Harga Pupuk
HARGA Pupuk Subsidi Capai Rp 135 Per Karung, Petani di Karo Terpaksa Batasi Penggunaannya
Akhir-akhir ini sejumlah petani mengeluhkan tentang harga pupuk non subsidi yang harganya kian mahal.
Penulis: Muhammad Nasrul | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com, KARO - Kabupaten Karo, sudah sejak lama dikenal sebagai daerah penghasil sayur dan buah di Sumatera Utara.
Dengan kesuburan tanah yang ada, mayoritas masyarakat Kabupaten Karo berprofesi sebagai petani.
Namun, akhir-akhir ini sejumlah petani mengeluhkan tentang harga pupuk non subsidi yang harganya kian mahal.
Seperti diungkapkan Yuli Tarigan, petani yang juga penjual benih sayuran di Berastagi menjelaskan jika peningkatan harga pupuk ini sangat berdampak pada kelangsungan pertanian masyarakat.
Baca juga: Petani di Desa Liang Melas Datas Kaget Didatangi Presiden Jokowi, Adukan Soal Harga Pupuk
"Belakangan ini sudah makin naik harganya, terasa juga pastinya," ujar Yuli, Minggu (26/6/2022).
Dijelaskan Yuli, perbandingan antara pupuk subsidi dengan nonsubsidi harganya cukup signifikan.
Untuk pupuk subsidi jenis urea, jika dibeli dengan menggunakan kartu kelompok tani berkisar Rp 100 ribu hingga Rp 135 ribu per karung.
Sementara untuk pupuk non subsidi, harganya mencapai Rp 500 ribu hingga Rp 550 ribu per karung.
Dengan tingginya harga pupuk, membuat ia harus menghemat dan mengurangi jumlah penggunaan pupuk.
“Bisanya pemupukan itu optimalnya dua kali dalam sekali tanam. Tapi karena harga mahal, ya terpaksa cuma ngasih pupuk sekali saja," Ucapnya.
Terlebih, untuk biaya pengelolaan kebun tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Selain pemupukan, tentunya ada kebutuhan lain seperti untuk perawatan tanaman.
Tak hanya itu, biaya lain juga harus dikeluarkan seperti sewa alat bajak, upah buruh, hingga biaya panen.
Baca juga: Harga Gabah Turun Harga Pupuk Naik, HKTI Sumut Cium Ada Permainan Kartel
Seperti diketahui, ia yang juga menjual benih tanaman juga tidak bisa menaikkan harga benih ke petani. Pasalnya, dengan harga pupuk yang mahal juga mengurangi niat petani untuk menanam benih yang beragam.
"Harapannya supaya pemerintah bisa membantu memperbanyak pupuk subsidi untuk masyarakat. Karana kita di sini kan mayoritas jadi petani," Ungkapnya.
Di tempat terpisah, salah satu pemilik toko kelengkapan pertanian BP Milan Surbakti, menjelaskan jika kenaikan harga jual mencapai 100 persen.
Dirinya menjelaskan, kenaikan harga ini juga berlaku bagi semua jenis pupuk non subsidi.
"Sebelumnya, harga pupuk urea non subsidi hanya Rp 7.000 per kilogram, sekarang mencapai Rp.14.000 per kilogram. Untuk satu karungnya, dengan berat 50 Kilogram dulunya Rp 280.000 kini menjadi Rp 650.000 per karungnya," ucapnya.
Untuk pupuk jenis mutiara, sebelumnya seharga Rp.10.000 per kilogram kini menjadi Rp.17.000. Sementara harga satu sak yang sebelumnya Rp 425.000, kini menjadi Rp 850.000 per sak. Sedangkan pupuk KCL yang sebelumnya seharga Rp 7.000 kini menjadi Rp 20.000, dan harga satu saknya dari Rp 300.000 kini menjadi Rp 900.000. Kemudian, pupuk merk TSP sebelumnya seharga Rp 6.000 kini menjadi Rp 16.000 perkilogram, dan untuk satu saknya sebelumnya Rp 300.000 kini mencapai Rp 830.000.
“Sudah terjadi sekitat kurang lebih dari setahun terakhir, enggak tau juga kita penyebabnya," Katanya.
Lebih lanjut, dengan kenaikan harga ini membuat daya beli petani menjadi sedikit berkurang dibanding sebelumnya.
Dengan kondisi ini, membuat penjualan pupuk juga menjadi melemah karena petani yang sudah semakin mengurangi penggunaan pupuk.
(cr4/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Suasana-penjualan-bibit-tanaman-milik-salah-satu-warga-di-Kecamatan-Berastagi.jpg)