Tewasnya Pak Ogah
Terbongkar Fakta Mayat Pak Ogah Penuh Luka Mengerikan, Usus Terburai, Ibu Korban Beber Keganjilan
Banyak luka mengerikan, mulai dari usus terburai dan kaki patah-patah ada di mayat Pak Ogah. Sang ibu curiga anaknya bukan ditabrak melainkan dibunuh
Penulis: Fredy Santoso | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Keluarga Mardian, Pak Ogah alias relawan lalu lintas yang ditemukan tewas di parit Jalan AH Nasution, tak jauh dari Kejaksaan Tinggi Sumut merasa janggal atas kematian korban.
Ibu korban, Warni, menduga anaknya bukan tewas tertabrak mobil Toyota Avanza berwarna hitam BB 1238 QA yang ditemukan di gedung Badan Standarisasi Instrumen Pertanian (BSIP) Medan.
Menurutnya, ada dugaan yang mengarah anaknya dan Andi merupakan korban pembunuhan karena sepenglihatan dia ada bekas luka diduga sayatan senjata tajam di leher.
Kemudian, perut luka robek hingga ususnya terburai dan kaki patah-patah.
Baca juga: NGERI ! Pria Ini Nekat Culik Anak Rekan Kerja dan Dikurung di Gua Sempit, Alasannya Tak Biasa
Lalu yang membuatnya janggal, jika tertabrak mobil hingga tewas, dia merasa tidak melihat adanya luka lecet akibat terseret mobil. Luka pada perut itupun seperti ditusuk atau disayat
"Kapolsek bilang ditabrak kencang. Luka di perut seperti kena sayat pisau, di leher seperti ada potongan bekas parang dan kaki patah. Tetapi saya belum bisa memastikan dia kecelakaan atau apa,"kata Warni, Sabtu (1/7/2023).
Baca juga: Kapolres Binjai Dicopot Kapolri, Ini Reaksi AKBP Hendrick Situmorang Ditanya soal Pelecehan Polwan
Warni meminta Polisi mengusut tuntas kematian anaknya secara transparan.
Polisi diminta menjelaskan penyebab pasti kematian apakah dibunuh atau murni tertabrak mobil seperti yang tersiar.
Kemudian dia juga meminta hasil otopsi disampaikan apakah anaknya itu tewas seketika atau ada orang yang sengaja memasukkannya ke parit.
"Kami menyerahkan kepada pihak kepolisian. Paru-paru seperti apa, apakah ada air dan tidak harus diselidiki. Perut tidak kembung."
Secara terpisah, Nover Baruwu (34), sopir Toyota Avanza berwarna hitam BB 1238 QA yang ditemukan di gedung Badan Standarisasi Instrumen Pertanian (BSIP) Medan mengaku tidak mengetahui menabrak orang di lokasi.
Dia menyebut hanya menabrak pohon dan seketika mobilnya berhenti.
"Kondisi kurang fit, gak tahu, gak sadar nabrak orang. Saya tahunya berhenti di pohon,"kata Nover Baruwu (34), sopir Toyota Avanza berwarna hitam BB 1238 QA, saat olah TKP bersama Bid Labfor Polda Sumut, Sabtu (1/7/2023) sore.
Dijelaskan Nover, saat kejadian dia melaju dari arah Jalan Sisingamangaraja ke Jalan AH Nasution.
Waktu itu dia baru saja mengisi acara sebagai pemain keyboard. Namun dia membantah kalau mengemudi dalam keadaan mabuk hingga tak sadar telah menabrak dua orang sekaligus.
"Saya pemain keyboard. Gak (mabuk),"ucapnya.
Sebelumnya, dua mayat pria ditemukan tewas di dalam drainase Jalan AH Nasution, arah ke Simpang Pos, Jalan Letjen Jamin Ginting, tak jauh dari kantor Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, Jumat (30/6/2023) pagi.
Mayat ditemukan di parit dengan posisi mengapung dan telungkup di depan sebuah gudang.
Ciri-ciri mayat yang pertama mengenakan kaos garis-garis berwarna biru putih. Dan kedua menggunakan kaos garis-garis berwarna merah.
Jarak keduanya ditemukan sekitar 3 meter dari mayat 1 ke mayat satunya lagi.
Di lokasi atau tepatnya di area parkiran gedung Badan Standarisasi Instrumen Pertanian (BSI), ada mobil berwarna hitam ringsek pada bagian depan sebelah kiri, dua pintu sebelah kiri penyok, ban depan kiri pecah dan kaca belakang sebelah kiri juga pecah.
Kemudian, ban sebelah kanan belakang mobil juga pecah dengan kondisi velg gosong dan penyok.
Mobil ini diduga yang menabrak keduanya. Sebab, keterangan salah satu sekuriti, sekitar pukul 01:30 WIB ada kecelakaan lalu lintas dan diduga pemilik mobil menitipkan mobilnya ke Gedung yang dijaganya.
Sekitar 10 meter dari penemuan mayat juga ditemukan sebuah pohon jenis mahoni terkelupas.
Pohon ini diduga sempat tertabrak oleh mobil yang ditemukan ini.
Salah satu saksi di lokasi, Mawardi mengatakan, penemuan mayat itu pertama kali diketahui oleh istrinya, Jumat 30 Juni sekitar pukul 06:00 WIB.
Saat itu, istri Mawardi baru mengambil air, dan ketika melihat ke parit ada dua mayat.
Kemudian istrinya memanggilnya, lalu mereka memanggil pihak terkait.
"Jam 6 kurang lebih. Mengapung gitu mayatnya,"kata Mawardi, Jumat (30/6/2023).
Mawardi menyebut, tak ada kendaraan roda dua ditemukan di lokasi.
Namun ada sejumlah barang-barang berserakan di lokasi.
Sekitar pukul 09:00 WIB mayat langsung dievakuasi. Lokasi juga dipasangi garis Polisi.
Istri Ungkap Kelakuan Tak Biasa Suaminya sebelum Meninggal
Nur Aini, istri mendiang Mardian alias Wakas, pak Ogah atau relawan lalu lintas di depan gedung Kejati Sumut, yang ditemukan tewas di parit Jalan AH Nasution, arah Simpang Pos, mengenang sebelum suaminya ditemukan tewas.
Sambil menangis, duduk di kursi plastik belakang rumah dia menyebut beberapa jam sebelum suaminya ditemukan sempat melihat suami riang gembira berkaraoke di rumah.
Bahkan, dia juga sempat melihat suaminya itu lahap menyantap masakan sup daging yang diperoleh dari kurban.
Baca juga: Puluhan Oknum Ormas Sok Jago, Pukul Sejumlah Pengunjung dan Pedagang Angkringan
Saking gembiranya, Wakas berulangkali mengajak istrinya mencicipi dan menikmati sup bareng-bareng.
Saat itu Nur Aini memang merasa ada yang berbeda dengan suaminya. Wakas alias Mardian terlihat lebih ingin membahagiakan istrinya pada Kamis 29 Juni malam.
"Memang dia makannya tambah-tambah, tidak seperti biasa. Jam 11 masih karaoke suami , saya bilang jangan kuat-kuat, gak enak sama tetangga,"kata Nur Aini, saat diwawancarai, Sabtu (1/7/2023) sore.
Baca juga: Kapolres Binjai Dicopot Kapolri, Ini Reaksi AKBP Hendrick Situmorang Ditanya soal Pelecehan Polwan
Sebelum ditemukan tewas, pada Kamis dinihari Mardian dan korban satunya Andi Syahputra sedang bersantai di rumah mereka.
Andi dan Mardian sama-sama bermain handphone.
Namun handphone yang dipegang Mardian sempat diminta sebentar karena tidak bisa tertidur.
Kemudian Nur Aini masuk ke kamar dan diikuti suaminya.
Tak berapa lama handphone itu diserahkan kembali ke Mardian dan ia pun keluar kamar menemui Andi.
Tetapi sebelum keluar, Wakas meminta agar istrinya tidur lebih dulu karena besok istrinya akan pergi pengajian.
Seingat Nur Aini, dia melihat suaminya dan Andi terakhir kali pada Jumat dinihari pukul 02:00 WIB.
"Mau pergi ke Tembung dari pengajian, jam 8.
Kemudian saya tidur. Saya gak tau mereka masih di dalam, sekitar pukul 02:00 WIB."
Sekira pukul 05:00 WIB, Nur Aini terbangun. Namun dia tak lagi melihat suaminya dan Andi.
Kemudian dia melihat jendela rumah sudah terbuka.
Sekitar pukul 08:00 WIB, seorang tetangganya datang. Ia mengabarkan kalau Andi dan suaminya ditemukan telungkup di parit di parit Jalan AH Nasution, tak jauh dari gedung Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara.
Kaget bukan kepalang Nur pun langsung bergegas dan ternyata benar ada suaminya telungkup di air.
Seketika dia pun langsung menangis sejadinya melihat kondisi suaminya yang tragis.
Tak lama kemudian ia pun memutuskan pulang karena tak kuasa melihat sang suami.
"Saya terpukul sekali, sehat-sehat tahu-tahu dikabari sudah jadi mayat."
Mardian merupakan relawan lalu lintas di depan gedung Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara. Tetapi dia juga sering membantu istrinya berdagang es di seberang suaminya ditemukan tewas.
Nur belum memiliki anak dari Mardian. Namun Mardian memiliki anak dari istri sebelumnya yang tinggal dengan ibu korban.
Dia berharap Polisi bisa mengungkap penyebab pasti kematian suaminya.
Dia merasa ada yang tidak beres dengan kematian Mardian.
"Semoga apapun yang terjadi segera terungkap,"harapnya.
(cr25/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/olah-TKP-mayat-dua-laki-laki.jpg)