Berita Medan

Peringati Hari Bumi, Konservasi Indonesia Lakukan Giat Hijaukan Pesisir Sumut

Keberadaan sampah plastik di dunia mengganggu kehidupan manusia dan semua spesies yang hidup di bumi.

Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Ayu Prasandi
HO
Aksi dari Konservasi Indonesia dalam memperingati hari bumi 2024, di Pantai Labu Pesisir Sumatera Utara, Sabtu (27/4/2024). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Yayasan nasional yakni Konservasi Indonesia (KI) turut memperingati gerakan serentak hari bumi 2024, yang berlangsung di pesisir pantau Sumatera Utara, Sabtu (27/4/2024).

Keberadaan sampah plastik di dunia mengganggu kehidupan manusia dan semua spesies yang hidup di bumi.

Sekitar 8,3 milyar metrik ton plastik diproduksi sejak tahun 1950an, serta 79 persen dari plastik itu masih ada di lingkungan kita hidup.

Diperkirakan 75 dari 199 juta ton plastik ada di samudra dan dalam bentuk partikel ditemukan pada terumbu karang, yang merupakan rumah bagi banyak ikan.

Tidak sedikit mikro-plastik ditemukan di perut ikan yang menjadi konsumsi manusia.

Dilansir dari website earthday.org, di dunia setiap menit, 1 juta botol plastik dibeli dan sejumlah 5 juta tas plastik dipakai setiap tahun.

Kondisi tersebutlah yang melahirkan gagasan global networking melalui aksi lingkungan di hari bumi 2024 dengan mengusung tema Planet vs Plastik.

Konservasi Indonesia merangkul beberapa lembaga seperti Dinas Kelautan dan Perikanan Sumut, Dinas LHK, Green Justice Indonesia, Yayasan Ekosistem Lestari, Orangutan Information Center, dan ratusan mahasiswa.

"Kami memilih menggagas aksi di Kecamatan Pantai Labu, karena mitra yang ingin berkolaborasi juga telah melakukan kegiatan di sini sebelumnya," kata Wira Ardana selaku Sundaland Landscape Manager Konservasi Indonesia.

Konservasi Indonesia sendiri merupakan yayasan nasional, yang mendukung agenda pemerintah dalam setiap kerjanya, dengan fokus pada perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan alam di Indonesia secara berkelanjutan.

Bekerjasama dengan mitra yang strategis, Konservasi Indonesia mengejar tujuan untuk memberikan dampak positif dalam jangka yang panjang bagi masyarakat, terutama generasi muda sebagai penerus bangsa.

"Kami melibatkan 150 mahasiswa sumber daya perairan USU untuk meneruskan konsistensi dan usaha restorasi mangrove di pesisir khususnya pantai Sei Tuan," ujarnya.

Bagi Wira, pentingnya generasi muda konsen terhadap mangrove, salah satunya tumbuhan tersebut merupakan ekosistem terpenting bagi lingkungan di sekitarnya, terutama untuk biota laut.

Di mana mangrove berfungsi sebagai tempat pemijahan atau reproduksi para biota sebelum rilis ke laut.

"Mangrove punya peranan penting untuk keberlanjutan, terutama ekosistem perairan dan laut. Kami Konservasi Indonesia sebagai NGO mencoba mengajak teman-teman konsen terhadap lingkungan di Sumatra Utara, memberikan literasi yang baik agar bisa memberikan atensi kepada mangrove supaya bisa kita lestarikan bersama," kata Wira.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved