Profil Nezar Patria, Putra Aceh Anak Pendiri Serambi Indonesia, Dulu Aktivis 98 Pernah Diculik

Presiden Joko Widodo melantik Nezar Patria sebagai Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika (Wamenkominfo).

Tayang:
Editor: Jefri Susetio
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Presiden Joko Widodo melantik Nezar Patria sebagai Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika (Wamenkominfo). Pelantikan para menteri dan wakil menteri Kabinet Indonesia Maju berlangsung di Istana Negara, Senin (17/7/2023), sekira pukul 09.00 WIB. 

Sebelumnya, Nezar bekerja sebagai Direktur Kelembagaan PT Pos Indonesia (Persero) sejak 23 September 2020-25 April 2022.

Dan Komisaris Utama PT Dapensi Trio Usaha pada 31 November 2021-13 Juni 2022.

Sebelum terjun ke birokrasi, Nezar Patria dikenal luas sebagai wartawan, aktivis, dan juga penyair.

Pada penghujung masa Orde Baru, Nezar Patria menjadi salah satu dari 13 korban penculikan aktivis yang memperjuangkan reformasi di Indonesia.

Sepanjang kariernya di dunia pers, Nezar Patria pernah menjabat sebagai Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia periode 2008-2011.

Kemudian Anggota Dewan Pers untuk dua periode, Maret 2016-Juni 2019.

Sebelum meninggalkan dunia jurnalistik setelah ditunjuk menjadi Direktur Kelembagaan di PT Pos Indonesia, Nezar Patria tercatat sebagai Pemimpin Redaksi The Jakarta Post pada tahun 2020.

Selain karya jurnalistik yang diterbitkan di media nasional, Nezar juga aktif menghasilkan publikasi dalam bentuk artikel ilmiah maupun buku nonfiksi dan puisi.

Selain itu, Nezar Patria adalah anak dari pendiri koran Harian Serambi Indonesia H Sjamsul Kahar.

Seperti diketahui H Sjamsul Kahar salah satu pendiri dari Harian Serambi Indonesia bersama sahabatnya M Nourhalidyn.

Dimana awalnya harian Serambi Indonesia ini bernama Mingguan Mimbar Swadaya yang dipimpin oleh M Nourhalidyn (1943-2000).

Namun manajemen yang kurang baik pada masa itu, membuat koran mingguan yang berdiri pada 1970-an tersebut sering tak terbit.

Tak ingin korannya mati, M Nourhalidyn kemudian bersama sahabatnya Sjamsul Kahar yang juga wartawan Kompas di Aceh, mencoba menjajaki kerjasama dengan harian Kompas.

Alhasil kolaborasi Nourhalidyn - Sjamsul Kahar berhasil meyakinkan harian terbesar di Indonesia itu.

Dan tepat pada 9 Februari 1989, mingguan Mimbar Swadaya akhirnya menjelma menjadi harian Serambi Indonesia.

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved