HKBP
Jemaat HKBP Pabrik Tenun Doa Bersama di Polda Sumut, Dugaan Laporan Pendeta RS Ngendap 8 Bulan
Ratusan jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Jalan Pabrik Tenun Medan berunjukrasa di depan pintu masuk gedung Polda Sumut.
Penulis: Fredy Santoso | Editor: Randy P.F Hutagaol
"Inside hari Minggu itu merupakan tindakan yang sudah beberapa kali dilakukan oleh Jamaat. Mereka sudah pernah melakukan beberapa kali protes terhadap pendeta yang menjabat itu," kata Dwi kepada Tribun-medan, Senin (27/6/2022).
Ia mengatakan, para jemaat menuding pendeta tersebut telah melakukan sejumlah pelanggaran terhadap ketentuan aturan di HKBP.
"Puncaknya ini sebenarnya kejadiannya ketika arogansi pendeta Rumondang mengganti calon sintua yang sudah belajar hampir setahun, diberhentikan 10 orang," sebutnya.
"Setelah diberhentikan baru ditunjuk yang baru, tanpa adanya rapat dari parhalado, baik itu juga aturan - aturan HKBP," sambungnya.
Dwi juga mengungkapkan, bahwa para jemaat juga sempat dituduh telah melakukan korupsi di gereja yang terletak di Jalan Pabrik Tenun, Kecamatan Medan Medan Petisah itu.
Namun, hal tersebut tidaklah pernah dilakukan oleh para jemaat.
"Puncak dari perlawanan mereka, ada beberapa isu yang dibangun, bahwasanya dengan adanya pendeta Rumondang ini Jamaat menolak, karena di dalam itu ada tindakan korupsi itu yang sedang dibangun, tekait perluasan gereja," bebernya.
"Apabila kita kaji dengan kasat mata, apabila Jemaat ini yang melakukan korupsi terhadap pembebasan lahan itu boleh kita cek yang pro dan kontra," ungkapnya
"Bendahara pembebasan lahan atau panitia pembebasan lahan itu adalah sintua yang pro ke pendeta, bagaimana kita diisukan mengorupsi uang gereja," tambahnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa fakta yang sebenarnya adalah pembangunan gereja HKBP Pabrik Tenun juga menggunakan uang dari jemaat, karena pada saat itu keuangan gereja tidak cukup.
"Sedikit bercerita soal mengenai pembebasan lahan ini, waktu itu ada mereka menawar satu lahan untuk pembebasan gereja itu sekitar dua sekian M, jadi uang khas tidak cukup maka digunakanlah uang jemaat," katanya.
Dwi membeberkan bahwa, uang jemaat itu rencananya akan di kembalikan pada bulan Juli 2022 ketika pesta Gotilon. Namun, rencana tersebut sepertinya tidak ditanggapi oleh Pendeta Rumondang Sitorus.
"Mereka akan mengadakan pesta Gotilon, karena Gereja ada mengutang pada Jamaat yang di duluankan oleh Jamaat, tapi ini tidak diindahkan itu dasarnya sebenarnya," ungkapnya.
Lalu, ia menjelaskan puncak persoalan antara jemaat dan pendeta Rumondang Sitorus terjadi di hari Sabtu 21 Mei 2022 silam.
Malam itu, Dwi mengatakan pendeta Rumondang Sitorus tidak ada melakukan persiapan pelayanan di gereja pada hari Minggu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Pencuri-Gerobak-Penjual-Kelapa.jpg)