Berita Medan
War Tiket Coldplay Hingga Jadi Mahar, Fans atau FOMO ini kata Psikolog
Menurutnya kejadian ini tidak serta merta dapat dikaitkan atau dikatakan sebagai FOMO.
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- War tiket Coldplay hingga menjadikannya mahar, sedang menjadi perbincangan hangat di Indonesia.
Hal tersebutpun kemudian dikaitkan pula dengan fenomena FOMO (Fear Of Missing Out).
Grup musik Pop-rock asal Inggris ini akan menyambangi Indonesia pada November 2023 mendatang.
Ramainya pembelian tiket, sampai ludes di waktu yang sangat singkat.
Tak sedikit yang malah membeli dari calo dengan harga fantastis.
Salah satunya remaja asal Medan Tina, awalnya Tina dan temannya sudah begitu gembira karena bisa masuk dalam proses antrian.
"Ini sudah masuk antrean, jadi nanti kita tinggal choice tiket saja, dan lakukan pembayaran," ujarnya ketika Tribun Medan temui di sebuah warung yang dijadikan lokasi untuk war tiket Coldplay.
Hanya saja ternyata harap mereka musnah, karena disaat pemilihan tiket yang tertera sold out.
Akhirnya, Tina dan temannya memilih untuk membeli tiket dengan harga tiga kali lipat dari calo.
"Nggak dapat jadinya, kami beli dari calo, harganya bisa tiga kali lipat, awalnya kita mau beli yg di harga tiket sekitar 4 jtan," ungkapnya.
Baru-baru ini pula, sosial media dihebohkan dengan mahar tiket Coldplay, yakni pengantin dari Bekasi.
Terkait fenomena yang terjadi saat ini, Tribun Medan meminta tanggapan Psikolog USU, Meutia Nauly.
Menurutnya kejadian ini tidak serta merta dapat dikaitkan atau dikatakan sebagai FOMO.
Dikatakannya, FOMO sendiri adalah kecenderungan mengikuti tren melalui medsos, tidak mau tertinggal dari tren di medsos, artinya keinginan untuk memamerkan ikut serta dalam sebuah peristiwa itu sangat tinggi.
"Tapi kalau keterkaitannya dengan pembelian tiket Coldplay sendiri menurut saya memang tren, tapi ada masanya. Secara klasik, memang kearah sana, tapi dari sisi kajian tidak ada kearah fenomena FOMO ya," ungkap Psikolog yang juga Ketua Satgas PPKS USU tersebut.
Kecenderungan FOMO sendiri terjadi pada anak muda dimasa ini, akses informasi yang semakin mudah, memunculkan ketertarikan untuk ikut serta dalam sebuah tren.
"Coldplay digandrungi memang masuk ke tren, kalau dulu minatnya sangat tinggi terhadap Korea misalnya, sekarang ini Coldplay begitu," katanya.
FOMO muncul karena ada ketakutan tidak mengikuti tren yang ada, khususnya di sosial media. Oleh sebab itu, fenomena satu ini seringkali ditemui di kalangan anak muda.
Imbasnya, mereka senang mencari validasi dan munculah sifat FOMO.
“Orang yang lebih muda jauh lebih berisiko karena peningkatan jumlah waktu yang dihabiskan untuk online ditambah dengan kepekaan yang meningkat dan kebutuhan akan persetujuan dan rasa memiliki secara sosial,” jelasnya.
Sah-sah saja mengikuti tren yang ada, namun disebutnya kecendrungan anak sekarang adalah terlalu fanatik, sehingga memunculkan hal yang negatif.
"Nah poin yang satu ini, harus dikontrol orang dewasa, fanatik ini yang tidak baik," tambahnya.
Diimbaunya, sebaiknya anak muda bisa memilih hal yang harus dilakukan dengan baik.
Bukan sekadar ikut tren, dan merugikan diri sendiri, sebab tren sekarang benar-benar menjadi hal yang harus diperhatikan dibawah bimbingan orang tua.
"Harus ada pantauan dari orang sekitar, dan mengontrol diri dengan baik, jadi tidak terlalu fanatik terhadap seorang sosok atau suatu hal apapun," pungkasnya.
(cr26/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/jastip-tiket-coldplay.jpg)