Berita Advertorial

Dekkson Paparkan Inovasi Material Pintu di ICOMCUBE 2026, Tekankan Pentingnya Standarisasi Nasional

International Conference on Malay Culture and Built Environment (ICOMCUBE) 2026  menjadi ruang diskusi penting bagi akademisi.

|
TRIBUN MEDAN/Husna Fadilla Tarigan
DEKKSON - Lucky Nugroho, Marketing Director Dekkson, usai menerima cinderamata pada kegiatan International Conference on Malay Culture and Built Environment (ICOMCUBE) 2026 di Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara, Medan, Jumat (13/2/2026). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – International Conference on Malay Culture and Built Environment (ICOMCUBE) 2026  menjadi ruang diskusi penting bagi akademisi, praktisi, dan industri untuk membahas budaya Melayu dalam konteks lingkungan binaan serta perkembangan material bangunan di kawasan Asia Tenggara.

Kegiatan yang digelar di Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara ini menghadirkan berbagai pemaparan terkait arsitektur, budaya, hingga inovasi material bangunan yang relevan dengan kondisi iklim tropis.

Dalam forum tersebut, Lucky Nugroho, Marketing Director Dekkson turut memaparkan perkembangan building material, khususnya inovasi material pintu yang disesuaikan dengan karakteristik lingkungan Indonesia, Jumat (13/2/2026).

Lucky menilai tantangan pembangunan di Indonesia maupun Asia bukan hanya soal modernisasi, tetapi bagaimana membangun sistem yang kuat melalui standarisasi.

“Secara umum, baik di Indonesia maupun Asia, tantangannya bukan hanya mengejar modernisasi. Yang lebih penting adalah bagaimana kita membangun sistem melalui standarisasi,” ujarnya.

Menurutnya, jika standarisasi material dan konstruksi dapat didorong secara nasional, maka pembangunan akan berjalan lebih cepat dan efisien.

“Kalau pemerintah mendorong standarisasi, maka pembangunan bisa lebih cepat, lebih hemat, dan waste material bisa lebih terkontrol,” katanya.

Ia menegaskan bahwa kualitas arsitektur tidak hanya soal estetika, tetapi juga menyangkut kualitas perlindungan bangunan, keamanan, kenyamanan, dan ketahanan jangka panjang.

“Arsitektur yang baik bukan hanya indah secara visual. Kita juga butuh kualitas perlindungan bangunan, keamanan, dan ketahanan jangka panjang. Kualitas arsitektur itu berkaitan langsung dengan kualitas proyek,” jelasnya.

Dalam paparannya, Lucky juga menyoroti tantangan Indonesia dalam menerapkan satu standar nasional material dan konstruksi. Berdasarkan hasil riset, masih terdapat perbedaan standar di berbagai daerah.

“Setelah riset dilakukan, ternyata sangat sulit menemukan satu standar ukuran yang sama. Kita punya banyak wilayah dengan kondisi berbeda-beda, sehingga standarisasi menjadi tantangan tersendiri,” ujarnya.

Ia menambahkan, standar nasional tetap perlu disusun dengan mempertimbangkan kondisi daerah, namun memiliki acuan kualitas yang sama, termasuk standar ukuran material, spesifikasi teknis, serta pengujian keamanan.

“Standar itu tidak hanya ukuran, tetapi juga harus mencakup safety testing dan kualitas performa material. Jadi bangunan tidak hanya indah, tapi juga aman dan berkelanjutan,” katanya.

Selain itu, Lucky juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa arsitektur dan building material agar berani melakukan riset dan inovasi.

“Mahasiswa ke depan tidak cukup hanya mengikuti tren. Mereka harus berani riset, berani bereksperimen, dan menciptakan solusi yang relevan dengan kebutuhan Indonesia dan Asia,” ujarnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved