Tribun Wiki

Suka Makan Seafood? Awas Keracunan Kerang, Simak Penjelasannya

Mengonsumsi makanan laut atau seafood banyak digemari oleh masyarakat. Tapi tahukah Anda, bahwa makan makan seafood bisa keracunan

Tayang:
Editor: Array A Argus
INTERNET
Ilustrasi kerang 

TRIBUN-MEDAN.COM,- Makanan laut atau seafood paling banyak digemari oleh masyarakat.

Selain kaya manfaat, seafood juga menjadi sumber protein dan vitamin bagi manusia.

Namun, tahu kah Anda, bahwa mengonsumsi seafood jenis kerang bisa menyebabkan keracunan?

Makan kerang bisa menyebabkan keracunan jika tidak diolah atau disimpan dengan benar.

Baca juga: Puluhan Anak SD Keracunan Diduga usai Meminum Yoghurt, Padahal Tanggal Kadaluarsa Satu Bulan Lagi

Beberapa kerang mengandung racun alami yang dapat menyebabkan keracunan jika dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan atau jika kerang tersebut tidak segar.

Keracunan kerang dapat menimbulkan gejala seperti mual, muntah, diare, pusing, dan bahkan dapat berpotensi menjadi kondisi yang serius.

Jenis keracunan kerang:

1. Keracunan kerang paralitik

Menurut situs doh.wa.gov milik Washington State Department of Health menyebutkan, Paralytic Shellfish Poison (PSP) adalah keracunan kerang yang disebabkan oleh biotoksin laut alami yang diproduksi oleh beberapa spesies alga mikroskopis.

Saat kerang memakan alga tersebut, maka racun dapat berada di dalam kerang.

Saat Anda mengonsumsi kerang yang telah terkontaminasi PSP, maka Anda dapat mengalami keracunan paralitik yang dapat melumpuhkan otot dan menyerang sistem saraf.

Baca juga: Seorang Siswa SD di Bandung Barat Tewas dan 33 Lainnya Keracunan Cimin, Dibeli di Depan Sekolah

PSP dalam tingkat tinggi dapat menyebabkan penyakit parah dan kematian.

Ada banyak jenis kerang yang bisa terkontaminasi PSP, diantaranya adalah kerang laut, tiram, kerang geoduck, dan kerang simping atau scallop.

Keracunan juga bisa terjadi saat Anda mengonsumsi hewan laut seperti kepiting yang memakan kerang terkontaminasi PSP dan tidak dibersihkan dengan seksama.

2. Keracunan kerang diaretik

Diarrhetic Shellfish Poison (DSP) adalah keracaunan kerang yang disebabkan oleh racun biotoksin dari alga Dinoflagellata dinophysis yang dikonsumsi kerang.

Baca juga: Makan Cimin Pedas, Puluhan Siswa SD Keracunan, Muntah Hingga Diare

Mengonsumsi kerang yang terkontaminasi DSP dari alga dinoflagellata dapat menyebabkan keracunan kerang diaretik.

Sesuai namanya, diare adalah gejala yang paling sering dirasakan saat seseorang mengalami keracunan kerang diaretik.

3. Keracunan kerang amnesik

Asam domoat adalah racun biotoksin laut yang disebut Amnesic Shellfish Poison (ASP) yang diproduksi oleh diatom Pseudo-nitzschia sp., sejenis alga mikroskopis alami.

Kerang silet atau disebut juga kerang bambu, paling sering terkena ASP karena alga yang menghasilkan racun lebih banyak ditemukan di daerah pesisir tempat kerang bambu berada.

Jika Anda mengonsumsi kerang yang terkontaminasi ASP, ada risiko Anda mengalami keracunan kerang amnesik.

Baca juga: 13 Ekor Sapi Mati di Bekoan Kebun Kelapa Sawit Asahan, Diduga Karena Keracunan

Pada kondisi keracunan yang parah, kondisi ini bahkan bisa mengakibatkan kehilangan ingatan jangka pendek secara permanen.

Dilansir dari situs sehatq.com, ada beberapa gejala yang timbul saat keracunan kerang.

Berikut ini adalah gejala dari masing-masing keracunan.

Anda mungkin akan mengalami mati rasa atau kesemutan pada mulut.

Kondisi ini akan berlangsung berkisar 30 menit setelah makan kerang yang terkontaminasi.

Sensasi mati rasa atau kesemutan bisa menyebar ke lengan dan kaki.

Baca juga: Puluhan Warga di Ogan Ilir Sumsel Dilarikan ke Rumah Sakit Akibat Keracunan Gas yang Bocor

Pusing

Lengan dan kaki lumpuh sementara

Mual, muntah, dan diare

Gejala tersebut mungkin hanya dirasakan sebagian atau semuanya.

Pada jenis keracunan kerang paralitik, gejala seperti mual, muntah, dan diare lebih jarang dialami jika dibandingkan mati rasa atau kesemutan pada mulut.

Mual

Muntah

Sakit perut

Diare

Diare adalah gejala yang paling sering dilaporkan sebagai gejala dari jenis keracunan kerang ini.

Keracunan kerang amnesia memiliiki gejala keracunan yang aneh dan langka, meliputi:

Dimulai dengan mual, muntah, dan diare

Diikuti oleh kehilangan ingatan jangka pendek

Dapat juga terjadi gejala sistem saraf lainnya yang kurang umum.

Cara mengatasi keracunan kerang

  • Jangan memaksakan muntah.
  • Pastikan tubuh Anda tetap terhidrasi dengan baik, perbanyak minum air putih.
  • Jika mual dan muntah tidak dapat dikendalikan, maka Anda mungkin memerlukan cairan infus.

Tidak ada obat khusus yang tersedia untuk mengatasi keracunan kerang.

Pemberian antibiotik juga tidak dapat mendorong kesembuhan.

Jika Anda mengalami mual, muntah, diare dan kram perut, maka hanya obat antimotilitas preparat bismut yang boleh digunakan.

Jangan menggunakan obat antimotilitas lain karena dapat mengurangi gerakan lambung dan usus.

Ini bisa menyebabkan tubuh tidak dapat mengeluarkan penyebab infeksi sehingga gejala keracunan bisa memburuk dan berkepanjangan.

Untuk mencegah keracunan kerang, Anda perlu lebih berhati-hati dalam memilih kerang yang akan dikonsumsi.

Apalagi, racun pada kerang tidak dapat hilang dengan dipanaskan atau dibekukan, sehingga meski kerang dimasak dengan baik, risiko keracunan tetap ada.

Selain itu, Anda juga tidak dapat memastikan keamanan kerang hanya dari tampilannya.

Oleh karena itu, sebaiknya hanya konsumsi kerang yang Anda peroleh dari penjual terpercaya.

Untuk menghindari keracunan kerang, berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil:

Pastikan kerang segar

Pilih kerang yang masih hidup dan segar.

Hindari mengonsumsi kerang yang sudah mati atau kerang yang cangkangnya retak atau rusak.

Olah dengan benar

Pastikan kerang dimasak dengan baik hingga matang sempurna.

Memasak kerang dengan suhu yang tepat dapat membunuh bakteri dan racun yang mungkin ada di dalamnya.

Hindari kerang yang terkontaminasi

Hindari mengonsumsi kerang yang berasal dari perairan yang terkontaminasi oleh polutan atau alga beracun.

Simpan dan olah dengan kebersihan

Pastikan kerang disimpan dan diolah dengan kebersihan yang baik untuk mencegah kontaminasi bakteri.(tribun-medan.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved