Berita Medan
Medan Viesta 2.0, Perdoski Medan Soroti Lonjakan Kasus HIV dan Update Pengobatan Penyakit Kulit
Acara ini terdiri dari bakti sosial, penyuluhan publik, seminar, simposium, serta empat workshop tindakan dermatologi dan estetika.
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) Cabang Medan menggelar Medan Viesta 2.0, rangkaian kegiatan ilmiah yang berlangsung 25–29 November 2025 untuk memperingati Hari AIDS Sedunia (World AIDS Day).
Acara ini terdiri dari bakti sosial, penyuluhan publik, seminar, simposium, serta empat workshop tindakan dermatologi dan estetika.
Ketua Panitia Medan Viesta 2.0, dr. Rudi Chandra, M.Ked(DV), SpDVE, mengatakan antusiasme peserta sangat tinggi meski Kota Medan baru saja dilanda musibah banjir dan cuaca ekstrem.
“Jumlah peserta sudah lebih dari 170 orang, terdiri dari dokter spesialis, residen, dokter umum, dan peserta dari berbagai kota seperti Banda Aceh, beberapa wilayah Aceh, Pekanbaru, sampai Jakarta. Para pembicara memaparkan materi sangat luar biasa, dan dukungan sponsor juga sangat baik,” ujar dr. Rudi.
Ia menjelaskan rangkaian kegiatan dibuka dengan penyuluhan publik di RSU Eshmun yang menyasar masyarakat umum untuk memberikan edukasi mengenai bahaya HIV, cara penularan, pencegahan, serta pengurangan stigma terhadap pasien.
“Banyak masyarakat masih belum paham perbedaan HIV dan AIDS. HIV adalah virusnya, sementara AIDS adalah kondisi saat sistem imun sudah rusak parah. Tujuan kita mencegah pasien HIV jatuh ke fase AIDS, karena kualitas hidupnya akan sangat menurun,” tambahnya.
Ketua Perdoski Cabang Medan, dr. Riyadh Ikhsan, SpDVE, M.Ked(DV), FINSDV, FAADV, menegaskan bahwa edukasi ini penting karena kasus HIV di Medan terus menunjukkan peningkatan.
“Memang terjadi peningkatan kasus baru. Tetapi kesadaran untuk berobat juga meningkat. Banyak pasien datang secara rutin ke RS Adam Malik, RS USU, dan sejumlah puskesmas,” kata dr. Riyadh.
Ia menjelaskan bahwa kelompok usia yang paling banyak terdampak adalah usia produktif 20–40 tahun.
“Inilah yang kita khawatirkan. Kelompok usia produktif paling banyak terinfeksi. Karena itu edukasi, skrining, dan terapi yang tepat harus terus dilakukan,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti adanya sebagian pasien yang tidak mau berobat dan tetap berperilaku berisiko.
“Ini sangat berbahaya karena berpotensi menularkan ke orang lain. Edukasi publik sangat penting agar masyarakat memahami penularan HIV dan tidak mengucilkan pasien,” jelasnya.
Simposium Medan Viesta 2.0 yang berlangsung 28 November memberikan pembaruan ilmiah tentang penyakit kulit, penyakit kelamin, alergi, infeksi kulit, inflamasi, hingga perkembangan skincare medis.
“Kami tidak hanya membahas estetika. Ada banyak update pengobatan untuk alergi, infeksi kulit, inflamasi, serta skincare baru yang mengandung komponen obat,” jelas dr. Rudi.
Ia mengatakan sesi terakhir juga membahas PrEP (Pre-Exposure Prophylaxis) sebagai strategi pencegahan HIV bagi pasien berisiko tinggi.
| 13 Fitur AI Diperkenalkan, Permudah Mobilitas hingga Pengelolaan Usaha |
|
|---|
| Penjaga Malam Dibacok Geng Motor Usai Kejar Pelaku Perampasan Tas, Kini Dirawat di RS Eshmun |
|
|---|
| Gowes ke Kantor, Rico Waas Beri Pesan Surat Edaran Tentang Transformasi Budaya Kerja ASN |
|
|---|
| Kepala Disnaker Medan: 110 Ribu Pencari Kerja Dalam Setahun, Mahasiswa Disiapkan Sejak Dini |
|
|---|
| Cerita Lidya, Agen Lion Parcel di Medan, Tumbuh Berkat Tren Bisnis Fesyen |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/PERDOSKI-MEDAN-Pembukaan-Medan-Viesta-20-bersama-jajaran-pengurus-Perdoski.jpg)