Berita Medan

Arsitektur Tak Lagi Sekadar Bangunan, Ini Kata Akademisi Malaysia di ICOMCUBE 2026

Ia mengajak peserta merefleksikan bagaimana lingkungan sebenarnya berperan membentuk cara manusia berpikir, belajar, hingga merancang arsitektur.

Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/Husna Fadilla Tarigan
ARSITEKTUR- Pemateri memaparkan konsep reinterpretasi kearifan lanskap Melayu melalui pendekatan desain berbasis alam dalam sesi From Living with Nature to Designing with Nature pada konferensi ICOMCUBE 2026 di Medan. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Pendekatan merancang ruang hidup tidak lagi cukup hanya berfokus pada bentuk fisik bangunan.

Dalam International Conference on Malay Culture and Built Environment (ICOMCUBE) 2026, akademisi arsitektur menekankan pentingnya mengembalikan hubungan manusia dengan alam sebagai dasar desain masa depan, Jumat (13/2/24.

Dalam sesi From Living with Nature to Designing with Nature Reinterpreting Malay Landscape Wisdom through Vertical Landscaping, Dr. Mohd Khairul Azhar bin Mat Sulaiman memaparkan bagaimana pendidikan, iklim, dan lingkungan saling memengaruhi cara manusia membentuk ruang hidup.

Ia mengajak peserta merefleksikan bagaimana lingkungan sebenarnya berperan membentuk cara manusia berpikir, belajar, hingga merancang arsitektur.

Menurutnya, selama ini pendidikan dan praktik arsitektur sering hanya menitikberatkan pada artefak, bentuk bangunan, serta fungsi teknis.

Padahal, pemahaman terhadap lingkungan harus melampaui aspek fisik. Lingkungan, kata dia, juga memengaruhi cara manusia memahami pekerjaan, aktivitas, serta interaksi sosial yang pada akhirnya membentuk ruang hidup itu sendiri.

Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa dalam perspektif tradisional Melayu, hubungan manusia dan alam bukan sekadar hubungan fungsional, melainkan hubungan yang terjalin lintas generasi melalui proses pengamatan dan pengalaman hidup.

“Alam bukan hanya latar belakang kehidupan, tetapi bagian dari kehidupan itu sendiri,” ungkapnya dalam sesi diskusi.

Ia menjelaskan bahwa dalam metafisika tradisional, alam tidak pernah dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Alam menjadi mitra yang membentuk cara manusia bertahan hidup, bercocok tanam, hingga membangun permukiman.

Konsep tersebut melahirkan bukan hanya pengetahuan teknis dalam membangun, tetapi juga pemahaman budaya tentang bagaimana manusia hidup berdampingan dengan alam.

Dalam konteks arsitektur modern, pendekatan ini dinilai relevan untuk menjawab tantangan perubahan iklim dan keberlanjutan lingkungan.

Ia juga menyoroti pentingnya melihat alam sebagai sistem pendukung kehidupan manusia, bukan sekadar elemen dekoratif dalam desain lanskap maupun bangunan.

Pendekatan ini kemudian mendorong lahirnya konsep desain yang lebih adaptif terhadap lingkungan, termasuk pengembangan lanskap vertikal yang tidak hanya berfungsi estetis, tetapi juga ekologis dan sosial.

Melalui pemikiran tersebut, arsitektur diharapkan tidak hanya menghasilkan ruang fisik, tetapi juga menciptakan ruang hidup yang selaras dengan ekosistem alam.

Diskusi ini menjadi bagian penting dalam ICOMCUBE 2026 yang mempertemukan akademisi, praktisi, serta pelaku industri untuk mengeksplorasi kembali kearifan lokal Melayu dalam menjawab tantangan lingkungan global masa kini.

(cr26/tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved