Rusia vs Ukraina

Sudah Dua Kali Pertemuan, Rusia-Ukraina Belum Ada Juga Hasil Kesepakatan, Ternyata Ada Pengkhianat

Sebelumnya, pertemuan pertama delegasi Rusia dan Ukraina berlangsung di perbatasan Ukraina-Belarus pada Senin (28/2/2022) sore waktu setempat.

Tayang:
Editor: AbdiTumanggor
Sergei Kholodilin/Belta/Handout via Reuters via Aljazeera
Delegasi atau negosiator Rusia (kiri) dan negosiator Ukraina (kanan) melakukan pertemuan pertama di perbatasan Ukraina-Belarus pada 28 Februari 2022 lalu. Kini salah satu negosiator Ukraina dikabarkan berkhianat ke Rusia hingga ditembak mati petugas kemananan Rusia. 

TRIBUN-MEDAN.COM - Pantesan! Sudah dua kali pertemuan, namun Rusia dan Ukraina belum juga menghasilkan kesepakatan. Ternyata salah satu negosiator Ukraina dilaporkan ditembak mati karena diduga berkhianat ke Rusia.

Sebelumnya, pertemuan pertama delegasi Rusia dan Ukraina berlangsung di perbatasan Ukraina-Belarus pada Senin (28/2/2022) sore waktu setempat.

Pertemuan tersebut pun belum membuahkan hasil kesepakatan gencatan senjata. Padahal, salah satu tujuan Ukraina setuju berdialog dengan Moskow adalah guna menyerukan gencatan senjata secepatnya.

Delegasi Rusia dan Ukraina sepakat menggelar perundingan putaran kedua dalam waktu dekat. "Kami sepakat melanjutkan negosiasi," kata Ketua Delegasi Rusia, Vladimir Medinsky seperti dikutip AFP.

"Delegasi Ukraina dan Rusia mengadakan negosiasi putaran pertama. Tujuannya adalah membahas gencatan senjata dan pertempuran di wilayah Ukraina."

"Setiap pihak telah menentukan topik di mana keputusan telah dipetakan. Agar keputusan ini dapat diimplementasikan, seluruh pihak setuju untuk kembali berkonsultasi ke ibu kota masing-masing," kata perwakilan delegasi Ukraina Mikhaylo Podolyak, diktutip dari laporan media Aljazeera, Selasa (1/3/2022).

Namun, di tegah perundingan, Rusia masih terus menyerbu sejumlah wilayah strategis Ukraina seperti Kharkiv bahkan Ibu Kota Kiev kala dialog berlangsung. Sederet roket Rusia masih menghantam beberapa wilayah di Kharkiv, kota terbesar kedua di Ukraina.

Menurut Dewan Kota Kharkiv, dikutip dari AFP, serangan roket Rusia tersebut menewaskan seorang perempuan dan melukai 31 orang lainnya terdiri dari 15 personel militer dan 16 warga sipil.

Ledakan dahsyat juga terdengar di Kiev sekitar pukul 19.40 malam waktu setempat. Ledakan-ledakan itu menjadi yang terbesar disusul dengan sirene darurat bergaung di seluruh kota.

Tuntutan Utama Rusia

Jurnalis Al Jazeera, Jonah Hull, melaporkan dari kota Lviv, di Ukraina barat, mengatakan Moskow “belum memberikan petunjuk atau indikasi apa pun” bahwa pihaknya bermaksud untuk mundur dari tuntutan utamanya. Namun, tuntutan utama Rusia tersebut diduga soal senjata nuklir peninggalan Uni Soviet.

“Tuntutan ini termasuk netralitas Ukraina dan jaminan bahwa mereka tidak akan pernah bergabung dengan NATO dan juga Kyiv mengakui kemerdekaan yang dideklarasikan Republik Rakyat Donetsk (DPR) dan Luhansk," jelas Hull dalam laporannya kepada Al Jazeera.

"Ukraina juga harus menerima (mengakui) bahwa Krimea secara resmi adalah bagian dari Rusia setelah dianeksasi [oleh Moskow] pada tahun 2014, walaupun sebagian besar dunia tidak mengakui itu."

Delegasi atau negosiator Rusia (kiri) dan negosiator Ukraina (kanan) melakukan pertemuan pertama di perbatasan Ukraina-Belarus pada 28 Februari 2022 lalu.
Delegasi atau negosiator Rusia (kiri) dan negosiator Ukraina (kanan) melakukan pertemuan pertama di perbatasan Ukraina-Belarus pada 28 Februari 2022 lalu. (Sergei Kholodilin/Belta/Handout via Reuters via Aljazeera)

Salah Satu Delegasi ( Negosiator) Ukraina Ditembak Mati Petugas 

Kabar terkini, Denis Kireev, salah satu anggota delegasi Ukraina yang ikut melawat ke Gomel, Belarusia, untuk berunding dengan Rusia dikabarkan telah ditembak mati.

Denis Kireev, seorang mantan wakil ketua Oschadbank Ukraina, dilaporkan dibunuh oleh Dinas Keamanan Ukraina (SBU), lembaga negara yang bertugas di ranah kontra-intelejen dan kontra-terorisme.

Media Ukraina, Ukrainska Pravda, mengaku mendapatkan informasi tersebut dari sumber yang berada di lingkar dalam pemerintahan. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Ukraina.

“Menurut sumber di lingkaran politik, Dinas Keamanan punya bukti jelas pengkhianatan Denis Kireev, termasuk percakapan telepon,” demikian tulis Ukrainska Pravda, Sabtu (5/3/2022).

Kireev dilaporkan ditembak mati ketika melawan saat hendak ditangkap SBU. Belum diketahui tanggal kematian delegasi Ukraina tersebut. Sumber Ukrainska Pravda sebatas mengatakan “dia sudah mati.”

Denis Kireev ikut dalam delegasi Ukraina yang melakukan perundingan pertama dengan Rusia di Gomel, Belarusia pada Senin (28/2/2022) lalu.

Kabar kematian Kireev juga diwartakan oleh kantor berita Rusia, RIA Novosti.

Melalui kanal Telegramnya, RIA mengaku mendapatkan informasi dari salah satu deputi Rada (parlemen) Ukraina.

Sejauh ini, perundingan Rusia-Ukraina sendiri telah berlangsung dua kali.

Perundingan kedua ini digelar pada Kamis (3/3/2022) kemarin di dekat perbatasan Belarusia-Polandia.

Namun lagi-lagi tidak ada kesepakatan final yang dicapai dari dua sesi perundingan.

Hasil perundingan kedua ini, masing-masing pihak sebatas menyepakati gencatan senjata sementara untuk mengevakuasi warga sipil dari sejumlah kota.

Di sisi lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy meluapkan amarahnya dengan mengkritik NATO karena menolak untuk memberlakukan zona larangan terbang di atas Ukraina.

Zelenskyy juga mengatakan bahwa dengan menolak untuk memberlakukan zona larangan terbang, ia menganggap NATO telah memberikan lampu hijau untuk pemboman kota-kota dan desa-desa Ukraina.

Sebelumnya, pada Jumat (4/3/2022) kemarin, NATO menolak untuk memberlakukan zona larangan terbang di Ukraina karena hal itu dapat memicu perang yang meluas di Eropa dengan Rusia yang bersenjata nuklir.

Melalui Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg menyatakan bahwa upaya zona larangan terbang itu bukan menjadi pilihan yang dipertimbangkan oleh aliansi.

"Kami sepakat bahwa pesawat NATO tidak boleh beroperasi di wilayah udara Ukraina atau pasukan NATO berada di Ukraina," kata Jens.

Jika zona larangan itu diberlakukan NATO di Ukraina, maka pesawat Rusia tak boleh terbang dan bisa mencegah penyerangan udara terhadap Ukraina. Mau tidak mau, NATO harus mengerahkan kekuatan militer di Ukraina. Di mana jika pesawat Rusia terbang di zona tersebut, maka pasukan NATO harus bertindak atas pesawat itu. Tindakan itu termasuk melakukan penembakan terhadap pesawat yang berada di langit.

Jika upaya itu dilakukan, maka Rusia dapat menanggapi upaya itu sebagai sirene dimulainya perang dengan NATO. Tetu NATO masih berpikir terlibat mengingat Rusia memiliki kekuatan nuklir.

Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin sudah terang-terangan memperingatkan NATO agar tidak terlibat dalam urusan Ukraina. Menurutnya, keterlibatan NATO dalam invasi tersebut dapat berisiko lebih dahsyat lagi yang belum pernah terjadi di sebelumnya, yaitu penggunaan senjata nuklir.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy berpakaian militer dan maju ke medan perang di negaranya.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy berpakaian militer dan maju ke medan perang. (Duvan Marquez)

Pasukan Khsusu Rusia Gagal Membunuh Presiden Ukraina

Semetara, unit pasukan khusus elit yang dikirim Rusia untuk membunuh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky berhasil 'dihancurkan' oleh pasukan Ukraina. Namun, keberhasilan pasukan Ukraina 'menghancurkan' kelompok elit tersebut karena petunjuk dari dinas keamanan Rusia sendiri.

Berbicara di saluran TV berita Ukraina "Ukraine 24," Oleksiy Danilov, sekretaris Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina, mengklaim bahwa para pejabat telah diberitahu oleh Layanan Keamanan Federal Rusia (FSB) bahwa tim pembunuh dari kelompok Kadyrovtsy telah telah dikirim ke Kiev, melansir Daily Star, Kamis (3/3/2022).

Dia mengulangi klaim itu dalam sebuah posting Telegram pada hari Selasa, dengan mengatakan: "Kami sangat menyadari operasi khusus yang akan dilakukan langsung oleh Kadyrovites untuk melenyapkan presiden kami".

“Saya dapat mengatakan bahwa kami telah menerima informasi dari FSB, yang hari ini tidak ingin ambil bagian dalam perang berdarah ini."

"Saya dapat mengatakan bahwa kelompok elit Kadyrov dihancurkan secara langsung, yang datang ke sini untuk melenyapkan presiden kita," tambahnya.

Kadyrovtsy, atau Kadyrovites, adalah milisi bersenjata kejam yang awalnya terkenal berjuang untuk Chechnya melawan Rusia pada awal 1990-an.

Ketika pemimpin mereka, panglima perang Chechnya Akhmad Kadyrov, membelot ke Rusia, sebagian besar pengikutnya pergi bersamanya.

Angka pasti untuk ukuran Kadyrov sulit didapat, dengan perkiraan berkisar antara 10.000 hingga 80.000.

Pada tahun 2006 kelompok tersebut telah menjadi unit semi-formal tentara Rusia.

Kelompok itu melakukan misi mematikan di Suriah serta Chechnya.

Saat beroperasi di bawah perintah Rusia, mereka juga dipandang sebagai "tentara pribadi" Ramzan Kadyrov, yang mengambil alih sebagai pemimpin setelah kematian ayahnya dalam pengeboman stadion Grozny tahun 2004.

Kadyrov telah dicap sebagai "penjahat perang" oleh kelompok hak asasi manusia atas tindakan kejam Kadyrovites.

Kelompok ini telah terlibat dalam puluhan kasus penculikan, penyiksaan, pemerkosaan, dan pembunuhan. Dalam salah satu contoh, anggota pengawal pribadi Kadyrov membunuh seorang gerilyawan Chechnya, memenggal kepalanya dan memasang kepalanya di pipa logam, serta merekam adegan brutal tersebut dalam video.

Mantan Perdana Menteri Chechnya Beslan Gantamirov yang menuduh kelompok itu "penculik dan pembunuh bahkan karyawan FSB," mengatakan mereka bertanggung jawab atas "gangsterisme di wilayah seluruh Kaukasus Utara".

Detasemen Kadyrovtsy yang dikirim ke Ukraina selama akhir pekan dicegat setelah pasukan Ukraina menerima petunjuk dan “dihancurkan di dekat kota Gostomel di barat laut Kyiv.

Sementara itu, pasukan Rusia terus membuat kemajuan lambat tapi pasti dalam invasi mereka ke Ukraina.

Sebuah laporan yang masih diperdebatkan mengatakan mereka telah berhasil merebut kota Kherson di Laut Hitam di Ukraina selatan.

(*/tribun-medan.com/ kompas tv/aljazeera)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved