Kasus Bayi Tertukar di Bogor
Ada Kesengajaan dan Tak Minta Maaf, RS Sentosa Didesak Tanggung Jawab Soal Kasus Bayi Tertukar
Kuasa Hukum Siti Mauliah, Rusdy Ridho mengatakan, hingga saat ini belum ada permintaan maaf secara resmi dari pihak RS Sentosa.
TRIBUN-MEDAN.com - Kasus bayi tertukar di rumah sakit Sentosa turut jadi sorotan Ketua Umum Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Aris Merdeka Sirait.
Aris Merdeka Sirait menduga ada unsur kesengajaan dalam kasus bayi tertukar itu.
Oleh karena itu, ia mendesak agar management dan direksi RS Sentosa Bogor juga harus bertanggung jawab.
Sehingga kesalahan tak hanya dibebankan pada tenaga kesehatan (nakes) yang dinilai lalai sehingga mengakibatkan dua bayi laki-laki itu tertukar.
Kasus bayi tertukar di Bogor ini pertama kali diungkap oleh Siti Mauliah, warga Desa Cibeuteung Udik, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor.
Selama satu tahun Siti merasakan firasat bahwa bayi yang ia bawa pulang ke rumah bukan anak kandungnya.
Kecurigaannya muncul saat kali kedua dirinya dipertemukan dengan bayi yang ia lahirkan.
Ia merasa bayi yang hendak ia bawa pulang itu berbeda dengan bayi yang sebelumnya ia susui setelah melahirkan.
Feelingnya pun semakin menguat saat ia menyadari nama yang ada di gelang sang bayi ternyata bukan nama dirinya.
Setelah setahun merawat sang anak, Siti Mauliah akhirnya baru tahu kalau bayi tersebut bukan anak kandungnya.
Hasil tes DNA yang dilakukan Siti membuktikan kalau bayi itu tidak identik, alias bukan anak biologisnya.
Jarak waktu satu tahun ini rupanya disorot oleh Aris Merdeka Sirait.
"Sebelumnya pernah ada di Bekasi, tapi bayi tertukar di Bogor ini sampai satu tahun," kata dia.
Dirinya pun sepakat kalau kasus ini terjadi akibat kelalaian rumah sakit.
"RS harus bertanggung jawab," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Kasus-bayi-tertukar-di-RS-Sentosa-Bogorsss.jpg)