Ramadan 2024

Lemang Polonia Bu Ani, Jadi Incaran Warga untuk Santapan saat Berbuka Puasa

Meskipun tak hanya dijual saat bulan Ramadan, lemang Polonia Bu Ani ini cukup laris dan jadi incaran warga Medan untuk menjadi menu berbuka puasa.

|
TRIBUN MEDAN/HUSNA FADILLA TARIGAN
Proses pembakaran lemang Polonia Bu Ani di Medan. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Meskipun tak hanya dijual saat bulan Ramadan, lemang Polonia Bu Ani ini cukup laris dan jadi incaran warga Medan untuk menjadi menu berbuka puasa.

Lemang Polonia Bu Ani, berada di persimpangan Jalan Avros dan Jalan Padang Golf, Medan Polonia.

Nurhasni, yang akrab dipanggil Ani, adalah pemilik lemang Polonia yang sudah berdiri sejak tahun 2000.

Ani yang berasal dari Kota Padang, sudah belajar membuat lemang sejak usianya 16 tahun.

"Di kampung ini makanan yang sangat cocok saat lebaran, jadi dari usia 16 tahun sudah belajar buat lemang, untuk makan sanak saudara saja," ujar Ani, Selasa (28/3/2023).

Berangkat dari Kota Padang di Tahun 1970, Ani menetap di Medan dengan memulai usaha berjualan pisang.

Mengingat keahliannya dalam membuat lemang, Ani pun baru memulai usaha lemangnya di tahun 2000 dengan modal yang diperoleh dari sang abang.

Di bulan Ramadan lemang yang dibuat Ani lebih laris dari biasanya. Dalam sehari bisa terjual 30-50 batang.

"Kalau hari biasa paling terjual 20-30 batang perhari, di Ramadan agak banyak sikit," jelasnya.

Harga lemang yang dijual Ani dibandrol harga Rp 35 ribu per batangnya.

Hingga kini, Ani tetap gigih berjualan lemang, selain karena kesukaannya terhadap lemang, melestarikan resep yang sudah diajarkan dari ibunya adalah tekad Ani.

Lemang adalah penganan dari beras ketan yang dimasak dalam seruas bambu, setelah sebelumnya digulung dengan selembar daun pisang.

Gulungan daun bambu berisi beras ketan dicampur santan kelapa ini kemudian dimasukkan ke dalam seruas bambu lalu dibakar sampai matang.

Lemang lebih nikmat disantap hangat-hangat.

Lemang khas Padang ini, memiliki rasa yang khas, gurih dan lemak dari ketan yang dicampur dengan santan kelapa. Kepulan asap yang terbentuk dari batok kelapa yang dibakar menghasilkan aroma yang khas.

Deretan bambu aneka ukuran pun dijajarkan di atas bakaran yang sesekali disiram dengan air.

(cr26/tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter    

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved