Berita Sumut

Kisah Perjuangan Muamar Habibilah Pemuda Asal Sergai, Raih 4 Medali di Ajang Asean Para Games

Kisah Muamar Habibilah, pemuda asal Kabupaten Serdangbedagai yang berhasil mengharumkan nama Indonesia di ajang Asean Para Games 2022.

Tayang:
Penulis: Anugrah Nasution |
Tribun Medan/HO
Muamar Habibilah, atlet difabel asal Kabupaten Serdangbedagai yang berhasil mengharumkan nama Indonesia di ajang Asean Para Games 2022, Solo, Jawa Tengah, beberap waktu lalu. (Dok Pribadi)  

TRIBUN-MEDAN.com, SERDANGBEDAGAI - Kisah Muamar Habibilah, pemuda asal Kabupaten Serdangbedagai yang berhasil mengharumkan nama Indonesia di ajang Asean Para Games 2022, yang berlangsung di Solo, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.

Muamar Habibilah merupakan, satu di antara 17 atlet difabel asal Sumut yang mewakili Indonesia bersaing dengan atlet dari negara sekawasan di Asia Tenggara lainnya di Asean Para Games 2022.

Turun di cabang olahraga atletik, berkat kerja kerasnya, Muamar Habibilah berhasil meraih empat medali, yakni dua medali emas di nomor lari estafet dan nomor lompat jauh, serta dua medali perak dari nomor lari 100 meter dan 200 meter.

Baca juga: Atlet Asean Para Games Asal Sumut Pulang, Raih Peringkat Tiga Medali Emas Terbanyak Bagi Indonesia

"Saya membawa pulang dua mendali emas dan dua perak. Satu mendali emas beregu cabang lari estafet, satu mendali emas nomor di lompat jauh, satu perak lari 100 meter dan perak satu lagi di 200 meter," kata Habibilah. 

"Cukup puas, ini hasil dari kerja keras saya serta doa dari kedua orang tua saya. Dan penghargaan ini saya persembahkan kepada Indonesia," lanjut Habibilah saat dihubungi Tribun-medan, Selasa (9/8/2022). 

Habibilah sendiri adalah warga perumahan PJKA, Kecamatan Perbaungan Kabupaten Sergai.

Sejak bersekolah di SMA Al Wasliyah Perbaungan, pemuda 24 tahun itu sudah gemar berolahraga, salah satunya adalah bermain sepak bola. 

"Dulu pernah main bola, masuk sekolah bola, terus mulai ikut kejuaraan lari itu waktu SMA ada pertandingan lari 400 meter antar sekolah, jadi saya ikut," kata dia. 

Namun sebuah kecelakaan telah membuat hidup Habib berubah. Menjelang kelulusan sekolah, dia mengalami kecelakaan

Mata kirinya mengalami benturan keras hingga membuat dia tak bisa melihat dengan baik.  Tak hanya mata, gendang telinga Habib juga rusak karena benturan keras. 

"Saya itu kecelakaan pada tahun 2016 sebelum ujian nasional saya ditabrak, kondisi sempat kritis, sampai mata sebelah kiri saya ini mengalami keretakan di atas pelipis. Pendengaran saya yang sebelah kiri juga kurang terganggu karena kecelakaan itu gendang telinga pecah," kata dia. 

"Jadi saraf mata saya yang sebelah kiri terganggu. Sampai hampir tidak bisa melihat, hanya bisa melihat cahaya doang. Sampai saat ini hanya bisa memandang cahaya, mata sebelah kanan saya juga terganggu silindris berbayang," ujar Habibilah. 

Memang bala tak bisa ditolak, hidup kadang juga bisa diperkirakan.

Usai insiden itu, pelan pelan Habib mulai bangkit, usai pulih dari kecelakaan, dia semakin giat berlatih. 

Dipenghujung tahun 2016, Habib lalu mengikuti seleksi Pekan Paralimpiade Nasional (Paparnas) di Jawa Barat. 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved