Tulang Belakang Anaknya Bengkok 40 Derajat, Ayah Ini Kesal Banyak Siswa Harus Bawa Tas Sekolah Berat

Seorang siswa harus menjalani operasi baru-baru ini untuk memperbaiki tulang punggungnya yang bengkok 40 derajat.

Penulis: Liska Rahayu | Editor: Liska Rahayu
freemalaysiatoday
Tulang Belakang Anaknya Bengkok 40 Derajat, Ayah Ini Kesal Banyak Siswa Harus Bawa Tas Sekolah Berat 

TRIBUN-MEDAN.com - Seorang siswa harus menjalani operasi baru-baru ini untuk memperbaiki tulang punggungnya yang bengkok 40 derajat.

Ia mengalami hal tersebut lantaran kebiasaan membawa tas sekolah yang berat setiap tahun.

Melansir dari Freemalayasiatoday, ayah Nurul Hanim Fazwin (17) Mohd Zaqrul Razmal Mohd Podzi yang juga seorang dokter anak, yakin rutinitas membawa tas sekolah yang berat selama bertahun-tahun tidak hanya berdampak pada putrinya, tetapi juga banyak siswa sekolah.

Pasca operasi, Nurul Hanim yang sebelumnya aktif berolahraga harus menjalani karantina di "ruangan dingin" di rumahnya.

Ia tidak bisa berkeringat sama sekali dan harus tinggal di ruangan dengan suhu 16 derajat Celcius siang malam selama 21 hari.

“(Setelah ini) Saya tidak bisa membawa tas berat. Tidak bisa banyak jalan, tidak bisa olahraga, tidak bisa turun (naik) tangga,” kata Hanim mengacu pada saran dokter bedah tersebut.

Dia akan mengikuti ujian SPM pada akhir tahun ini, namun masa depan sekolahnya masih belum pasti.

Meski sudah menyerahkan surat dokter ke sekolah, ayahnya masih menunggu persetujuan kepala sekolah untuk memastikan kelas anaknya dipindahkan ke lantai satu.

Tulang Belakang Anaknya Bengkok 40 Derajat, Ayah Ini Kesal Banyak Siswa Harus Bawa Tas Sekolah Berat
Foto sinar-x Nurul Hanim Fazwin menunjukkan keadaan tulang belakangnya yang bengkok (freemalaysiatoday)

Tanpa persetujuan itu, Hanim harus pergi ke kelas aslinya di lantai tiga yang akan membuatnya menghadapi berbagai risiko lagi.

“Mau dapat kerjasama sekolah pun juga masalah. Karena semua kelas tingkatan 5 ada di lantai atas. Kalau mau minta turun ke lantai bawah, entahlah. Kami sudah memberikan surat, mereka meminta orangtua saya untuk menulis surat mengapa perlu minta turun ke bawah.”

“Hal ini tergantung pada manajemen sekolah. Itu tergantung kebijaksanaan guru,” ujarnya dengan nada menyesal.

Zaqrul adalah dokter pediatri di Mawar Medical Center, Seremban.

Di awal wawancara, dia mengakui penelitian sebelumnya tidak menghasilkan bukti konklusif bahwa masalah membawa tas berat adalah satu-satunya faktor yang berkontribusi terhadap masalah tulang belakang dan pertumbuhan anak-anak dan remaja seperti putrinya.

Baca juga: Mengenal Tentang Spinal Cord Injury atau Cedera Saraf Tulang Belakang yang Diderita Laura Anna

Baca juga: Setelah Alami Step, Aurora Alami Radang Otak dan Hidup Tanpa Sumsum Tulang Belakang

Namun memeriksa rutinitas harian Hanim dan berdasarkan percakapan dengan dokter lain, serta kondisi yang terlihat di bangsal anak-anak rumah sakit tertentu, hubungan antara tas sekolah yang berat dan masalah kesehatan anak tidak dapat dikesampingkan.

Zaqrul juga tak mau menutup mata atas situasi yang dilihatnya di bangsal anak di University of Malaya Medical Center (UMMC).

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved