp 17.560, sementara Bank Negara Indonesia mematok sebesar Rp 17.520, dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) menetapkan sebesar Rp 17.600.
Baca juga: SOSOK Shindy Lutfiana, MC Cerdas Cermat Viral Diduga Kena Mental, Akun IG Langsung Hilang
Pakar Ekonomi, Ferry Latuhihin mengatakan, kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah menjadi salah satu sentimen utama yang membebani rupiah.
Tercatat, harga minyak Brent berjangka yang berakhir pada Juli, patokan minyak global, naik 2,9 persen menjadi USD104,22 per barel.
Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate AS berjangka yang berakhir pada Juni naik 2,8 persen menjadi USD98,03 per barel.
Menurutnya, lonjakan harga energi memperlebar tekanan terhadap kondisi fiskal dan eksternal Indonesia.
“Harga minyak dan fiscal crack kita (membebani rupiah),” ujar Ferry dikutip dari Kontan.
Meski ekonomi Indonesia kuartal I 2026 tumbuh 5,61 persen, pelaku pasar dinilai belum sepenuhnya percaya terhadap data-data ekonomi domestik yang dirilis pemerintah, termasuk angka pertumbuhan ekonomi dari Data Badan Pusat Statistik (BPS).
Ia menyebut, tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut apabila kondisi global tidak membaik dan ketahanan eksternal domestik terus melemah.
Bahkan, Ferry memperkirakan nilai tukar rupiah berisiko menyentuh level Rp 25.000 per dollar AS pada semester II-2026.
Purbaya Sebut Tugas Bank Indonesia
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa meyakini bahwa memperbaiki nilai tukar rupiah ke dollar AS yang sedang anjlok bukanlah hal sulit selama fondasi ekonomi di Indonesia masih bagus.
Namun, Purbaya mengingatkan bahwa penanganan nilai tukar rupiah adalah tugas Bank Indonesia, bukan Kementerian Keuangan.
"Kalau saya pikir sih gini, dengan fondasi ekonomi yang bagus, enggak terlalu sulit memperbaiki nilai tukar," ujar Purbaya di Istana, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
"Tapi itu bukan kerjaan saya, kerjaan bank sentral. Nanti bank sentral akan menjelaskan bagaimana cara memperbaikinya," imbuh dia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, tekanan terhadap nilai tukar rupiah tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dialami banyak negara seiring penguatan dollar AS.
Menurut Airlangga, pelemahan rupiah saat ini juga dipengaruhi faktor musiman, terutama meningkatnya kebutuhan valuta asing menjelang musim ibadah haji serta pembayaran dividen pada kuartal kedua.
“Terkait dengan rupiah itu berbagai negara memang mengalami pelemahan terhadap US dollar dan biasanya juga pada saat ibadah haji, demand terhadap dollar itu meningkat,” ujar Airlangga usai konferensi pers Pertumbuhan PDB Kuartal-1 2026 di Kemenko Perekonomian, Selasa (5/5/2026). (*/tribunmedan.com)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/redenominasi-rupiah-1.jpg)