Viral Medsos
Pejabat Rusia Mulai Abaikan Perintah Presiden Vladimir Putin
Penggunaan perangkat Apple mulai dari komputer hingga telepon seluler ini terjadi meskipun ada larangan yang sudah dikeluarkan pada Juli
TRIBUN-MEDAN.COM - Bagi Presiden Rusia Vladimir Putin, perang terhadap Ukraina tampaknya bukan semata perang bom dan adu senjata, tapi juga perang eksistensial. Dukungan Barat terhadap Ukraina, dianggap sebagai rencana berbahaya untuk "memotong-motong" dan menaklukkan Moskow. Karena itu, dalam perang yang makin intensif melawan Ukraina plus para negara Barat, Vladimir Putin mengeluarkan perintah terkait dengan budaya dan sosial, melarang segala macam yang terkait Barat di Rusia.
Perintah Putin itu termasuk melarang penggunaan kata-kata asing, memerintahkan pejabatnya untuk menghentikan penggunaan mobil buatan asing, dan melarang mereka menggunakan teknologi Barat—termasuk perangkat Apple. Namun sejauh ini, perintah Putin sepertinya tidak terlaksana atau bahkan tidak dilaksanakan kalau tidak mau disebut dicueki.
Mantan presiden Rusia, Dmitry Medvedev misalnya, pada minggu ini terlihat tiba di sebuah acara dalam konvoi kendaraan buatan luar negeri. Medvedev sendiri mengendarai Mercedes Benz mewah di belakang konvoi tersebut. Laporan terbaru outlet Verstka menunjukkan kalau insiden ini bukan satu-satunya yang terjadi.
Organisasi media independen bulan ini, mengungkapkan bahwa lembaga pemerintah Rusia mengalokasikan lebih dari 53 juta rubel (570.000 dolar AS) untuk pengadaan mobil asing. Ironisnya, ini terjadi hanya satu minggu setelah perintah Putin yang menginstruksikan para pejabat untuk berhenti menggunakan produk dan teknologi Barat.
Media oposisi lain di Rusia, Agentstvo, pekan ini juga menerbitkan laporan yang merinci bagaimana pejabat di kementerian pertahanan Rusia, kementerian pertanian, dan perusahaan teknologi Rusia, Rostec, kesemuanya masih menggunakan produk Apple.
Penggunaan perangkat Apple mulai dari komputer hingga telepon seluler ini terjadi meskipun ada larangan yang sudah dikeluarkan pada Juli karena kekhawatiran kalau pemerintah Barat dapat 'menyusup' melalui perangkat-perangkat tersebut.
"Penolakan, atau ketidakmampuan, pejabat Rusia untuk menghormati perintah anti-Barat Putin tersebut terjadi pada momen politik yang sensitif bagi sang "bos"," tulis ulasan Newsweek.
Perang mahal Kremlin di Ukraina tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, dan kekuatan Barat tidak menunjukkan keinginan untuk mengurangi sanksi yang telah mengisolasi ekonomi Rusia.
Hal itu berimbas pada merosotnya nilai tukar Rubel yang terjun bebas, dan upaya Moskow selama puluhan tahun untuk menciptakan "benteng ekonomi " hanya berhasil secara terbatas di sektor tertentu. "Ditambah adanya pemberontakan Grup Wagner —dan kekhawatiran atas reaksi yang dianggap lemah dari otoritas Rusia terhadap pemberontakan itu—posisi Putin di atas kleptokrasi Kremlin mungkin tidak seaman dulu," tulis ulasan tersebut.
Benteng Ekonomi Rusia
Moskow telah menghabiskan waktu bertahun-tahun mencoba mengembangkan produk dan teknologi buatan sendiri untuk alternatif pengganti barang-barang asing. "Ketergantungan Rusia pada teknologi Barat merupakan masalah praktis dan politis; kelemahan ekonomi dan simbol inferioritas teknologi Rusia," kata ulasan Newsweek.
Sanksi Barat dan pelarian modal membuat banyak produk tidak lagi dapat diakses di pasar Rusia. "Perintah untuk berhenti menggunakan mobil asing dan produk Apple akan sulit diterapkan, karena di pasar Anda tidak dapat menemukan banyak alternatif," kata Oleg Ignatov, analis senior lembaga think tank Crisis Group, dilansir Newsweek.
Adapun pasar mobil Rusia saat ini berada dalam kondisi yang sangat sulit. Tahun lalu adalah kondisi terburuk industri otomotif Rusia sejak runtuhnya Uni Soviet. Hal itu ditandai menurunnya produksi hingga 67 persen, merujuk data yang diterbitkan oleh layanan statistik federal Rusia, Rosstat.
Produsen dalam negeri tampaknya tidak dapat mengisi kekosongan produk di pasar atas keputusan perusahaan asing yang angkat kaki dari Rusia saat invasi terjadi ke Ukraina. "Banyak perusahaan asing, perusahaan asing Barat dan perusahaan asing Korea, mereka meninggalkan pasar Rusia," kata Ignatov.
"Jika Anda ingin membeli mobil murah, Anda akan membeli mobil Korea, tapi sekarang tidak mungkin. Jadi, mobil utama di pasar Rusia saat ini adalah China."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/DUA-JENDERAL-RUSIA-HILANG-MENDADAK.jpg)