Veteran
Veteran Berusia Satu Abad di Padang Ceritakan Kisahnya Melawan Penjajah Saat Agresi Militer Belanda
Mereka mengikuti latihan militer dari Jepang. Hal tersebut juga diamini Nawi, ia mengikuti latihan militer itu sekitar tahun 1944 hingga 1945.
TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Nawi, seorang veteran tertua di Kota Padang, Sumatera Barat membagikan kisah hidupnya sata hidup pada jaman penjajahan.
Saat ini, Nawi sudah berusia 100 tahun, yang lahir pada 12 Mei 1923 silam.
Walaupun usianya sudah satu abad, pria ini masih ingat betul kejadian yang dirinya lewati saat melawan penjajah.
Dikutip dari Tribunpadang.com, dirinya mengenang masa sulit sebelum Indonesia merdeka, hingga saat Belanda melancarkan agresi militer I di Indonesia.
Baca juga: DETIK-DETIK Pesawat Jatuh di Jalanan Raya, Tabrak Motor dan Mobil, Sedikitnya 10 Orang Tewas
Di masanya, Nawi adalah ketua komando regu Laskar Hizbullah di Padang.
Dilansir dari Kompas.com, Hizbullah ialah laskar rakyat yang terdiri dari para kiai, pemuda Islam, dan santri, pada masa perjuangan kemerdekaan.
Mereka mengikuti latihan militer dari Jepang. Hal tersebut juga diamini Nawi, ia mengikuti latihan militer itu sekitar tahun 1944 hingga 1945.
Nawi salah seorang saksi sejarah yang tersisa pada zaman Indonesia sebelum merdeka di Kota Padang.
Baca juga: Gedung Kantor BPKAD Kota Pekanbaru Kebakaran, Sekda Pastikan Tidak Ada Dokumen Penting yang Terbakar
Ia cukup mengetahui kondisi yang terjadi saat Agresi Militer Belanda I pada 1947 lalu di ibu kota Provinsi Sumbar. Saat itu pahlawan nasional Bagindo Aziz Chan tewas ditangan tentara Belanda.
"Itu kejadiannya di Simpang Tinju, tahun 1947 belum aman nagari, masih perang, kuburannya (Bagindo Aziz Chan) di Bukittinggi, disalatkan di Masjid Gantiang," ujar Nawi kepada Tribunpadang.com usai upacara peringatan HUT ke-78 Republik Indonesia di Istana Gubernur Sumbar, Minggu (17/8/2023).
Menurut Nawi, saat agresi militer Belanda I ia bergerilya ke berbagai daerah di Sumbar, di antaranya Padang, Solok, Bukittinggi, Pariaman hingga Pasaman.
Ia menuturkan, agresi militer Belanda itu begitu menghantui masyarakat, termasuk di Padang. Kebutuhan pokok seperti beras sulit didapat lantaran petani tak ke sawah dan mesti mengungsi.
Baca juga: Tak Dikasih Tempat Duduk, Kepala Kemenag Soppeng Tinggalkan Upacara HUT RI, Biasa Diminta Pimpin Doa
"Saat nagari sudah aman, baru mereka ke sawah, jadi makanan saat itu apa yang bisa dimakan saja," kata veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia (PKRI) ini.
Selain menjadi saksi sejarah saat masa agresi militer Belanda I itu, Nawi mengakui dirinya juga terlibat pada masa Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumbar.
Pada masa pergolakan itu, peluru menyasar di paha kanan Nawi yang hingga kini masih tertancap di tubuhnya. "Masih ada pelor di paha, tak dibuang, untungnya tak kena tulang dan tak terlalu merusak, dulu itu juga banyak disuntik," imbuh Nawi.
Baca juga: PEDAS, PDIP Kritik Deklarasi Golkar PAN di Museum : Prosesnya Saja Sudah Langgar UU
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Nawi-Tribun-Padang.jpg)